
Botol itu telah Eggy putar, karena aku memberikan pertanyaan padanya, jadi pemutaran ini adalah bagiannya. Setelah botol itu diputar, ujung botol itu mengarah ke arah Fadhla, adiknya sendiri.
"Waduh! Sekarang aku yang kena," sahut Fadhla.
"Hanya permainan," kata Eggy.
"Baiklah."
"Kejujuran atau tantangan?" tanya Eggy.
"Kejujuran aja deh. Tantangan serem. Nanti disuruh bunuh diri kan jadinya berabe. Hahahaha," jawab Fadhla sambil bercanda.
"Gak bakalan aku menyuruhmu melakukan hal bodoh kek gitu," sahut Eggy.
"Ya kali aja punya dendam," kata Fadhla.
"Oke. Pertanyaannya; saat aku menyuruhmu untuk menikahi Bulan, mengapa kamu mau?" tanya Eggy.
"Apa? Kakak menyuruh adik Kakak untuk menikahiku? Jadi hal itu benar? Aku pikir hanya bercanda lho, Kak," kataku terkejut mendapati hal itu.
"Serius. Karena masalah ini. Masalah bisnis ini yang mulai menutup perasaanku," sahut Eggy.
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa hal ini benar terjadi. Aku pikir hanya sekadar bercanda saja. Jika ini menjadi kenyataan, apa yang akan terjadi dengan masa depanku?
"Kamu ingin tahu jawaban dariku?" tanya Fadhla.
"Jawab saja!"
"Sejujurnya aku jomlo. Jadi gak masalah jika aku menikahi seorang janda dari Kakakku sendiri," jawab Fadhla dengan enteng.
"Apa itu sudah jujur?" tanya Eggy dengan nadanyang datar.
"Ya. Apa lagi?"
"Kelihatan sekali kalau kamu itu tidak laku. Sehingga memilih yang instan," sindir Eggy.
"Heh! Bicara apa?"
"Lupakan saja," sahut Eggy. "Lanjut saja permainannya," tambah Eggy.
"Oke. Giliranku lagi."
Fadhla pun mulai memutar kembali botol itu. Kemudian ujung botol tersebut mengarah ke arahku. Permainan ini sepertinya sudah diatur sejak awal. Pas sekali. Kita bertiga mendapatkan bagiannya masing-masing. Rasanya, permainan ini akan berakhir sampai di sini deh. Karena kan aku, Eggy dan Fadhla sudah mendapatkan bagiannya.
"Ini bagianmu, Bulan," kata Fadhla.
"Hahaha. Iya nih. Gak apa-apa deh."
"Kejujuran atau tantangan?"
"Kejujuran deh."
"Oke. Bagaimana perasaanmu dengan Kakakku sekarang? Apa kamu siap jika Kakakku menikah lagi dengan orang lain?" tanya Fadhla.
Pertanyaannya sungguh WOW, mengejutkan! Membuatku harus berpikir keras akan hal itu. Namun untuk saat ini aku harus berkata jujur padanya. Aku tidak boleh lari dan mengelak dengan apa yang aku rasakan saat ini. Mungkin hal ini akan membuatku merasa sangat lega dengan kehidupanku ini.
"Mm ... sebenarnya antara siap dan gak siap sih. Hehe. Awalnya aku siap-siap saja sih. Hanya saja untuk saat ini, sepertinya masih merasa bingung," jawabku.
"Ya habis bagaimana lagi."
"Lalu dengan mantan pacarmu? Bagaimana?" tanya Fadhla.
"Raihan?"
"Ya. Siapa lagi kalau bukan dia," sahutnya.
"Mungkin setelah liburan ini, aku akan berbicara padanya. Entah bagaimana hasilnya. Namun aku yakin, dia akan sangat marah," kataku.
"Jangan sampai kamu menyesal, Bulan," kata Fadhla padaku.
"Menyesal terhadap apa?" tanyaku.
"Sudahlah! Mau lanjut main atau tidak?" tanya Eggy mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudahlah. Semuanya sudah kebagian ini. Jadi kita mau apa?" tanya Fadhla sambil sesekali melihat ke arahku dan ke arah Eggy.
Aku, Eggy dan Fadhla saling bertatapan satu sama lain. Kemudian, aku langsung menyalakan musik dan mengajak mereka untuk menari bersama.
"Ayo kita bersenang-senang lagi! Kita menari bersama," ajakku.
Aku mulai menaikkan volume musik di speakernya. Kemudian aku mulai menari-nari di hadapan mereka dengan tarian yang sangat kaku. Sangat lucu.
Setelah itu, aku langsung menarik tangan Eggy dan. juga Fadhla untuk berdiri dannikut menari juga.
"Tidak, Bulan. Aku tidak bisa menari," kata Eggy padaku.
"Jangan begitu, Kak. Aku pun tidak bisa menari," sahutku tersenyum.
"Ayolah aku sedang malas," alibi Fadhla.
"Kalian berdua ini sangat kompak. Tidak ada penolakan pokoknya. Ayo cepat berdiri dan menari sama-sama."
Dengan terpaksa, mereka berdua pun mengikuti apa yang aku katakan padanya. Aku tertawa gembira menari bersama mereka. Apalagi aku melihat hal lucu dari diri suamiku. Saat melihat Eggy mulai menari dengan sangat kaku dan ditambah malu-malu gitu, aku tertawa.
"Kakak lucu."
Eggy menatapku, lalu diam tak bergerak lagi. "Ah, aku sudahan. Aku malu," kata Eggy.
"Enggak, Kak. Jangan. Ayo menari lagi!" ajakku sambil mengayun-ayunkan kedua tangan Eggy dan mengajaknya menari. Akhirnya Eggy pun mebgikuti apa yang aku katakan. Ini benar-benar sebuah liburan yang sangat menyenangkan dalam kehidupanku.
**Note:
Maaf untuk chapter ini sangat pendek. Karena kesehatanku yang agak kurang membaik. Aku juga sering gadang dan kekurangan tidur karena sibuk di dunia nyata. Aku mengikuti berbagai event Novel, lomba cerpen dan lomba novel juga. Kebetulan aku sibuk dengan grup kepenulisan juga, ditambah lagi aku sudah berumah tangga. Jadi membagi waktunya sangat sulit sekali.
Maaf juga jika cerita The Moon Of Love With You ini agak terkesan berbelit-belit. Namun aku sudah mencoba memberi setiap chapter yang terbaik bagi kalian.
So, dariku secara pribadi, aku meminta banyak maaf atas semua kekuranganku ini. Dan aku mau benar-benar terima kasih kepada kalian karena sudah setia membaca cerita sampai sejauh ini. Aku sangat sayang kalian semua. :*
Jika kalian ingin mengenalku lebih dekat, bisa langsung masuk grupku di Mangatoon atau silakan kirim inbox ke facebook Lani Nurohmah, atau DM ke IG @nurohmah.lani. Insyaallah aku akan membalas pesan kalian.
Dan untuk yang ingin masuk ke grup Wattsapp-ku, silakan kirim inbox lewat FB atau DM ke IG. Nanti aku kasih linknya.
Terima kasih semuanya. Tetap bersamaku, ya**. :)