
"Kenapa aku dibawa kemari?" tanyaku heran yang tiba-tiba berada di pasar malam.
**beberapa jam yang lalu saat makan siang.
Setelah Eggy selesai makan siang di meja yang sama denganku, aku masih memasang wajah yang masam di depannya. Memang tidak baik jika memasang raut wajah yang tidak enak dipandang sepertiku saat ini.
Lalu setelah ia selesai makan siang, ia memanggil salah satu pelayan disana untuk menyanyakan tagihannya.
"Berapa bill nya?" tanya Eggy.
Pelayan itu memperlihatkan selembar kertas yang cukup panjang kepada Eggy. Luar biasa, total harga yang kulihat dengan sekilas menunjukkan angka nominal yang cukup tinggi. Seleranya memang benar-benar mahal.
"Ini uangnya. Lalu kembaliannya kau ambil saja!" kata Eggy sambil memberikan semua uangnya. Tidak semuanya sampai kosong sih. Hanya saja separuh uang dari dompetnya yang ia berikan kepada pelayan itu.
"Orang sombong!" ujarku perlahan sambil memalingkan pandanganku ke arah lain.
"Seringkali kau harus bersedekah!" sahut Eggy sambil merapikan jas dan kemejanya.
"Apa aku berkata sesuatu?" tanyaku berpura-pura tidak tahu.
"Matamu lah yang berbicara!" jawabnya singkat.
"Omong kosong. Mata tidak bisa berbicara. Sekolah di mana kau?"
"Sekarang ayo ikut aku!" ajaknya sambil menarik tangan kananku.
"Hey! Aku mau di bawa kemana?" tanyaku sambil menarik kembali tanganku dari genggamannya.
"Diamlah!" sahutnya singkat.
Dengan terpaksa aku menurut pada apa yang sudah menjadi kehendaknya. Entah kemana aku akan dibawa pergi olehnya.
Ia menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Masuk!" perintahnya.
Enak saja dia berani menyuruhku. Memangnya apa hak dia? Hanya suami kontrak di atas materai 9.000. Yang satu 6.000 dan yang satunya lagi 3.000. Apa bedanya coba?
"Baiklah!" kataku lemas sambil masuk ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan, aku hanya diam sambil memikirkan tentang Raihan. Aku pun ingat. Bahwa aku belum membalas pesan terakhir darinya.
Aku pun segera membuka tasku dan mencari-cari ponselku. Karena aku terlalu sibuk dengan kekesalanku kepada Raihan dan Eggy, aku sampai melupakan ponsel yang teramat berharga bagiku.
"Duh, mana ya?" gumamku bertanya-tanya yang masih mencari-cari.
"Cari ini?" tanya Eggy sambil memperlihatkan ponselku.
"K-kenapa ponselku ada padamu?" tanyaku sewot.
"Daripada terbuang?" sahutnya.
"Siapa yang akan membuang sebuah ponsel? Memangnya aku adalah kau yang selalu menghambur-hamburkan uang demi hal yang konyol?" kataku dengan kasar.
"Apakah dia tahu tentang aku yang sering mengirimnya sebuah kertas?" ucap Eggy dalam hati sambil sesekali menatap ke arahku.
"Apa yang kau lihat? Apa kau mulai menyukaiku sekarang? Hah?" tanyaku yang spontan mengeluarkan kalimat bodoh seperti itu.
"Aku menyukaimu!" jawab Eggy tanpa beban.
Aku terkejut mendengar Eggy mengaku bahwa dirinya memang menyukaiku. Lalu kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini? Kenapa aku sekarang menjadi gugup berada di dekatnya? Apa aku juga menyukainya?
Tidak. Aku masih setia dengan cintaku kepada Raihan. Aku tidak bisa begini kepada seseorang yang sudah rela berkorban untukku.
"Omong kosong apalagi ini? Bukannya kau hanya inginkan tubuhku saja demi hasratmu?" makiku dengan kasar terhadap Eggy.
Namun Eggy tetap bersikap santai dan tenang ketika aku terus memarahinya. Hal itu membuatku merasa bersalah padanya, namun sekilas hal itu pun membuat perasaanku merasa puas dan senang.
"Aku menyukaimu jika kamu terus marah-marah seperti itu," sahut Eggy.
Lalu aku dikejutkan dengan mobil yang ia rem secara mendadak. Membuatku sedikit terpental ke arah depan dan murkaku mulai keluar untuk semakin membencinya.
"Kamu gila? Kenapa mendadak berhenti seperti itu?" kataku marah-marah.
"Aku lebih suka wanita yang suka berontak!" sahut Eggy sambil menatap ke arahku dan memegang pipiku. Seakan ia ingin merayuku.
"Tunggu! K-kau tadi akan mengajakku ke mana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan untuk menghindari situasi yang tidak menyenangkan ini.
Eggy membuang napasnya dengan kasar. Kemudian Eggy kembali memalingkan pandangannya ke arah jalan dan langsung menjalankan kembali mobilnya.
Tak lama kemudian, beberapa menit dalam perjalanan, kami pun sampai pada tujuan kami. Ternyata aku di ajak ke Taman Kota oleh Eggy. Kenapa dia membawaku kemari? Hal aneh kembali terjadi mendatangi pikirannya.
"Apakah Eggy seromantis itu?" pikirku dalam bathin sambil melihat ke arah sekitar taman kota yang dipenuhi oleh para pasangan yang sungguhan. Kami tidak sungguhan, kami hanya pasangan kontrak.
Hal yang paling mengherankan adalah aku dan dia hanya melewati Taman Kota saja tanpa duduk atau melihat-lihat pemandangan disana. Benar-benar sulit di tebak. aku berpikir Eggy akan menghabiskan waktu di taman kota bersamaku, tapi nyatanya tidak. Kami hanya lewat.
"Kok hanya lewat?" tanyaku heran. Ia tidak menjawab dan terus menarik tanganku untuk mengikutinya.
"Ikuti saja!" tegasnya.
"Pria yang aneh. Benar-benar sulit ditebak. Jika saja aku berani, aku akan segera mencekiknya. Namun aku tak bisa. Sayang sekali."
Aku tak banyak bertanya lagi. Aku hanya terus mengikuti apa yang di ucapkannya. Lalu setelah kami terus berjalan tanpa henti, kamipun berhenti disebuah tempat yang tidak begitu ramai. Namun terlihat jelas bahwa di sana ada banyak orang bergaya seperti layaknya orang kaya.