
Waktu telah berlalu. Semua orang yang menjengukku telah pergi, kini hanya ada aku dan Eggy di sana. Sejenak kami tetap saling diam satu sama lain, seperti kembali ke masa lalu di mana disaat kami tidak saling mengenal satu sama lain. Namun aku masih tetap tidak mengingatnya walau dengan menatapnya lebih lama.
Terlihat Eggy membereskan semua bingkisan yang ada di ruanganku. Lalu ia pun mencoba untuk mengajakku berbicara kembali.
"Apa kau ingin membuka semua bingkisannya?" tanya Eggy.
Sejenak aku masih terdiam. "Jadi benar aku ini memang istrimu?" tanyaku.
"Ya. Benar. Kau memang istriku, Bulan," jawabnya.
"Berapa lama kita menikah?" tanyaku.
"2,5 tahun lamanya," jawab Eggy.
"Apa? Selama itu?" tanyaku terkejut seraya mata yang masih berkaca-kaca, menahan tangisanku.
Aku memegang kepalaku dan aku pun mulai mencoba untuk berpikir dan mengingat kembali. Namun tetap saja aku tak dapat mengingatnya, malah membuatku merasa sakit kepala.
Eggy segera mendekatiku. Ia pun langsung memegang tanganku yang sedari tadi terus bergetar.
Aku mulai penasaran dengan kehidupanku bersama Eggy selama ini. Yang aku ingat hanya kebersamaanku dengan Raihan. Tak ada lagi yang lainnya.
"Jangan khawatir, aku tidak mengigitmu," sahut Eggy.
Aku tersenyum paksa padanya, karena perasaan canggung ini masih tetap ada dalam diriku. Lalu, karena ada banyak pertanyaan yang memenuhi pikiranku, aku pun memberanikan diri untuk bertanya beberapa pertanyaan padanya.
"Apa selama kita menikah, kita sering melakukan hal itu?" tanyaku ragu-ragu.
Eggy menahan tawanya. "Seharusnya kau tahu jawabannya," jawab Eggy.
"Ah, kau b-benar. Aku dan kau pasti ...." Aku tak bisa berpikir dengan jernih. Aku ingin ingat semuanya, namun aku tak bisa.
"Pasti?" Eggy memotong kalimatnya.
"Mm ... Lupakan. Lalu apakah kita mempunyai seorang anak? Mm ... Maksudku, aku benar-benar melupakan semuanya."
"Apa kau ingin mempunyai anak dariku?" tanya Eggy.
"A-apa? Jadi kita belum punya anak ya!" jawabku malu, pipiku mulai memedah dengan pembahasan itu.
"Apa kau kecewa?" tanya Eggy.
"Kecewa? Kenapa harus kecewa?"
"Karena tidak ada anak di antara kita."
"Tidak. Bukan begitu. Kupikir aku belum siap," jawabku.
Eggy terkekeh. "Kau masih tetap sama, Bee."
Mendengar panggilan nama 'Bee' membuat ingatanku terlintas ketika berada di sebuah acara pesta. Samar-samar aku pun melihat wajah Eggy menatapku pada saat itu, dan aku pun tertawa dihadapannya.
"Aaah ...," rintihku merasa kesakitan dibagian kepalaku. Spontan aku memegang kepalaku yang berusaha mengingatnya kembali.
"Kau kenapa?" tanya Eggy cemas seraya memagang pundakku.
"Tidak. Aku baik-baik saja," jawabku, "kau duduk saja," lanjutku.
"Jangan buatku khawatir lagi!" ujar Eggy.
"Maafkan aku," sahutku.
Kemudian Eggy langsung memelukku dengan erat, seakan ia tidak ingin jauh-jauh dariku. Pelukan ini terasa sangat nyaman, apakah aku memang sudah tidak mencintai Raihan? Mengapa aku bisa memilih pria lain untuk menjadi suamiku? Hal itu masih bertanya-tanya.
"Aku hanya dapat melihatmu. Namun aku tidak mengingatmu."
"Tidak apa-apa. Lambat laun kau akan segera mengingatnya."
Tak lama setelah itu, tiba-tiba ada telepon masuk ke ponselnya. Ponselnya pun berdering.
Tneng.... Tneng.... Tneng....
Segera Eggy melepaskan pelukkannya ketika mendengar suara nada dering di ponselnya.
"Aku akan angkat teleponnya," ucap Eggy. Aku hanya menganggukkan kepalaku saja, memberi isyarat bahwa aku mengatakan 'Ya' padanya.
Eggy pun pergi keluar ruangan dan ia menjawab panggilannya.
"Hallo, Irani. Ada apa?" tanya Eggy.
"Maaf telah menganggu. Tetapi apakah anda ingat bahwa hari ini anda ada rapat di kantor?"
"Oh, Shit. Aku benar-benar lupa akan hal itu, karena insiden ini."
"Sebaiknya anda segera ke kantor."
"Tolonglah, Irani. Jangan formal seperti itu. Itu membuatku tidak nyaman," kata Eggy.
"Baiklah, Eggy. Cepat datang ke kantor ya!" sahut Irani.
"Terima kasih."
"Sama-sam ...."
Tut... Tut... Tut... Tut...
Belum sempat menyelesaikan bicaranya, Eggy malah menutup teleponnya. "Ma," lanjut Irani.
Membuat Irani merasa kesal akan hal itu.
"Kebiasaan deh. Belum aja selesai bicara, udh main tutup telepon aja. Setidaknya dengarkan dulu atau pamit dulu gitu. Boss yang luar biasa," gerutu Irani.
Terlihat Eggy berjalan, kembali masuk ke dalm ruangan istrinya. Ia tersenyum padaku. Entah kenapa aku merasa aku sangat menyukainya ketika ia sedang tersenyum. Apa aku mulai menerima kenyataan bahwa dia adalah suamiku?
"Aku akan pergi!" kata Eggy.
"Kemana?" tanyaku.
"Di kantor ada rapat. Aku harus hadir disana, karena aku atasan mereka," jawab Eggy.
"Oh, begitu ya. Iya pergi saja, aku tidak apa-apa di sini sendirian. Aku akan menunggumu!" ucapku ringan begitu saja, tanpa memikirkan hal apapun.
"Benarkah? Jadi kau akan menungguku?" tanya Eggy.
"Mm ... Maksudku ...," ucapku terpotong.
"Sudahlah. Jangan memaksakan apa pun," lanjut Eggy yang memotong kalimatku. "Aku pergi dulu ya. Kau hati-hati di sini. Nanti akan ada nenek yang akan menjagamu," tambahnya seraya mengelus-elus rambutku.
"Iya," sahutku menganggukan kepalaku.
Eggy tersenyum padaku. Sejenak ia menatap wajahku dengan pandangan yang penuh cinta. Aku pun langsung menundukan kepalaku karena aku merasa malu ditatapnya. Ia pun pergi meninggalkanku.
Sepintas aku sering melihat tatapan itu, sepintas pula aku sering merasakan perasaan hal yang berbeda dengannya. Namun entahlah, kali ini mungkin memang aku tak bisa mengingat apa-apa, tapi di kemudian hari aku akan selalu mengingatnya.