
Nampak Bulan sudah merasa sangat tenang, lalu dirinya mulai keluar dari kamar dan melihat ada Eggy dan juga Fadhla sedang duduk saling berhadapan sambil membahas sesuatu. Mereka tidak menyadari bahwa ada Bulan di sana yang memperhatikan mereka berdua. Lalu dia pun langsung menghampiri mereka berdua yang sedang berbincang serius itu.
"Mm, maaf ganggu. Aku ingin di temani pergi ke makan anakku. Aku ingin mendoakannya," ucap Bulan langsung pada intinya.
Sontak Eggy dan Fadhla menengok ke arah Bulan.
"Aku akan menemanimu," sahut Eggy yang langsung berdiri dari duduknya.
"Aku juga. Aku akan ikut bersama kalian berdua," kata Fadhla.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan membersihkan wajahku terlebih dulu, mataku mulai sembab. Mungkin sudah sembab," kata Bulan sambil meraba-raba kedua matanya.
"Mau aku temani mencuci wajah juga?" tawar Eggy kepada Bulan. Seketika Fadhla menyenggol tanganmu. Dia bermaksud untuk mengingatkan Eggy bahwa apa yang sudah di katakannya itu tidaklah baik. Namun memang tak ada salahnya, karena dia memang suaminya. Hanya saja penawaran yang di lakukan oleh Eggy itu tidak tepat pada tempatnya saja.
Bulan menatap sejenak. "Tidak perlu, Kak. Aku sendiri saja. Cukup temani saat ke makam anakku saja," sahutnya.
"Baiklah, Bulan. Silakan gunakan waktumu sebaik mungkin," kata Eggy mempersilakannya.
"Terima kasih, Kak."
Bulan pun langsung kembali menuju kamarnya dan segera ke wastafel untuk sekadar mencuci wajahnya.
"Apa yang harus aku lakukan pada saat ini? Aku tak bisa berpikir dengan tenang ataupun berpikir dengan jernih. Aku benar-benar kesulitan untuk menerima kenyataan ini. Bagaimana aku harus menghadapi mereka berdua? Apakah aku harus memilih merelakan mereka berdua dan lebih baik pergi dari sini, meninggalkan semua kenangan yang ada di sini? Apakah aku harus memilih salah satu di antara mereka? Bagaimana ini Tuhan?" gumam Bulan melihat bayangannya sendiri di dalam cermin sambil berharap ada suatu jawaban yang pasti yang datang padanya. Kemudian setelah selesai melakukannya, dia pun langsung kembali menghampiri mereka berdua.
"Apakah kamu sudah selesai mencuci wajahmu, Bulan?" tanya Fadhla.
"Mau aku ambilkan air? Kamu mau minum?" Tawar eggy, Bulan mengangguk. "Oke, baiklah. Tunggu sebentar, ya. Akan aku ambilkan," tambah Eggy kepada Bulan.
eggy pun mengambil air minum untuk Bulan di dapur. Lalu setelah dia sudah mendapatkan airnya, dia pun langsung memberikannya kepada Bulan.
"Ini minumlah terlebih dulu," kata Eggy sambil memberikan gelas berisi air tersebut.
Bulan mengambilnya. "Terima kasih, Kak."
"Jangan berterima kasih seperti itu. Aku kan suamimu, jadi apa pun yang ku lakukan untukmu adalah suatu kewajiban bagiku," ucap Eggy sambil mengelus pipinya Bulan.
Bulan pun membalasnya dengan senyuman. "Aku menyayangimu, Kak."
"Aku pun sama. Sayang padamu juga. Jangan marah-marah lagi, ya!" ucap Eggy dengan nada yang lembut.
"Iya, Kak." Bulan tersenyum manis padanya.
"Ayo, Bulan kita masuk ke mobil. Langsung pergi untuk mendoakan anak kita," ajak Eggy kepadanya.
"Ayo, Kak," sahut Bulan.
Eggy pun merangkul pundak Bulan. Kemudian Bulan ikut merangkul pinggang Eggy pula. Keadaan situasi yang di alami oleh Eggy dan Bulan, kini sudah agak membaik. Ini bisa menjadi sebuah kesempatan bagus untuk Eggy. Namun tidak bagi Fadhla.
Fadhla yang melihat ke mesraan mereka berdua di hadapannya, mulai merasa cemburu. Seharusnya ini tidak terjadi kepada Fadhla, tetapi setelah mendapatkan status dengan Bulan, dia menjadi lebih sensitif dan sering mudah cemburu. Padahal dirinya tahu bahwa tidak baik jika dia merasa cemburu kepada kakaknya sendiri dan iparnya sendiri. lebih tepatnya, 'Iparku adalah istriku'. Macam judul ftv yang sering tanyang di tv logo ikan itu. Kebetulan sekali sangat menarik. Namun Fadhla pun sadar diri akan posisinya. Dia hanyalah suami pengganti bagi Bulan, karena Bulan tengah mengandung anak Eggy. Tetapi saat ini Bulan sudah kehilangan anaknya. Lalu bagaimana dengan nasib dirinya? Apakah Fadhla harus tetap menceraikan Bulan saat ini juga? Atau kah dirinya akan terus bertahan dengan status suami siri bagi Bulan?
Eggy dan Bulan nampak saling berpegang tangan di dalam mobil. Sesekali mereka berdua saling melempar senyuman dan hal itu membuat Fadhla sangatlah cemburu terhadap pemandangan yang ada di depannya itu. Dalam batinnya, "Dasar bodoh! Harusnya aku tidak satu mobil dengan dia. Dasar! Bodoh, bodoh, bodoh! Aku malah menyaksikan mereka berdua bermesraan di depanku. Sial! Harusnya aku beda mobil saja sejak tadi. Ah, jadi kesal sendiri jadinya."
