The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Berbicara



Terlihat mereka sedang duduk saling berhadapan. Eggy dan Fadhla sama-sama sedang mengompres lukanya dengan es batu dan di lakukan oleh mereka pribadi. Bulan hanya memijat keningnya perlahan. Dia merasa sangat pusing dan wajahnya pun sangat pucat.


"Apa yang kalian lakukan? Saling berkelahi antar kskak dan adik? Itu tidak akan membantu dalam menyelesaikan masalah," kata Bulan.


"Bulan, maafkan aku," kata Eggy.


"Maaf untuk apa?" tanya Bulan.


"Aku tidak ada saat kamu membutuhkanku. Aku sangat menyesal di hari itu. Maafkan aku," sahut Eggy.


"Sudahlah, Kak. Aku tidak ingin membahas hal itu. Aku sedang tidak ingin membahasnya. Tidak ingin," kata Bulan. Dia pun menarik napasnya.


"Kejadian begini, malah baru menyesali," umpat Fadhla dengan kesal.


"Bagaimana aku menebusnya?" tanya Eggy.


"Aku ingin calon bayiku kembali," jawabnya seraya mata berkaca-kaca.


"Kita akan dering membuatnya," kata Eggy.


Sontak Bulan dan Fadhla menengok ke arah Eggy. Mereka berdua terkejut dengan apa yang sudah di katakan oleh Eggy. Memangnya membuat anak seperti berternak ayam, terus dikasih makan akan cepat bertelur?


"Apa yang Kakak bilang?" tanya Bulan lemas.


"Kamu gila, ya? Sering membuatnya, dasar! Baru tahu kamu gila akan hal itu. Hyper akan hal itu," sahut Fadhla.


"Hanya bercanda," jawab Eggy.


"Maafkan aku, Kak. Aku telah menghilangkan anak kita. Anak kita meninggal gara-gara aku. Aku yang tidak bisa menjaganya dengan baik," kata Bulan sambil menangis di hadapan mereka.


Eggy mendekati Bulan. Dia memeluknya untuk menenangkan perasaan Bulan.


"Ssstt. Jangan banyak bicara lagi. Sudah. Kita ikhlaskan saja anak kita. Ini bukan rejeki kita. Ini adalah suatu peringatan untukku, agar aku selalu berada di dekatmu, Bulan," kata Eggy.


Fadhla yang melihat kejadian itu, hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Dia merasa sangat cemburu melihat kemesraan yang ada di depannya itu. Walaupun dia tahu bahwa Bulan masih status istrinya, tetapi dia benar-benar merasa cemburu melihatnya begitu. Kemudian Fadhla langsung pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar tamu. Di sana, dia memukul dinding dengan keras sebagai tanda meluapnya emosi dalam dirinya. Kemudian setelah jemarinya terdapat luka darah dan lecet, dia pun langsung duduk di ranjang dan mengepal kedua tangannya sambil mengingat kemesraan mereka.


Di balik itu, Eggy membawa Bulan ke kamarnya. Kemudian, di dalam kamar Eggy mulai mencumbu Bulan. Dia mengecup dan mencium Bulan. Tak hanya itu saja. Dia pun memeluk Bulan. Mereka berdua saling berbaring di ranjang dan saling berpelukan satu sama lain. Eggy tak melakukan hal lebih kepada Bulan selain menciumnya. Dia tidak ingin melakukan hal yang sering dia sebut sebagai surga dunianya. Apalagi setelah Bulan kehilangan bayinya. Dia hanya ingin menenangkan Bulan dengan mencium dan memeluknya saja. Tidak lebih dari itu.


"Maafkan aku, Kak."


"Sudah. Tidak apa-apa. Aku tahu ini sangatlah berat. Memang berat. Namun harus bagaimana lagi? Kita memang harus menerimanya, bukan?" tanya Eggy mencoba ikhlas.


"Aku terlalu kelelahan dan stres, Kak. maka dari itu aku kehilangannya, Kak. Jika saja aku tidak merasa lelah dan stres, semua ini tidak akan terjadi. Ditambah dengan kondisi kandunganku yang sangat lemah. Ini pemicu kehilangan anak kita, Kak," kata Bulan.


"Aku tidak bisa."


"Apa ssat ini kamu baik-baik saja, Bulan? Kamu sudah agak membaik, 'kan?" tanya Eggy kepada Bulan sambil mengelus wajah Bulan.


"Seperti yang Kakak lihat, Kak. Aku sedikit membaik. Namun aku tidak dapat memungkiri bahwa aku memang tidak bisa lupa," jawab Bulan apa adanya kepada Eggy.


"Maafkan aku Bulan. Aku menyesal."


"Tidak apa, Kak. Aku tahu."


"Aku mencintaimu, Bulan." Eggy pun mencium keningnya.


"Lalu bagaimana dengan keadaanku sekarang, Kak?"


"Keadaan apa? Bukankah kamu bilang kamu agak membaik?" tanya Eggy kebingungan.


"Bukan itu. Ini tentang aku dan Fadhla," jawab Bulan.


"Kamu bisa bercerai dengannya. Sudah tidak alasan lagi mengenai status pernikahanmu dengan dia," jawab Eggy.


"Tapi.... "


"Tapi?"


"Tapi bagaimana jika aku kembali mengandung anak Kakak kelak?" tanya Bulan kepada Eggy.


Eggy pun terdiam mendengar pertanyaan itu darinya. Hal itu membuat Eggy merasa sangat bingung dan harus berbuat apa untuk melanjutkan hubungsn Bulan dan Fadhla. Keputusan ini sangatlah sulit. Satu titik ingin memisahkan adiknya dengan istrinya dan di satu titik dia ingin memiliki anak dari Bulan. Namun Eggy pun harus tetap menyembunyikan identitas yang asli dari hubungan dia dengan Bulan. Publik sudah tahu mereka berdua bercerai, jika sampai tahu, berakhir sudah karir dari Eggy. Dan Eggy tidak ingin mengambil resiko yang sangat besar itu untuk masa depannya.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)


Terima kasih, semuanya. :*