
Sampai ke dalam rumah neneknya, aku masih memasang raut wajah yang menyebalkan. Entah kenapa Eggy selalu melakukan hal yang bodoh terhadapku yang membuatku selalu terbawa perasaan terhadapnya.
"Mana ekspresi wajah riangmu tadi?" tanya Eggy padaku.
"Habis," jawabku singkat. Tadinya aku tak ingin menjawab pertanyaannya, seperti bagaimana ia jarang menjawab pertanyaanku. Tapi entah mengapa jika ia bertanya, aku tetap saja menjawabnya walaupun diri ini berkata tidak ingin.
"Biar aku isi daya," sahutnya sambil memeluku seketika.
Rupanya dia mulai berani terhadapku. Apa yang membuatnya berani seperti itu? Bukannya hari-hari sebelumnya ia bicara bahwa ia akan berjaga jarak denganku?
"Lepaskan!" ucapku seraya mendorong tubuhnya. Namun pelukannya sangat erat, membuatku sulit untuk berkutik.
"Kamu tak lihat, di belakangku ada nenek?" bisiknya ke telingaku.
Nenek? Masa iya? Segera aku melihatnya karena tak percaya dan ternyata memang benar. Ada seorang wanita paruh baya dengan memakai kaca mata, juga gaun yang indah. Namun ia tidak begitu tua, ia masih terlihat cantik, anggun, tinggi dan juga tak banyak memiliki kulit keriput. Apakah neneknya Eggy pantas kusebut wanita paruh baya?
Tunggu! Kubilang neneknya Eggy memakai Gaun? Sepertinya kata gaun tidak cocok di pakai untuk wanita paruh baya seperti nenek. Apa itu terlalu menghina?
Menurutku, kata yang cocok adalah baju dress panjang dengan ukiran brukat yang indah.
Di sana ia sedang memperhatikanku dengan Eggy. Pantas saja ia tiba-tiba memeluku tanpa adanya alasan, maka untuk kali ini aku akan memaafkan Eggy. Lalu sang nenek pun tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya.
Kemudian ia berjalan menghampiriku yang masih dipeluk oleh Eggy. Ia menyapa.
"Selamat datang cucuku."
Nada bicara nenek sangatlah hangat. Sepertinya nenek adalah wanita yang baik dan penyayang.
"Eh, nenek. Maafkan aku. Dia agak sensitif, jadi butuh sebuah pelukan," sahut Eggy yang tiba-tiba meepaskan pelukannya, seakan ia terkejut dengan kedatangan neneknya.
"Sensitif? Aku? Luar biasa! Akting yang luar biasa," ucapku dalam hati.
"Tidak apa. Ayo kita mengobrol sebentar. Nenek ingin banyak berbincang dengan istri cucuku," kata neneknya.
Dengan rasa malu, aku berjalan berdampingan dengan Eggy mengikuti arah kemana nenek akan mengajak kami berdua.
Tibalah kami disuatu ruangan yang terdapat sebuah tv besar, sofa set, di sana juga terdapat rak buku yang cukup besar dan lebar, juga ada sebuah papan untuk menulis. Sepertinya ruangan ini khusus meetting, pertemuan penting, rapat atau suatu pertemuan yang khusus. Sepertinya begitu.
"Kenapa kemari, Nek?" tanya Eggy.
"Duduklah terlebih dahulu!" sahut neneknya sambil duduk di sofa.
Kamipun secara bersamaan duduk bersama.
"Bagaimana, Nek?" tanyanya sekali lagi.
"Kalian baru saja bertemu bukan? Setelah dua tahun kalian berpisah, apakah semenjak kalian kembali bersama ada kabar gembira untuk Nenek?"
Entah itu sebuah cerita atau sebuah pertanyaan untuk aku dan Eggy, aku tidak tahu. Beberapa kalimat itu membuatku tidak mengerti dan berpikir keras tentang apa yang di pikirkan oleh neneknya Eggy.
"Maksud nenek?" tanyaku tidak mengerti.
"Apa kalian benar-benar saling mencintai?" tanya Nenek kembali.
