The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 144



Terlihat Adelia sedang memilah-memilih cincin berlian di toko berlian. Dia sangat sibuk dan merasa sangat bingung dengan banyaknya model cincin di sana. Padalnya ada banyak Model cincin yang membuat pandangan Adelia sangat jatuh cinta ke beberapa model cincin berlian di sana. Dia sangat bingung antara memilih ini atau harus memilih itu. Karena harus diakui bahwa semuanya terlihat Sangatlah bagus.  Beberapa kali dirinya bertanya kepada Eggy, tetapi Eggy masih cuek saja.


"Yang ini bagus, gak? Ini polos lho!" kata Adelia kepada Eggy.


"Tsrserah kamu saja," sahut Eggy datar.


"Coba dulu sama jari kamu. Cukup, gak? Kekecilan apa kegedean ini?" tanya Adelia seraya mengambil cincin tersebut dan memasangkannya ke jemari Eggy. Setelah cincin itu dicoba ke jari Eggy,  rupanya cincin tersebut kekecilan.


"Yah. Sayang sekali. Ini kekecilan, Mba. Ada lagi, gak?" tanya Adelia kepada penjaga toko berlian.


"Sebentar, ya, Mba. Saya carikan dulu barangnya. Barang kali masih ada." Penjaga tersebut mencoba mencarinya satu persatu di laci.


"Bisakah kita mempercepat ini, Adelia?" tanya Eggy sangat malas.


Sudah jelas bahwa dirinya tidak ingin menemani Adelia melihat-lihat cincin berlian untuk cincin pertunangan mereka berdua. Eggy pikir bahwa itu tidak ada gunanya sama sekali. Waktu dia terbuang hanya karena menemani Adelia untuk pergi ke sana-kemari dengan alasan persiapan pernikahan dan juga pendekatan antara dia dan dirinya. Memang masuk akal, tetapi rasa tisak suka membuat Eggy enggan bersama Adelia dan bawaan dia terus selalu merasa malas jika berada di dekatnya.


"Kenapa sih dengan kamu? Rasanya kamu selalu keberatan dengan semua permintaanku,"  eluh Adelia kepada Eggy.


"Tidak keberatan. Hanya bosan," elak Eggy. Padahal. pada kenyataannya bukan seperti itu.


"Memang kebiasaan cowok, ya, kalau anter ceweknya tuh suka malesan. Gampang merasa bosan. Kenapa sih? Padahal kan kamu juga bisa melihat-lihat yang lain juga, Eggy. Jangan buat dirimu susah. Tapi buatlah dirimu gampang dan senyaman mungkin di tempat yang kamu rasa kurang nyaman. Begitu lho," jelas Adelia kepada Eggy.


"Mana bisa nyaman," sahut Eggy datar saling mengalihkan pandangannya.


"Yasudah, sekarang pilih lagi nih cincinnya. Mau yang mana?" tanya Adelia.


"Yang mana saja, terserah," jawab Eggy tidak mau ribet.


"Yasudah!" Adelia mulai memilih model cincin yang lainnya lagi.


Kemudian tak lama stelah itu, penjaga berlian itu datang lagi memberikan sepasang cincin baru.


"Ini, Mba, cincinnya. Silakan dicek kembali dan dicoba cincinnya. siapa tahu muat di jari Anda," kata penjaga toko.


"Terima kasih, ya, Mba."


"Baik, sama-sama."


Adelia mengambil cincin itu lagi. "Ayo coba, Eggy. Coba cincinnya. Apakah yang ini sudah pas dan muat di jari kamu."


Lantas Adelia langsung memasangkan cincinnya ke jari Eggy. Akhirnya Adelia menemukan yang pas juga untuk ukuran jari Eggy.


"Tuh, kan. Yang ini sudah cocok, ya, Eggy?" tanya Adelia kepada Eggy.


"Ya. Cukup!" sahut Eggy dengan singkat.


Adelia mendelik. "Cetus amat. Jangan terlalu dingin! Nanti gak bisa cair baru tahu rasa!" kata Adelia mulai merasa kesal.


"Tolong bungkuskan yang ini ya, Mba," kata Adelia kepada penjaga toko.


"Baik, Mba."


Adelia pun memutuskan untuk membeli dua buah pasang cincin berlian yang polos nan mengkilap, dihiasi pernak-pernik glitter. Sehingga cincin itu terlihat bling-bling jika terkena cahaya.


"Bagus kan, Eggy, cincinnya?" tanya Adelia.


"Iya," jawab Eggy makin singgat lagi.


