
Aku melamun di kamar tidurku. Eggy terlihat sedang memakai pakaiannya. Aku merasa sangat canggung. Sangat canggung. Di pikiranku selalu terlintas, apakah dia benar memang suamiku? Dari apa yang sudah menjadi bukti, bahwa alu memang istrinya. Tapi kapan? Kapan? Bahkan yang aku ingat, aku akan menikah dengan Raihan. Tapi ....
"Bulan," panggilnya.
Aku menengok. "Iya?"
"Tolong ambilkan dasiku di sana. Di laci sampingmu."
"Ah, baik. Tunggu sebentar!"
Aku pun mencarinya. "Yang ini?" tanyaku sambil memperlihatkan dasi yang kuambil dari laci.
"Di sampingnya. Warna biru dongker."
"Yang ini?" tanyaku. Aku takut salah ambil lagi.
"Ya. Benar. Yang itu."
"Baiklah." Syukur jika aku tidak salah bawa.
"Tolong, sekalian pasangkan dasinya dan rapikan dasiku."
Tunggu! Apa? Merapikan dasi? Apa aku bisa? Kapan aku belajar? Rasanya aku tak pernah belajar.
"Merapikan dasi?"
"Ya. Apa kamu tidak mau?"
"Eh, bukan begitu."
"Lalu?"
"Tapi, bagaimana?" tanyaku bingung.
Eggy menatapku. Oh, Tuhan! Mengapa? Mengapa memakaikan dasi saja aku tidak mampu. Tidak bisa.
"Akan kuajarkan. Kemarilah!" sahutnya lembut.
Aku berjalan menghampirinya. Kemudian dia memberitahuku bagaimana caranya memasang dasi.
"Maaf, jika aku tidak tahu cara memasangnya." Aku merasa sangat bersalah atas ini. Ini adalah hal sepele. Namun karena ini sepele, menurutku hal ini bisa jadi besar.
"Tidak apa. Aku mengerti. Aku akan memberitahumu."
"Baiklah."
"Pindahkan ujung lebar dasi ke sisi satunya ini, Bulan. Silangkan ujung ini juga ke sisi kiri." Aku pun mengikuti apa yang sudah diperintahkannya. "Putarlah ujung dasi ini! Pindahkan ujung lebar dasi ke ujung satunya sekali lagi. Kemudian selipkan ujung lebar dasi di bawahnya dan tarik ke atas," lanjutnya.
"Seperti ini, bukan?" tanyaku memastikan.
"Kamu pintar, Bulan." Eggy tersenyum padaku. Senyumannya sungguh membuat hatiku berdebar.
"Lalu setelah ini, bagaimana lagi?"
"Apakah begini?"
Eggy mengelus rambutku. "Pintar. Kamu belajar dengan sangat baik dan cepat."
Aku tersenyum padanya. Aku baru menyadari, bahwa memasang dasi sangatlah mudah. Apa ini akan menjadi pekerjaanku setiap paginya? Entah mengapa perasaanku sangat senang hari ini.
"Kalau begitu, aku akan segera pergi ke kantor. Kamu istirahat di rumah saja. Aku akan cepat pulang."
"Baiklah. Aku akan menunggumu."
"Sampai jumpa!"
Aku syok. Eggy tiba-tiba mencium keningku. Lalu dia pun pergi meninggalkanku sendirian di rumah. Lantas, apa yang akan aku lakukan di sini?
Aku berniat untuk keliling rumah. Mungkin aku bisa mengingat sedikit kenangan di sini. Rumah ini terlalu besar. Sungguh mewah. Ini seperti mimpi. Orang miskin sepertiku dapat menikah dengan orang sekaya Eggy. Kenapa? Kenapa bisa terjadi? Kapan aku bertemu dengannya? Ini menjadi sebuah misteri bagi diriku sendiri.
"Apakah aku memang sudah menikah?" gumamku bertanya-tanya.
Tak lama kemudian, terdengar ada suara pintu terketuk. Aku pun segera menghampiri asal suara ketukan itu dan segera membuka pintu tersebut. Betapa terkejutnya, aku melihat seprang wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu. Dengan penampilan khas orang kayanya, dia berdiri dengan angkuh.
"Selamat pagi, Bu. Anda mau mencari siapa?" tanyaku ragu-ragu.
"Saya mencarimu. Ada hal yang harus saya bicarakan denganmu," jawabnya.
Mendengar hal itu, membuat jantungku berdebar kembali. Ada apa ini? Siapa dia? Mengapa dia mencariku? Apa yang akan terjadi?
"Silakan masuk!"
Wanita paruh baya itu mulai memasuki rumah. Dirinya langsung duduk begitu saja tanpa menunggu dipersilakan olehku. Kurasa, dia adalah salah satu keluarga Eggy.
"Duduklah!"
Aku pun duduk di hadapannya.
"Bagaimana? Ada perlu apa dengan saya?"
"Masalah Eggy dengan kamu."
"Maaf. Tapi kami baik-baik saja."
"Apa kamu tidak ingat siapa dia?" tanyanya dengan tegas.
Benar. Aku memang tidak ingat. Aku harus jawab jujur atau berbohong?
"Saat ini aku tidak ingat." Akhirnya aku memilih untuk jujur.
"Skandal antara kamu dan Raihan sudah mulai tersebar. Kini perusahaan di ambang kebangkrutan. Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan masalah ini?"
Tunggu!
Kenapa ini? Ada apa? Skandal antara aku dan Raihan? Bukankah aku dan Raihan ... tidak! Ini pasti kesalahan. Perusahaan yang dipegang Eggy juga, akan kah bangkrut? Aku tidak percaya semua ini. Kenapa? Kenapa bisa ... seperti ini? Akan kucoba untuk mengingatnya. Namun hal ini, ah ... kepalaku mulai sakit. Sakit sekali.