
*Di rumah nenek.
Eggy terlihat sedang berjalan dengan begitu lemasnya. Seperti orang yang sudah kehilangan arah dan ia memang putus asa. Mungkin perasaannya bercampur aduk. Dia tak dapat berbuat apa-apa lagi.
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu terketuk dengan pelan.
Kemudian pembantu di rumah neneknya pun membuka pintu tersebut.
"Tuan Eggy. Se-selamat datang!" sapa pembantu tersebut yang terkejut dengan ekspresi wajah Eggy yang kusut.
"Nenek di mana?" tanya Eggy.
"Dia ada di kamarnya, Tuan," jawabnya.
Tanpa bicara apa pun lagi, ia langsung masuk begitu saja dan menuju kamar sang nenek.
Setelah sampai di kamar sang nenek, nenek pun terkejut melihat cucunya yang tiba-tiba datang menemuinya di kamar. Ia melihat ada banyak kesedihan yang tergambar di wajah cucunya itu.
"Cucuku, kenapa kau kemari, nak?" tanya nenek.
Eggy langsung menghampiri sang nenek. Lalu ia langsung memeluknya dan menangis dalam pelukannya.
"Maafkan aku!" kata Eggy.
"Kenapa? Ada apa sebenarnya?" tanya neneknya kebingungan.
"Aku tidak bisa menjaganya, Nek. Maafkan aku!" jawabnya.
"Ceritakanlah dengan perlahan, sayang," kata neneknya.
Eggy melepaskan pelukannya. Ia pun menghapus air matanya dengan tangannya sendiri.
Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Bulan kecelakaan," ujar Eggy.
"Apa?" nenek pun shock. "Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Itu kecelakaan. Bulan bersama dengan kekasihnya, dan aku di beritahu oleh pihak rumah sakit," jelas Eggy yang sudah mulai tenang.
"Kekasihnya? Kalian sudah menikah, tetapi Bulan memiliki kekasih lain? Bagaimana bisa dia mengkhianatimu?" nenek semakin shock.
"Aku sudah menjelaskan bahwa aku menikah karena urusan bisnis. Sebelum menikah dia memiliki kekasih dan selama aku belum bercerai, Bulan masih berhubungan dengannya."
"Kasihan sekali cucuku, menderita seperti itu. Kenapa kau dapat bertahan untuk cinta yang seperti itu?" nenek seakan merasakan kepahitan yang selama ini Eggy rasakan.
"Aku hanya berusaha." jawab Eggy.
"Untuk mendapatkan hatinya, untuk memdapatkan cinta yang benar-benar tulus darinya. Hanya itu saja."
"Apa ini sudah kau anggap terlambat?" tanya nenek.
"Tidak, nek. Bagiku tidak ada yang lambat. Hanya saja kali ini aku merasa hancur," jawabnya.
"Tenangkan dirimu, kembalilah padanya. Buatlah dia merasa aman dan nyaman kembali ketika berada di sisimu." ujar nenek.
"Kau benar, nek. Yang harus aku lakukan saat ini adalah membuatnya ingat kembali."
"Kau pasti bisa, Eggy."
Eggy tersenyum. Neneknya tak pernah melihat cucu semata wayangnya yang merasakan kehancuran seperti saat ini. Ia menangis dalam pelukannya, berbicara tentang perasaan yang sesungguhnya.
Padahal baru saja ia mengatakan bahwa ia tidak mencintaiku, namun pada akhirnya ia sadar. Bahwa membohongi perasaan itu adalah hal yang mustahil di lakukan. Kini Eggy tahu, bahwa dirinya benar-benar merasakan jatuh cinta padaku.
Beberapa hari kemudian.
Kabar kecelakaan seorang istri Direktur Eggy, yaitu aku sendiri sudah tersebar di kantor perusahaannya, dan itu membuat semua orang berduka atas tragedi yang telah menimpaku.
Dari berbagai rekan kerja dan beberapa rekan dari berbagai perusahaan tiba-tiba mereka mendatangi ruanganku. Mereka berbondong-bondong membawakan makanan, buah-buahan, dan juga rangkaian bunga untukku sebagai tanda rasa simpati mereka.
"Kami turut prihatin dengan apa yang sudah terjadi," kata Irani bersimpati. "Ini ada beberapa buah bingkisan kecil untuk anda," lanjutnya tersenyum.
Aku hanya tersenyum simpul tanpa menjawab satu pertanyaan apa pun dari salah satu mereka. Karena memang aku tidak ingat apa pun lagi selain pengalaman indah bersama Raihan.
Ini membuatku tertampar dengan sebuah kenyataan yang sebenarnya aku tak pernah mengingat satu hal pun bersama dengan Eggy.
Apa ini karena masih awal aku merasa lupa akan semuanya? Ataukah aku memang tak dapat mengingat mereka, dan mereka berbohong atau merencanakan ini dari awal?
Yang pasti, disana aku mulai berpikir bahwa aku adalah istrinya. Aku memang sudah menikahinya. Karena tidak mungkin kebohongan atau rekayasa dapat di rencanakan seperti ini. Untuk apa?
"Semoga lekas sembuh, Nyonya. Agar anda dapat bersama kembali dengan Tuan Eggy," ucap salah satu rekan kerjanya.
"Benar, Tuan Eggy tidak masuk kantor hanya karena khawatir pada anda. Dia memang suami siaga," sambung rekan yang lainnya.
Aku mulai berkaca-kaca, entah kenapa rasanya aku ingin menangis melihat mereka, mendengar suara mereka, dan rasanya aku ingin berteriak bahwa aku tidak ingin berada disini lagi, aku tidak sanggup mendengar dan berpura-pura menerima kenyataan ini.
"Raihan ... Di mana kau?" tanyaku dalam batin.
"Jangan menangis, Nyonya. Suami anda ada disini. Maaf atas perkataan yang sudah saya ucapkan itu membuat anda terharu."
Bukan. Bukan itu alasannya. Yang aku harapkan adalah kehadiran Raihan. Namun ia tidak ada. Dia tidak datang. Dia seakan lenyap saat aku masih berada di sini dan terus mengharapkan ia untuk menjemputku pulang. Sungguh! Hal ini membuatku hancur dan frustasi sendiri.
Aku berpikir bahwa dia memang pergi meninggalkanku, dia tak peduli padaku, bahkan disaat aku membutuhkan pelukannya, dia lenyap.