The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 101



"Yaudah, minum dulu. Aku tunggu kamu di kamar ya," ucap Eggy padaku.


"Iya, Kak," sahutku merasa tidak enak.


Aku pun meminum air dalam gelas itu secara perlahan sambil berpikir tentang apa yang akan dia lakukan. Sebenarnya aku tidak ingin hal seperti yang terjadi di toilwt itu kembali terjadi lagi. Entah mengapa, tetapi aku merasa sangat malu saja.


Aku berjalan dengan pelan-pelan menuju kamar, lalu aku membuka pintu kamar dan memasuki kamar tersebut.


"Kak," panggilku.


"Kemarilah! Aku akan menunjukkan beberapa foto padamu," kata Eggy.


Syukurlah! Aku disuruh ke kamar hanya untuk melihat suatu gambar saja. Untung bukan hal lain. Aku pun langsung berjalan menghampirinya tanpa rasa ragu dan rasa takut.


"Foto apa, Kak?" tanyaku penasaran.


Eggy memainkan ponselnya, mungkin foto itu ada di dalam ponselnya.


"Kamu ingat, ini adalah foto pernikahan kita waktu lalu. Wajahmu sedikit muram dan kesal, mungkin karena tidak ingin menikah denganku. Aku paham kok. Tetapi pada waktu itu, kamu sangat cantik, Bulan," kata Eggy sambil menunjukkan fotoku.


"Ini aku masih kelihatan remaja banget ya," kataku.


"Karena itu foto tiga tahun lalu."


"Iya, benar juga, Kak."


Eggy slide ke foto yang lain.


"Kalau ini adalah foto saat aku mencium keningmu. Setelah selesai melakukan janji sehidup semati."


"Aku kelihatan sangat takut. Kelihatan sekali itu bahwa momen yang sedang di hadapi adalah momen keterpaksaan."


"Seperti itulah."


"Lalu, mana lagi, Kak?" tanyaku.


"Kamu mau lihat sendiri?" tawarnya.


"Boleh, Kak. Apa tidak masalah?" tanyaku cemas.


"Tidak. Hanya untuk melihat foto masa lalu, bukan suatu masalah kok," jawabnya.


Aku tersenyum. "Baiklah, Kak. Aku pinjam ponsel kakak ya. Mau lihat-lihat."


Eggy pun memberikan ponselnya padaku dan aku langsung melihat satu persatu foto lamaku. Diperhatikan secara saksama, itu sangatlah lucu. Melihat ekspresi yang mengesalkan yang aku perlihatkan saat pada masa pernikahan itu, sangatlah lucu. Aku tersenyum sendiri dan tertawa melihatnya. Antara merasa malu dan ingin menghapus fotonya. Mungkin hal itu bisa disebut aib masa lalu juga.


"Kok bisa-bisanya aku melakukan ini ya, Kak?" tanyaku terheran-heran.


"Karena dulu kamu terpaksa melakukan hal itu, Bulan."


"Hahaha. Benar juga ya, Kakak. Lalu bagaimana perasaan kakak pada saat itu?" tanyaku padanya.


"Aku menikmatinya. Terima atau tidak, aku tidak secemberut wajahmu," sindirnya.


"Tapi itu fakta lho, Sayang."


"Iya, iya. Udah kelihatan kok. Aku emang cemberut. Emang gak suka," kataku mengaku sendiri.


Eggy menggantikan gambar foto itu ke foto yang lain lagi.


"Lihat deh! Apa lagi foto yang ini. Kamu seperti menatapku penuh dendam. Rasanya kamu ingin mengajakku perang," kata Eggy.


"Eh, kata siapa aku akan mengajak Kakak perang? Enak saja," elakku.


"Lihat saja. Itu tatapanmu menyeramkan."


"Yang menyeramkan adalah tatapan Kakak. Aku suka terdiam kaku saat ditatap oleh mata Kakak," ungkaku pada Eggy.


Shit! Aku keceplosan berbicara seperti itu. Seharusnya aku tidak mengatakan apa pun padanya. Namun aku malah mengacaukan hal itu. Sial!


"Mengapa dengan tatapanku?" tanyanya mulai penasaran.


"Tajam Melebihi belati dan samurai," jawabku.


"Hahaha. Belati dan samurai? Kenapa bisa? Memangnya tatapanku mematikan, ya?"


"Bukan mematikan lagi," kataku.


"Jadi, kamu menyukainya?"


"Eh, enggak kok. Enggak suka," elakku malu-malu.


"Masa sih?" Eggy malah sengaja mendekatkan wajahnya ke arahku. Kemudian dia sengaja menatapku dengan tajam, agar dia dapat melihat dengan puas ekspresi yang aku buat padanya.


"Sudah ah, Kak. Aku malu," ujarku sambil menjauhkan wajah Eggy darinya.


"Kenapa? Aku tidak bakalan ngapa-ngapain kok," goda Eggy.


"Gak. mau aja. Jangan tatap lagi, ah," perintahku.


"Baiklah. Aku akan. merem nih!" sahutnya. Eggy benar-benar memejamkan matanya. Aku tersenyum melihat tingkah Eggy.


"Sudah, Kak. Jangan ngelucu mulu, deh."


Eggy membuka matanya kembali, kemudian tersenyum padaku. Tak lama setelah itu, Eggy memegang tanganku dan. kembali menatap serius ke arahku.


"Kak, sudah aku bilang kan ...," kataku menggantung. Karena aku tidak. ingin menjelaskannya lebih jelas lagi.


"Bulan, dengarkan aku! Jika aku melamarmu saat ini, bagaimana?" tanya Eggy tiba-tiba kepadaku. Membuatku terkejut dalam seketika.


Tidak. Bukan secepat ini yang aku harapkan. Namun, aku masih butuh beberapa waktu untuk dapat memutuskan akan melanjutkan hubungan pernikahan ini atau tidak. Bahkan, dia ingin melamarku, di saat dirinya akan menikahi orang lain. Sangat konyol. Walaupun aku tahu bahwa Eggy sangat menyukaiku dan benar-benar sayang padaku, tetapi aku paham bahwa dia melakukan ini secara terpaksa juga.


Benar apa yang dikatakan oleh Eggy. Mungkin menurut Eggy, hal ini adalah karma dariku. Menurutku, ini adalah de javu dengan peran orang yang berbeda. Tak dapat dipungkiri, bahwa Eggy menyadari dan memahami posisiku saat dulu. Kini dirinya merasakan hal itu.