The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 53



Ke esokan harinya, aku terbangun dengan keadaan masih di bawah lantai. Pantas saja sepanjang malam tubuhku terasa dingin. Ketika aku mencoba untuk bangun, rasanya sangat pegal dan badanku menjadi sakit. Namun aku mengingat bahwa salah satu menguruskan badan adalah harus lari pagi. Dan jam berapa sekarang? Aku melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi. Padahal aku masih merasa sangat ngantuk dan capek. Apalah daya diri ini yang ingin mengecilkan badan ini.


Aku memaksakan diri untuk bangun, walaupun badanku terasa sakit, akan aku paksakan untuk membakar lemakku. Aku lekas pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigiku. Sesudah itu, aku langsung saja bersiap-siap untuk lari pagi. Tak lupa aku membawa handuk kecil dan juga sebotol air, jaga-jaga biar tidak kehausan di tengah jalan. Aku pun siap untuk mengawali pagiku dengan berlari.


Sesampainya di luar rumah, ternyata masih terlihat banyak kabut tebal yang menutupi jalanan di rumahnya. Suasana masih begitu terasa dingin sampai terasa menancap ke kulitku. Suasana ini membuatku malas untuk olah raga pagi. Apakah olah ragaku kepagian? Aku memutuskan untuk kembali ke dalam rumah saja. Aku merasa bimbang antara olah raga atau kembali tidur saja dengan selimutku yang hangat. Aku terus saja berpikir sambil sesekali melihat ke arah luar dari kaca jendela rumahku. Setelah lama dipikir, akhirnya aku memutuskan untuk kembali tidur saja.


Hari sudah mulai siang. Jam di rumah menunjukkan pukul 8 pagi. Matahari pun mulai naik ke atas dan menyorot ke arah jendela kamarku. Tepat ke arah wajahku. Karena silaunya cahaya itu, aku terbangun dan merasakan badanku sedikit membaik dibanding sebelumnya. Aku lekas turun dari ranjangku dan langsung berjalan ke arah jendela. Aku menggeliat dan menguap seketika di sana. Setelah itu, aku kembali ke kamar mandi untuk membasuh wajahku dan menggosok gigiku. Sesudahnya aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Dari arah kejauhan, aku sudah mencium bau yang sedap pagi ini. Apakah Eggy sedang memasak untuk hari ini? Aku mempercepat langkahku dan menghampirinya. Memang benar. Eggy sedang memasak untuk sarapan pagi ini.


"Apa kamu baru saja terbangun?" tanyanya mengagetkanku. Kenapa dia bisa tahu aku berada di sini?


"Ah, iya. Aku merasa tidak enak badan saja."


"Tunggulah! Sebentar lagi masakannya akan selesai."


Aku pun duduk di meja makan sambil menunggu masakannya selesai.


Tak lama kemudian,  masakan itu pun datang. Bau masakan Eggy sangat harum. Membuat perutku seketika ingin menyantap semua makanan itu.


"Silakan makan," ucap Eggy. Eggy mengambil sedikit nasi dan lauk pauk ke dalam piring makannya. Kemudian dirinya mulai memakan makanan yang sudah dimasaknya.


Dengan ragu, aku pun mengambil bagianku. Seharusnya aku yang memasak untuknya, bukan dia. Namun jika dipikir-pikir, dia pria yang mandiri juga. Jika tidak ada makanan, dia yang memasak sendiri tanpa harus mempermasalahkan siapa yang masak. Tanpa harus menunggu seseorang yang memberi dirinya makanan. Pasti suatu saat yang menjadi istrinya akan bangga dan merasa bahagia memiliki suami sepertinya. Namun ... eh, bukannya aku adalah istrinya? Lol.


"Jangan melamun! Cepatlah makan. Nanti keburu dingin," ujarnya.


"Iya, baik," sahutku.


"Jika kamu ingin pergi, pergi saja. Jangan kebanyakan di rumah. Temuilah teman-temanmu, agar kamu dapat mengingat sesuatu."


"Boleh kah?"


"Saat waktu lalu kamu ke rumah Raihan, aku tidak marah. Apalagi pergi ke teman-temanmu, mengapa aku harus marah?"


Tunggu! Jadi saat kemarin aku menemui Raihan, dia tahu itu? Sungguh di luar dugaan. Apakah dia menguntitku? Apa hari ini dia juga akan mengikutiku?


"Kamu menguntitku, ya?" tanyaku penasaran.


"Enak saja. Ada seseorang yang melihatmu masuk ke rumah mantan pacarmu. Rupanya kamu memang tidak ingat apa pun," jawab Eggy dengan santai.


"Untuk apa aku menyewa mata-mata? Buang-buang uang saja. Perusahaan sedng anjlok. Mana mungkin aku menyewa mata-mata untukmu."


"Habisnya, kamu bilang ada seseorang."


"Itu dia yang kebetulan melihatmu."


"Apa skandalku pada waktu lalu banyak orang yang tahu?" tanyaku.


Eggy menghela napas. "Ya. Semua orang di perusahaan. Beserta rekan bisnis pun mengetahuinya."


"Apa? A-apa seluas itu gosipku?" tanyaku terheran-heran.


"Kamu mau bagaimana? Kamu ingin seluruh dunia tahu, bahwa istri Direktur Astro memiliki skandal dengan Manager perusahaannya sendiri? Begitu?" tanya Eggy.


"Ya enggak gitu juga sih. Bisa gak sih waktu diputar saja? Biar aku mengulang semuanya dari awal tanpa ada masalah memalukan ini? Aku sungguh-sungguh merasa sangat jijik terhadap diriku sendiri," kataku penuh dengan rasa malu.


"Lupakanlah," sahut Eggy tidak ingin memperpanjang pembahasan hal itu.


Mungkin Eggy tidak ingin aku merasa stres dengan masalah yang tidak dapat aku ingat. Mungkin dia sedang menjaga perasaanku saat ini.


"Aku lihat kamu bangun pagi sekali. Sambil membawa botol dan handuk di lehermu. Apa kamu jogging?" lanjut Eggy bertanya dengan mengalihkan topik pembicaraan.


"Eh, kenapa kamu tahu?" kejutku.


"Aku sudah bangun," jawabnya.


"Niatnya sih gitu. Tapi di luar suasana sangat dingin, aku tidak sanggup. Maka dari itu aku tidak jadi jogging," jelasku.


"Mau kah kamu jogging bersamaku?" tanya Eggy.


"Hah? Jogging? Bersamamu?" tanyaku dengan kaget.


"Besok pagi. Jika kamu belum bangun, akan aku bangunkan," sahut Eggy.


Apa? Jogging pagi bersamanya besok hari? Mengapa dia mengajakku? Namun kurasa tidak ada salahnya jika aku setuju dengan ajakannya. Sekalian aku olah raga untuk memperbaiki tubuhku agar tetap stabil seperti dulu.


"Baiklah. Aku setuju."