
Bulan membuka matanya secara perlahan. Dia menggisik matanya untuk dapat melihat dengan jelas. Kemudian dia menguap dan menengok ke arah samping ranjangnya. Dia terkejut ketika mendapati tidak ada Eggy di sana. Sontak Bulan terbangun dan memanggil-manggil namanya.
"Kak. Kak Eggy." Bulan berjalan menuju kamar mandi di kamar. Dia membuka pintu kamar mandi, namun tidak ada. Dia pergi mencari ke ruang tengah, tetapi tetap saja tidak ada. Ke mana Eggy?
"Kak. Kakak ada di mana?" Bulan terus mencari ke seluruh isi rumah. Tetap saja. "Dia ke mana? Ini masih pagi dan dia meninggalkanku?" Bulan kebingungan.
Hasilnya nihil dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Eggy. Bulan mulai bingung dan pasrah dengan ketidak adaan Eggy di rumahnya. Dia mengambil ponsel dan berniat ingin menelepon dirinya. Namun sebelum menelepon, dia mendapatkan suatu pesan singkat padanya.
isi pesannya:
'Bulan sayang, maaf aku harus pergi terlebih dulu. Ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan begitu pagi. Ini masalah penting dan aku tidak sempat membangunkanmu. Jadi, aku pergi terlebih dulu. Maafkan aku. I love you.'
Sesaat membaca isi pesan masuk tersebut, membuat Bulan menghela napasnya dengan kesal.
"Kakak apa-apaan ini? Pergi tanpa pamit. Kesalnya. Setidaknya sebelum pergi aku bisa memelukmu dulu," gumam Bulan kecewa.
Dia melihat ke arah jarum jam di dinding menunjukkan pukul 07.12. Segera Bulan bergegas mandi untuk mengawali hari pertama dirinya bekerja di restoran.
Waktu pun cepat berlalu. Bulan mulai datang ke restoran tepat pada waktunya.
"Selamat datang, Bulan," sapa Angga kepadanya dengan hangat.
"Terima kasih, Pak Angga." Bulan tersenyum.
"Silakan bekerja, Bulan. Jika kamu tidak mengerti apa-apa, bisa ditanyakan kepada yang lain, atau bahkan kepadaku. Jangan sungkan."
"Baik, Pak. Aku tidak akan sungkan. Jika ada yang ditanyakan, aku pasti menanyakannya, Pak. Jangan khawatir."
"Baiklah. Silakan melanjutkan aktivitasnya."
Bulan pun mulai bekerja di bagian dapur. Dia membersihkan meja dapur dan mengelapnya.
"Hei, akhirnya kamu kerja di sini juga," ucap seseorang di sana.
"Ya. Apalagi yang harus aku lakukan kecuali bekerja," sahut Bulan.
"Kenalkan, aku Melda."
"Hai, Melda. Salam kenal. Aku Bulan."
"Ya. Aku tahu. Semoga kita bisa jadi partner kerja, ya."
"Iya. Pasti."
***
Di kantor, terlihat Eggy berjalan dengan sangat terburu-buru. Dia di dampingi dengan Fadhlan. Mereka berdiskusi dengan begitu serius. Keadaan perusahaan Eggy mulai tisak stabil. Kebobolan kembali terjadi pada perusahaannya.
"Ini gak boleh dibiarin, Eggy. Jika kita bertindak lama, ini akan terus terjadi dan menjadi semakin buruk," ucap Fadhlan.
"Kita juga udah berusaha memasang alarm, CCTV yang banyak. Namun herannya perusahaan kita tetap kebocoran."
"Ini tidak bisa dibiarkan, Eggy. Apa yang harus kita lakukan?"
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Eggy dan Fadhlan.
"Pak, Eggy. Ini data selama seminggu kemarin merosot begitu drastis. Beberapa klien kita komplen karena barang yg mereka terima banyak yang tidak sesuai."
"Bagaimana bisa?" tanya Eggy kebingungan. Dia mulai stres memikirkan masalah perusahaan.
"Kamu kumpulkan semua karyawan. Kita rapat hari ini juga."
"Baik, Pak. Cepat!"
"Kita benar-benar ditipu, Kak. Ada banyak musuh yang bermuka di perusahaan kita."
"Aku tahu. Aku bahkan tidak bisa mengenali musuhku yang menyamar sebagai karyawan di sini. Tidak bisa. Sial!" Eggy kesal dan marah dengan keadaannya saat ini.
"Aku akan bicara kepada bos, untuk mencari solusi saat ini. Jika kita menunggu sampai pernikahanmu tiba, bisa-bisa bangkrut duluan."
"Ya. Kamu benar. Kalau begitu, setelah rapat kita selesai, kita akan pergi ke sana."
"Oke. Aku setuju."
"Kamu urus bagian OB dan penjaga. Aku akan melaksanakan rapat sampai selesai. Kalau bisa, kamu periksa mereka satu-satu."
"Baik, Eggy. Jangan khawatir."
"Oke. Good luck."
"Good luck juga. Kita urus ini sama-sama."
"Oke."
Fadhla mulai pergi berlawanan arah dengan Eggy. Kemudian Eggy berjalan semakin cepat menuju ruang rapat. Saat dirinya berada di depan pintu, dia menghela napasnya dalam-dalam dan mulai masuk ke dalam ruangan. Dia melihat sudah ada banyak orang yang menunggunya.
"Selamat pagi semuanya. Kita akan langsung mulai melakukan rapat. Siapkan alat tulis kalian dan juga ide kalian. Saya benar-benar butuh bantuan kalian. Ini sangatlah mendesak. Jadi, dengarkan aku baik-baik dan berpikirlah dengan keras tentang masalah ini," jelas Eggy kepada para karyawan.
"Siap, Pak."
"Baik, Pak."
"Irani, siap-siap. Tulis setiap kalimat yang aku lontarkan. Karena ini penting," ujar Eggy.
"Baik, Pak," sahut Irani yang mulai membuka layar laptop.
"Baik. Ayo kita mulai!"
Eggy pun mulai menjelaskan semua yang terjadi kepada para karyawan. Dampak buruk perusahaan akan membuat semua orang di sana akan menganggur dalam seketika. Eggy tidak ingin semua itu terjadi. Maka dari itu, dia akan berusaha dengan sekuat tenaga dan pikirannya untuk menyelamatkan perusahaan yang sudah dibangun sejak bertahun-tahun saat dirinya masih muda.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update sehari 2x. Terima kasih sebelumnya, readers.
Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, asilakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback).
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga.
Terima kasih, semuanya. :*