The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
EPISODE 137



Setelah berbagi kisah itu, Bulan sedikit merasa lega. Setidaknya dia memiliki teman berbagi kisah dengan Angga. Walaupun hal itu sangatlah privasi, tidak menutup kemungkinan bahwa Bulan membutuhkan seseorang untuk tempatnya berbagi kisah.


"Oh, iya. Apa kamu sudah makan malam?" tanya Angga kepada Bulan.


"Untuk saat ini belum, Pak," sahut Bulan.


"Di luaran jangan memanggil 'Pak atau Bapak'. Panggil nama aja, Bulan. Panggil aku Angga."


"Tetapi ...."


"Panggil nama saja. Biar enak di dengar. Nanti kalau yang lain dengar kan, disangkanya anak sama bapaknya," kata Angga tertawa.


"Haha. Baiklah, Pak. Mm... maksudku A-angga."


"Nah, seperti itu. Jangan sungkan denganku."


"Baik, Pak."


"Angga. Panggil Angga."


"Haha. Maaf, Angga. Sudah terbiasa. Jadi harus memulai dari awal lagi sepertinya." Bulan tersenyum kepada Angga.


"Ya. Benar. Aku tidak begitu bermasalah dengan masalah perkenalan. Apa perlu kita berkenalan lagi? Dari awal lagi kenalannya," sahut Angga kepada Bulan.


"Sepertinya tidak terlalu buruk, Pak. Eh, maaf. Sepertinya itu tidak terlalu buruk, Angga."


"Baiklah. Kita berkenalan dari awal lagi, ya. Halo, aku Angga." Angga memberikan tangan kanannya kepada Bulan.


Bulan menggapai tangannya. "Aku Bulan. Salam kenal, Angga."


"Salam kenal kembali, Bulan."


"Ini sangat aneh." Angga tertawa.


"Iya. rasanya sangat canggung."


"Namun bagaimana lagi? Ini akan membuatmu merasakan nyaman, Bulan," kata Angga.


"Setidaknya itu bisa, Angga."


"Baiklah. Kamu sudah menceritakan kisahmu saat ini. Mau dengar ceritaku juga?" tawar Angga kepada Bulan.


"Mm... tidak," tolak Bulan. Angga sejenak terdiam. "Haha. Bercanda doang kok. Boleh, boleh. Mau cerita apa? Aku akan mendengarkannya kok," lanjut Bulan kepada Angga.


"Ya ampun. Kamu ini."


"Maaf, maaf."


"Baiklah. Sebelumnya aku pekerja restoran. Bukan seorang manager seperti saat ini. Aku bekerja di restoran selama bertahun-tahun. Sangat lama. Dan memang butuh perjuangan untuk mencapai semua itu."


"Jelas pasti melewati jalanan panjang terlebih dulu. Lalu apa yang menbuat kamu menjadi seperti sekarang ini?"


"Aku berpikir bahwa aku tidak boleh menjadi pegawai terus. Aku berpikir bagaimana caranya untuk menjadi seorang bos. Alhasil aku meminjam uang ke suatu bank untuk modal. Dan akhirnya aku mempunyai restoran sendiri."


"Benarkah? Sampai nekad meminjam uang?"


"Yup. Kamu pasti paham bahwa aku meminjam kepada bank tidaklah kecil." Angga terkekeh.


"Aku memahami masalah itu. Semoga restoranmu berjalan dengan sukses, Angga."


"Amin. Semoga saja. Terima kasih sudah men-support-ku."


"Bukan masalah.


Bulan dan Angga masih berjalan kaki menyusuri jalanan kaki lima. Kemudian mereka menemukan sebuah kedai makanan camilan di sana. Lalu mereka berdua pun berniat untuk membelinya.


"Kamu akan ke mana, Bulan?" tanya Angga.


"Aku akan membeli camilan itu, Angga," jawab Bulan. Lalu dia berlari perlahan menuju tukang dagang tersebut. Setelah itu dia memesan makanan.


"Sosis, otak-otak, kornet, sama ikan kering, ya Pak," kata Bulan sambil menunjuk ke arah makanannya.


"Mau di gimanain, Mba? Dibakar atau digoreng?" tanya pedagang tersebut.


"Dibakar saja, Pak. Ingin yang baka-bakar, biar ada rasa manisnya," sahut Bulan tersenyum.


"Kamu sudah manis, Bulan," kata Angga ikut nimbrung.


Bulan menengok dan tersenyum ke arah Angga.


"Kamu bisa saja." Bulan menundukkan kepala karena malu. Dia pun langsung menyisir sebagian rambut dengan jari tangannya.


"Saya pesan juga ya, Pak," kata Angga kepada pedagang.


"Mau apa saja pesannya?"


"Samakan dengan teman saya saja, Pak."


"Baik. Silakan duduk, sembari menunggu makanannya siap." Pedagang itu menyuruh mereka.


"Ah, baik. Terima kasih."


"Sama-sama."


Bulan dan Angga pun duduk di kursi. Terlihat mereka berdua masih terdiam dengan suasana di antara mereka. Mereka seakan merasa canggung. Hal ini terasa sangat aneh. Bahkan Bulan tidak mengingat Eggy di sana. Mungkin untuk saat ini Bulan menjalani kehidupan yang masing-masing. Bulan pun merasa nyaman dengan keadaannya yang seperti ini. Merasa bebas, tanpa harus banyak diatur atau menjadi penyendiri di dalam rumah. Hilang ingatan ini, perceraian ini adalah awal kehidupan yang baru bagi Bulan. Mungkin dirinya harus terbiasa menyesuaikan diri.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback).


Jika ingin mengenalku lebih de


kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga.


Terima kasih, semuanya. :*


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback).


Jika ingin mengenalku lebih de


kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga.


Terima kasih, semuanya. :*