
Terlihat Eggy masih duduk diam di dalam mobil. Dia melihat ke dalam restoran memalui dinding kaca restoran itu dari arah kaca jendela mobil. Dia mencari-cari sosok seseorang yang tak lain adalah Bulan. Bulan nampak tidak ada. Eggy tidak menemukannya jika di lihat dari luar restoran. Kemudian Eggy mengambil ponselnya dan segera meneleponnya. Namun Bulan tidak kunjung menjawab telepon dari Eggy. Sudah dipastikan bahwa Bulan kini sudah mulai bekerja kembali. Alhasil, Eggy pun memarkirkan mobilnya di depan reatoran. Lalu ia keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki restoran.
Setelah dirinya berada di dalam sana, dia menatap ke sana kemari untuk mencari Bulan. Lagi-lagi dia tidak melihatnya. Dengan terpaksa dia mencari duduk yang kosong. Seperti yang sudah di jelaskan oleh Bulan saat di telepon sebelumnya, Eggy melihat ada banyak pengunjung yang ada di restoran sana. Kini Eggy tahu seberapa sibuknya Bulan saat dirinya harus bekerja di sini. Ada perasaan kasihan dalam benak Eggy terhadapnya. Seharusnya Bulan tetap diam di rumah, atau bekerja sebagai penjaga toko emas, manager restoran di restoran yang Eggy punya. Atau bahkan mengelola usaha Eggy lainnya. Sepertinya Eggy mendapatkan ide baru mengenai hal itu. Dia kembali mengambil ponsel dsri sakunya dan langsung mengirimkan pesan kepada Bulan.
Isi pesan itu:
'Sayang, aku ada di restoran. Aku tidak melihatmu. Apakah kamu lelah dengan pekerjaanmu? Aku lihat ada banyak sekali pengunjung yang datang pada hari ini, sampai aku saja kesulitan untuk mencari tempat duduk. Kemarilah! Temukan aku dan temui aku segera.'
Eggy memencet tombol kirim. Dia pun menunggu balasan dari Bulan. Namun setelah di tunggu beberapa menit, tidak ada balasan. Eggy memang tipikal orang yang tidak sabaran. Maka dari itu, dia harus mencari pelayan lain untuk melayaninya. Dia melihat ada seorang pelayan yang sedang mengobrol dengan pengunjung lain. Mereka sedang mengonrol mengenai makanan yang ada di menu. Setelah itu pelayan mencatan pesanannya.
Eggy yang melihat pelayan itu tidak jauh dari jangkauan matanya, dia langsung melambaikan tangan dan memanggil pelayan tersebut untuk segera menemuinya.
"Hei, pelayan!" panggil Eggy.
Pelayan itu spontan menengok. Betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang memanggilnya itu. "Kak Eggy!" gumam Bulan secara perlahan.
"Bulan. Jadi dia sibuk." Eggy ikut bergumam juga.
"Ditunggu pesannya, ya, Kak. Terima kasih!" ucap Bulan kepada pengunjung yang sebelumnya memesan makanan kepada dia. Setelah itu, Bulan. langsung menghampiri Eggy. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu seperti ini.
"Kak Eggy ingin memesan makanan atau minuman apa?" tanya Bulan dengan napas yang terdengar seperti ngos-ngosan dengan keringat yang mengucur di pelipisnya. Dalam batin Eggy, dia ingin segera membawanya pulang ke rumah saja. Dia sangat tidak melihat istrinya bekerja keras seperti itu.
"Ada kopi?" tanya Eggy.
"Ada, Kak. Kopi apa?"
"Robusta."
"Baik, Kak. Aku tuliskan dulu pesanannya ya." Bulan menuliskannya. "Lalu mau pesan apa lagi, Kak?" tanyanya.
"Hanya itu saja. Nanti jika mau pesan, aku akan memanggilmu lagi," sahut Eggy.
"Ah, baiklah. Tunggu sebentar ya, Kak. Saya akan segera buatkan," kata Bulan.
Eggy mengangguk. Kemudian Bulan langsung berjalan cepat menuju dapur dan memesankan beberapa makanan keada para pekerja lain di dapur.
"Hari ini banyak sekali pesanan," eluh Bulan kepada pekerja lain.
"Memang. Apa karena Pak Angga memberi diskon harga, jadi pengunjung datang ke sini tidak terduga?" tebak Melda kepada Bulan.