Adelia menaikkan bibir atas sebelah kirinya seraya mendelik kesal kepada Eggy.


Sebenarnya Adelia pun tidak melakukan kesalahan kepada Eggy. Bahkan perjodohan yanh dilakukan oleh orang tuanya, itu bukan kehendak Adelia sendiri. Melainkan sang ayah yang ingi dirinya segera menikah dengan cepat. Dia pun tidak mengenal siapa Eggy, bahkan dia tidak tahu tentang Eggy. Dirinya tinggal diLondon untuk waktu yang cukup lama. Sehingga ketika dia tiba di Singapore, dia terkejut dengan kabar bahwa dirinya harus menikahi seorang duda yang bernama Eggy. Bahkan duda pun beru saja menetes. Bukan menduda sejak lama. Dan hal itu masih Adelia maklumi, karena memang dirinya paham dengan kisah Eggy pada masa lalu. Walaupun Adelia hanya tahu sedikit dari ayahnya, dia tidak merasa begitu keberatan. Justru dia malah merasa tertantang dan menyukai adrenalin yang dilakukannya saat ini untuk menghadapi seorang Eggy.


"Ini, Mba, struk pembeliannya. Sudah saya totalkan semua dan barangnya pun sudah saya bungkus. Silakan administrasi terlebih dulu, barangnya sudah ada di kasir," kata psnjaga toko mengagetkan Adelia dan juga Eggy.


"Baik, Mba. Terima kasih sebelumnya, ya."


"Baik. Kembali kasih. Kami sangat menunggu Anda untuk berbelanja di sini lagi," kata penjaga toko dengan sangat ramah dan lembut tutur sapanya.


"Terima kasih. Nanti saya belanja lagi jika ada kekurangan," sahut Adelia tersenyum. "Ayo, Eggy. Kita bayar dulu barangnya."


"Baik. Tunggu sebentar," sahut penjaga kasir.


Tak lama kemudian, dia pun selesai mentransaksi barangnya lewat kartu kredit. Kemudian penjaga kasir itu pun memberikan kartu tersebut kepada Adelia.


"Ini kartu kreditnya, Mba. Dan ini barang yang Anda beli. Terima kasih sudah berbelanja di sini. Kami menunggu pembelian Anda selanjutnya."


Adelia mengambil kartu lreditnya beserta barang yang dia pesan. "Terima kasih. Pasti akan kembali lagi jika kekurangan."


"Terima kasih."


Adelia memasukan kembali kartu kreditnya ke dalam tas. Kemudian dia menebar senyuman kepada Eggy dan segera merangkul tangan Eggy.


"Kita sudah beli cincin. Lalu mau beli apa lagi, Eggy?" tanya Adelia kepada Eggy.


"Terserah," jawab Eggy dengan singkat.


"Mau makan? Apa kamu sudah makan atau belum?" tanya Adelia mulai perhatian.


"Aku sudah sarapan," jawab Eggy datar.


"Tapi aku belum."


"Lalu?" tanya Eggy sambil menatap Adelia.


"Ayo kita makan dulu!" ajak Adelia kepada Eggy.


"Sudah aku bilang, bahwa aku sudah sarapan," sahut Eggy menolak ajakannya.


"Temani aku. Cuma temani aku makan doang kok. Gak susah," pinta Adelia.


Eggy mulai geram dengan semua permintaan Adelia. Dia benar-benar seperti gadis remaja yang sangat manja. Padahal umurnya sudah remaja lagi. Sudah mencukupi sebutan dewasa.


"Jangan lebih dari 1 jam," sahut Eggy berkata secara tidak langsung bahwa dia mengatakan iya dan mau menemani Adelia untuk makan. Walaupun itu harus bersyarat sekali pun.


"Baiklah. Setuju. Aku tidak akan melebihi batas 1 jam." Adelia merasa sangat senang dengan jawabannya.


"Oke."


Adelia tersenyum sendiri ketika dirinya di terima oleh Eggy. Walau pun harus ada unsur pemaksaan, tetapi akhirnya Eggy selalu luluh ketika Adelia mencoba untuk mengajaknya. Hal ini benar-benar membuat perasaan Adelia merasa sangat senang. Ini adalah kesemlatan yang baik untuk saling mendekati antar pria dan wanita sebelum menikah. Adelia merasa bahwa dia akan sukses membuat Eggy cepat jatuh cinta padanya. Dia sangat percaya diri dengan hal itu.


 


 


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback). Silakan di cek.


 


 


Jika ingin mengenalku lebih de


kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*