Fadhla mengepalkan kedua tangannya, guna menahan rasa emosi karena panas api cemburu terhadap mereka berdua. Kemudian Fadhla mengingat sesuatu, bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.
"Oke. Ini salah. Benar-benar salah. Seharusnya aku tidak seperti ini. Seharusnya aku tidak boleh menanam rasa cemburu terhadap Bulan atau pun Eggy. Mereka adalah suami dan istri yang sah di mata hukum. Jadi seharusnya aku tidak merasa cemburu. Ada apa denganku? Apakah aku terlalu membawa hal ini dengan serius, sampai dengan membawanya ke dalam perasaanku?" gumam Fadhla beegulat dengan batinnya sendiri.
Lalu, ada pembahasan lain pun mulai mereka bahas.
"Bulan," panggil Eggy.
"Iya, Kak?" sahut Bulan menengok ke arahnya.
"Bagaimana kejadiannya ketika kamu mengalami keguguran itu?" tanya Eggy penasaran.
"Bagaimana, Kak? Maksudnya bagaimana? Aku tidak begitu memahaminya," jawab Bulan kebingungan.
"Maksudku itu, Apakah hal itu terasa sangat sakit?" tanya Eggy.
"Oh, hal itu. Menurut kakak bagaimana?" Bulan malah bertanya balik.
"Pasti sakit sekali, ya? Kata Fadhla kamu sampai menangis dan tidak bisa apa-apa. Kamu hanya meringkuk menahan sakit yang ada di sana," kata Eggy.
"Ah, iya, Kak. Memang terasa sangatlah sakit. Namun tidak masalah kok, Kak. Aku saat ini baik-baik saja," sahut Bulan tersenyum.
"Hanya aku yang ada di sana, jika tidak ada aku, aku tidak tahu dengan keadaan Bulan Selanjutnya bagaimana. Dia hampir kehabisan darah karena itu," ucap Fadhla yang ikut nimbrung dengan perbincangan mereka berdua. Bulan sekilas menengok ke arah Fadhla. Dia pun tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih, ya, Fadhla. Kamu telah menemaniku di saat waktu aku butuh seseorang," ucap Bulan.
Fadhla tersenyum. Dia merasa sangat senang mendengar kalimat itu dari mulut Bulan. Sontak Fadhla pun mengubah ekspresi wajahnya yang tadinya terlihat marah, kini menjadi lebih tenang dan ceria.
"Sudah menjadi tugas dan kewajibanku juga, Bulan. Kamu tidak perlu merasa khawatir atau merasa bahwa kamu sendirian ketika Eggy tidak ada," ucap Fadhla.
Bulan tersenyum. "Baiklah. Sekali lagi terima kasih."
"Terima kasih juga, Fadhla. Kamu memang adikku yang bisa aku andalkan. Maafkan aku karena aku sering mencuigaimu," sahut Eggy.
"Bukan masalah, Eggy. Kamu tidak perlu meminta maaf. Kita perbaiki semua ini. Jangan ada pertengkaran di antara kita lagi. Ini akan membuat kita kesulitan," ucap Fadhla.
"Ya, Kamu memang benar," ucap Eggy.
"Apakah kita ber tiga akan menjalani kehidupan bersama dengan harmonis? Itu kah yang kalian berdua bahas pada saat ini?" tanya Bulan penasaran.
"Ya," jawab Fadhla. "Memangnya kita sedang membahas apa, menurutmu?" lanjut Fadhla bertanya.
"Ya. Aku ingin tidak ada pertengkaran lagi," sahut Eggy.
"Termasuk rasa cemburu?" tanya Bulan kepada Eggy.
Sejenak dirinya terdiam.
"Ya. Termasuk rasa cemburu. Aku akan berusaha untuk tidak cemburu kepada kalian berdua," jawab Eggy kepada Bulan dan juga Fadhla.
"Cemburu hal wajar, kali," kata Fadhla sambil bersandar ke jok mobil.
"Tidak, tidak. Justru ini wajar," sahut Eggy.
"Lo, kenapa?" tanya Fadhla.
"Karena rasa cemburu di timbulkan kepada adik dan kakak yang sama-sama memiliki seorang wanita yang sama, juga memiliki status yang sama. Namun berbeda pandangan," jelas Eggy.
"Kak...." Bulan memanggilnya.
"Apa, Sayang?" tanya Eggy.
"Jangan bahas itu. Aku merasa akulah yang jadi penyebab hubungan kalian berdua tidak baik," jawab Bulan.
"Bukan, Sayang. Sudahlah. Intinya kita akan hidup seperti ini untuk sementara," kata Eggy menjelaskan.
"Aku tahu, Kak."
"Maafkan aku karena sudah memilih jalan salah ini," ucap Eggy.
"Sudah, jangan di bahas lagi masalah itu. Gak akan ada ujungnya juga, Eggy," kata Fadhla kepada Eggy.
"Iya, Kak. Benar. Tidak ad ujungnya," sahut Bulan ikut menyetujui kalimat Fadhla.
"Baiklah. Lupakan saja kalimat yang tadi. Anggap tidak pernah ter ucapkan," kata Eggy.
Bulan pun tersenyum. Begitu pun dengan Fadhla.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)
Terima kasih, semuanya. :*