The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
EPISODE 119



Sesampainya di pasar malam, Bulan dan Eggy duduk di meja makan dan memesan sebuah nasi goreng sebagai makan malam mereka. Walau terlihat sederhana, tetapi nasi goreng adalah salah satu makanan yang menjadi makanan favorit untuk mereka berdua.


"Bagaimana rencanamu, Kak?" tanya Bulan kepada Eggy.


"Rencana apa?" tanyanya balik.


"Pernikahanmu dengan wanita itu. Aku tidak tahu namanya. Memang siapa yang akan menikah denganmu, Kak?" Bulan mulai penasaran.


"Namanya Nadin," jawab Eggy dengan malas.


"Nadin?"


"Ya. Aku sendiri belum bertemu dengannya. Mungkin saat pertunangan minggu depan, aku akan tahu sosok wanita yang bernama Nadin itu."


"Benarkah?"


"Ya. Memangnya kenapa?"


"Tidak terasa bahwa pertunangannya begitu cepat," kata Bulan terkekeh. Sebenarnya, mendengar kenyataan dari mulut Eggy, membuat Bulan sangat patah hati. Rasanya ingin segera pergi dan hari-hari ingin cepat berlalu. Namun tak ada pilihan lain, selain menerima dan menjalani semua. Bagaimana pun, ini sudah terjadi.


"Memang cepat. Padahal perceraian kita baru saja kemarin. Tapi aku harus melakukan pernikahan lain."


"Apa kamu merasa bahwa kamu tidak adil?" tanya Bulan.


"Tidak adil? Mungkin, iya. Aku meninggalkanmu. Aku minta maaf."


"Ini bukan salahmu. Walaupun sebenarnya kita tidak bercerai pun, nanti akan tetap bercerai karena surat perjanjian yang dulu pernah aku sepakati denganmu. Walau aku tidak begitu ingat isiannya, tetapi aku paham dengan perjanjian itu," jelas Bulan.


"Bulan. Sudahlah. Jangan ingat-ingat masa lalu. Kita lihat saja hidup kita ke depannya bagaimana."


"Hidupku di masa depan sudah tidak ada harapan, Kak. Kamu menikah lagi, aku akan di duakan olehmu. Entah bagaimana aku akan menjalani kehidupan ini selanjutnya," Bulan terkekeh dengan miris saat mengatakan hal itu.


"Maafkan aku, Bulan."


"Itu bukan salahmu. Ini sudah kita bersua janjikan dan rencanakan. Kita sudah memilih, Kak. Dan memilih untuk menjalani hidup penuh dengan sandiwara. Benar, bukan?" tanya Bulan.


"Sekali lagi aku minta maaf, Bulan."


"Sudahlah, Kak. Jangan terus meminta maaf."


Tak lama kemudian, makanan pun tiba di meja dan disajikan kepada Bulan dan juga Eggy.


"Ini pesanannya. Silakan."


"Terima kasih, Pak."


"Ayo sebaiknya kita makan dulu. Nanti kita lanjut percakapan lain di rumah," kata Eggy.


"Apa kakak akan pulang ke rumah bersamaku?"


"Iya. Untuk malam ini."


"Tidur bersamaku?" tanya Bulan.


"Mm ... jika kamu mengizinkan, iya," jawab Eggy.


"Baiklah, Kak. Pulang saja ke rumah."


"Rumah siapa?" tanyanya.


"Maunya kakak rumah siapa, hayo?"goda Bulan.


"Kamu maunya aku pulang ke mana?" goda balik Eggy kepada Bulan.


"Ih, malah balik tanya kakak mah," kata Bulan malu-malu.


"Kakak pun."


"Ayo makan, Bulan, nasi gorengnya. Nanti keburu dingin."


"Iya, Kak. Aku akan makan." Bulan mulai mengambil makananbtersebut dengan sendok, kemudian dia pun langsung menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.


Sesekali Bulan saling menatap dengan Eggy dan melempar sebuah senyuman. Tak lama setelah itu, mereka pun selesai makan dan mulai bergegas pergi dari sana.


"Habis ini mau ke mana?" tanya Eggy.


"Sebaiknya pulang saja. Karena aku tidak ingin berlama-lama berada di luar. Aku merasa kurang enak badan," jawab Bulan.


"Apa kamu sakit?"


"Tidak, Kak. Hanya merasa tidak enak badan saja."


"Baiklah. Kita pulang saja, kalau begitu."


Bulan dan Eggy pun beranjak pergi dari sana.


Di tengah perjalanan, Bulan masih merasa tidak enak jika Eggy pulang ke rumah bersamanya. Apalagi dia akan menginap di sana.


"Kak, apakah benar kakak akan menginap di rumahku?" tanya Bulan memastikan.


"Iya. Kenapa, Bulan? Bolehkah?"


"Gimana, ya? Apa itu akan baik-baik saja, Kak?"


"Memangnya kenapa?"


"Tidak, kak. Hanya saja akan terasa aneh jika masih satu rumah setelah perceraian palsu yang kita lakukan pada hari kemarin."


"Untuk hari ini saja, Bulan."


"Hanya hari ini?"


"Ya."


"Mm ... baiklah. Hanya hari ini. Aku tidak ingin ada yang melihat bahwa kita bersama, Kak. Nanti akan terlihat sangat buruk. Apalagi jika itu terjadi akan menjadi sebuah masalah besar."


"Aku tahu, Bulan. Maka dari itu aku juga sangat berhati-hati."


"Baiklah. Kali ini saja."


"Iya."


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update sehari 2x. Terima kasih sebelumnya, readers.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun ******* @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema' di *******. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback).


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah.


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga.


Terima kasih, semuanya. :*