"Nenek dan cucu sama saja. Setiap aku bertanya tak pernah di jawab, malah balik tanya," pikirku dalam batin.
"Apa itu sangat penting untuk di jawab?" sahut Eggy.
"Ck, yang benar saja!" ucapku dalah hati.
"Apa Nenek salah?" tanya neneknya.
"Tidak. Hanya saja itu hal pribadi," jawab Eggy.
"Pribadi seperti apa?"
"Hanya aku dan Bulan yang tahu."
"Apa itu sebuah perjanjian?" tanya Nenek. Membuat perasaanku berubah menjadi tegang.
"K-kami berniat untuk bercerai!" jawabku terbata-bata yang tiba-tiba jujur begitu saja tanpa beban.
"Apa? Bercerai?" tanya neneknya terkejut, seakan tak percaya dengan jawabanku
Eggy menatapku, ia memperlihatkan pandangan kecewa terhadapku ketika mendengarku berkata seperti itu.
"Cucuku, apa itu benar?" tanya nenek kepada cucu semata wayangnya.
"Itu benar!" jawab Eggy singkat dengan raut wajah yang terlihat kecewa, apakah Eggy benar-benar tidak ingin cerai denganku?
"Nenek tak percaya kamu melakukannya. Kenapa harus bercerai?"
"Seperti yang nenek bilang tadi, itu adalah perjanjian," sahut Eggy terang-terangan.
"Nenek sudah berharap bisa melihat cicit dari kalian, tapi nyatanya Nenek tidak bisa melihat itu," kata nenek dengan nada kesedihan.
"Maaf, nek. Aku harus ke toilet dulu. Akan ku lanjutkan setelah jeda berikut ini!" kata Eggy seraya terkekeh. Lalu ia pun pergi meninggalkanku berduaan saja dengan nenek.
Suasana canggung diantara kami kembali hadir, aku merasa tidak enak kepada nenek karena aku telah mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi antara pernikahanku dengan Eggy.
"Perjanjian apa?" tanya Nenek memulai kembali perbincangan di antara kami.
"Itu ... Sebuah hutang," jawabku ragu-ragu.
"Kau di jual?"
"Tidak. Bukan begitu, tetapi itu bisa jadi. Tapi maksudnya bukan seperti itu kok," jelasku bingung sendiri.
"Lalu?"
"Sebenarnya, aku sendiri yang ingin bercerai dengan Eggy," jelasku lagi.
"Kenapa?"
"Sejujurnya dia pria mapan, tampan, sukses, tinggi, kaya raya, orang terpandang dan tentunya ia memiliki semua kriteria pria idaman para wanita lainnya. Namun apalah arti semua itu jika kami tidak saling menyayangi dan tidak saling mencintai, namun jujur saja aku memang menyukai sosok kak Eggy, aku menyukainya," jelasku apa adanya kepada sang nenek sambil tersenyum simpul.
"Apa itu jujur?" tanya nenek padaku.
"Hah? Mm ... Maksudku, itu benar jujur," jawabku terbata-bata.
"Tidak dengan matamu, nak." sahut Nenek sambil berdiri dan berjalan ke arah rak buku. Entah apa yang akan diambilnya dari sana, aku pun tidak tahu. Padahal semua yang kukatakan adalah benar.
Namun, aku berpikir tentang apa yang diucapkan Nenek barusan. Mataku? Ada apa dengan mataku? Apakah mataku memperlihatkan kebohongan? Atau malah kejujuran?
"Ah, Nenek. Jangan membuatku malu."
"Tidak, Sayang. Nenek berpikir kamu tak ingin berpisah. Nenek bisa melihatnya."
Aku tak menyangka bahwa Nenek akan mengetahui hal ini. Sesungguhnya di sisi lain memang begitu berat untuk meninggalkan. Namun harus kuakui, bahwa kini aku mulai sedikit menaruh rasa padanya.
Baru saja aku bertemu Nenek, setelah 2 tahun menikah. Eh, malah mau pisah lagi karena alasan bercerai. Tetapi apakah aku akan bercerai? Lalu, bagaimana dengan Raihan? Perasaan apa lagi yang sedang kurasakan?