"Itu bisa jadi, sih. Aku sepertinya sangat kewalahan. Bener-bener capek," kata Bulan merasa tidak sanggup.
"Parahnya lagi, Pak Angga belum datang juga sampai sekarang. Padahal lagi butuh bantuan tenaga," celetuk pegawai yang lain.
"Iya. Bener banget tuh."
"Aduh, kalau begini terus ... kita harus komplen ke Pak Angga supaya mencari pegawai lain di hari weekend saja. Biar membantu pekerjaan kita," ucap Bulan.
"Benar juga, ya, apa yang kamu kaatakan, Bulan," celetuk seseorang dari arah belakangnya. Rupanya dia adalah Angga yang sudah mendengarkan pembicaraan mereka. Kini mereka hanya bisa diam ketika melihat sang manager ada di hadapannya.
"Eh, Pak Angga," sapa Melda.
"Jadi, pekerjaan apa yang belum dikerjaan?" tanya Angga.
Kemudian Melda memperlihatkan semua daftar menu yang terpampang di dinding, dan terkejutnya Angga saat melihat hal itu. Dia hampir tak percaya melihat banyaknya pesanan pada hari ini.
"Kita memang benar-benar membutuhkan tenaga yang lain," gumam Angga dengan pelan.
Terlihat Eggy tengah menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi. Dia memainkan ponselnya dengan anteng. Diam-diam dirinya memainkan sebuah gim simulasi yang membuatnya lupa bahwa ini adalah di tempat umum. Namun bagi dirinya hal ini bukan masalah. Tak ada salahnya dengan gim. Lalu setelah itu, pesanan yang di pesan olehnya sudah siap dan diantarkan oleh Bulan.
"Ini, Kak, pesanannya. Silakan di nikmati kopinya," ucap Bulan seraya menyimpan gelas kopi itu di atas meja. Eggy tidak menggubris apa yang di katakan oleh Bulan. Bulan menatapnya heran.
"Kak. Ini kopinya, Kak," ucap Bulan sekali lagi. Mencoba menyadarkan Eggy. Namun Eggy tidak sadar juga. Dia tetap fokus pada ponselnya. Bulan pikir, Eggy sengaja bersikap cuek dan tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Bulan. Dia berpikir bahwa Eggy marah padanya. Mungkin karena terlalu lama meracik kopinya atau bahkan karena dia tidak ada waktu untuk dirinya di saat Eggy membutuhkannya. Sedangkan Eggy berbicara padanya lewat telepon bahwa dia sangat rindu dan ingin bertemu. Apakah salah jika menolak karena sibuk dengan pekerjaan? Begitu pikirnya.
"Kak!" tegas Bulan memanggil Eggy.
Akhirnya Eggy mendengarkan suara Bulan juga. Dia menengok dan sejenak memencet pause di ponselnya untuk menjeda permainan yang sedang dia mainkan.
"Eh, Bulan. Bagaimana?" tanyanya dengan polos.
Perasaan Bulan kesal. Tapi ya sudah. Bukan masalah. "Pesanannya sudah siap, Kak. Silakan di nikmati," jawab Bulan mencoba dengan penuh senyuman.
"Baiklah, Kak. Maaf, ya, aku tidak bisa menemani Kakak untuk saat ini. Aku memang sedang bekerja. Jadi aku tidak bisa banyak mengobrol dengan Kakak," kata Bulan merasa tidak enak.
"Iya. Aku tahu. Kembalilah bekerja. Jangan buang-buang waktumu," sahut Eggy.
Bulan tersenyum. Dia merasa senang mendengar apa yang di katakan oleh Eggy padanya. Maka dari itu, Bulan kembali bekerja dengan giatnya.
Waktu terus berjalan. Jarum jam sudah menunjukkan angka yang berbeda. Eggy masih berdiam duduk di kursi dengan gelas kopi di atas meja yang masih utuh. Dirinya belum meminum sedikit pun kopi tersebut. Sesekali, Bulan menata ke arah Eggy dia terus saja asyik memainkan ponselnya. Ada apa dengan dia? Apa yang sedang kerjakan dengan ponsel itu?
"Hei! Ada apa denganmu?" tanya Melda kepada Bulan. Dia mengagetkannya.
"E-eh enggak. Gak, gak ada apa-apa kok," jawab Bulan dengan terbata-bata.
"Masa sih? Apa yang sedang kamu perhatikan?" Melda mulai kepo.
"Enggak ada. Memangnya kenapa, sih? Aku gak lagi ngapa-ngapain kok," kata Bulan.
"Apa kamu sedang melihat pelanggan? Memperhatikan seorang pelanggan? Apa kamu merasa tertarik dengan salah satu pelanggan?" tebak Melda.
Bulan sontak menengok ke arah Melda. Dia menggeleng. "Eh, enggak, enggak. Kamu bicara apa sih? Aneh, deh!" sangkalnya.
"Aku melihat seorang pelanggan yang aneh pada hari ini," kata Melda kepada Bulan.
"Siapa? Aneh gimana maksudnya?" tanya Bulan tidak mengerti.
"Kamu lihat seorang pria yang dekat dengan kaca jendela itu?" tanya Melda sambil menunjukkan sosok pria di sana.
Mata Bulan menunjukkan ke arah pria yang berkaca mata yang sedang menyantap sebuah makanan dengan lahapnya. "Apakah si pria yang berkaca mata itu? Memangnya kenapa dengan dia?" tanya Bulan.
"Bukan yang berkaca mata, Bulan!" sahut Melda.
"Lalu yang mana, dong?" tanya Bulan penasaran.
"Setelahnya beberapa baris dari pia berkaca mata. Dia terus memegang ponsel dari tadi. Pakai pakaian jas, ala orang kantoran gitu. Sepertinya dia memang Bekerja di kantor deh. Aku perhatikan, dia masih tetap di sini sudah agak lama. Dan gelas yang ada di meja itu masih kelihatan sangat utuh. Apa dia sengaja gak minum minumannya?" tanya Melda sangat penasaran.
Seketika Bulan terkejut mendengar apa yang sudah diucapkan oleh Melda. Dia tidak menyangka bahwa temannya itu akan memperhatikan Eggy sedari tadi. Dia bingung harus menjawab dan berkata apa lagi Padanya. Dia memutuskan untuk berpura-pura tidak mengenalinya saja.
"Biarin aja lah. Toh itu urusan dia. Dia sudah membeli minuman itu, jadi itu hak dia," sahut Bulan.
"Ih, kamu kok sensitif gitu saat ditanya gitu. Yaudah deh, aku kembali bekerja, ya!" ucap Melda sambil membawa note dan pulpen dan mulai berkeliling untuk mencatat pesanan para pelanggan.
Akhirnya Bulan dapat bernapas dengan lega setelah kepergian Melda.
"Kak Eggy Nih. Ada-ada saja. Rindu hanya alasan. Nyatanya saat dia bertemu denganku, malah brsikap cuek. Apa sih maunya dia? Heran, deh!"
Bulan kesal sendiri melihat tingkah Eggy. Kemudian dia langsung mengambil ponselnya di loker pegawai. Lalu sejenak melihat-lihat isi ponselnya. Dia melihat ada beberapa panggilan masuk ke nomornya dari Eggy, kemudian beberapa pesan dari Eggy juga.
"Ah, Kak Eggy sampai telepon dan kirim pesan juga. Aku terlalu sibuk," gumam Bulan membuang napas lelahnya. Dia pun mulai membalas dan menuliskan sebuah pesan ke nomor Eggy.
'Pulanglah, Kak! Atau kembali ke pekerjaanmu. Aku lihat Kakak sangat sibuk dengan ponsel Kakak. Habiskan dullu kopinya. Kurasa Kakak sudah cukup bertemu denganku saat bekerja, mungkin rindu Kakak tmsudah terbayarkan. Aku tidak ingin para pegawai di sini tahu, jika Kakak mengenaliku. Setidaknya tidak dengan begini caranya. Nanti aku sendiri yang menanggung malu, begitu pun dengan Kakak juga. Jadi, aku mohon! Kakak segera kembalilah. Bersikaplah sebagak pelanggan yang sewajarnya. Maaf, Kak. Bukan bermsksud untuk niat mengusir. Namun Kakak pasti mengerti posisiku.'
Setelah menuliskan panjangnya pesan, Bulan pun langsung mengirimkannya ke nomor Eggy. Setelah itu, Bulan kembali memasukkan ponselnya ke dalam loker, lalu menguncinya dan setelah itu dia kembali ke dalam pekerjaannya dan membantu yang lainnya.
"Oke. Kembali bekerja dan fokus bekerja lagi. Semoga pekerjaan ini cepat berakhir. Fighting!"
Bulan menarik napasnya dan bersiap untuk kembali tempur.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*