
"Kehidupan memang pilihan Fadhla. Bersandiwara atau pun hidup dengan kejujuran, tetap saja akan ada resiko dan cobaan yang datang. Saat ini aku sedang menghindari resiko kemungkinan yang akan datang padaku jika aku jujur. Maka dari itu aku memilih bersandiwara untuk kepentingan pribadiku," kata Bulan dengan panjang lebar. Fadhla pun menatapnya dengan iba.
"Bulan ...," panggil Fadhla secara perlahan.
"Ah, ayo kita pergi mencari makanan penutupnya. Sebelum kak Eggy datang, ayo!" ajak Bulan sambil membuka celemek yang sedang dia kenakan dan dia pun langsung menyimpannya. Setelah itu, Bulan mulai berjalan pergi meninggalkan dapur.
"Hei, kamu kau ke mana?" tanya Fadhla.
"Mau pergi mandi dulu," jawab Bulan.
"Eh, ini kalau makanannya dingin gimana, nih?" tanya Fadhla yang khawatir dengan makanan yang baru saja selesai di masak.
"Nanti hangatkan lagi aja. Bisa kok. Jangan diambil pusing, deh," sahut Bulan kepada Fadhla. Dia pun langsung melangkah pergi ke kamarnya.
Fadhla menopang dagunya sambil menghela napas panjang, kemudian membuangnya dengan perlahan.
Bulan sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Ayo, Fadhla. Kita berangkat!" ajak Bulan.
"Ya, ayo!"
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Fadhla mulai menyalakan mesin mobilnya. Kemudian dirinya langsung menyalakan audio yang ada di mobil hendak mendengarkan sebuah lagu.
Suara gitar dengan efek tremolo keluar dari pengeras suara. Dilanjut dengan vokal basah seorang wanita. Nancy Sinatra. Ingatan Bulan segera meluncur pada dirinya sendiri yang merasa sangat malang karena sempat gagal merasa bahagia dengan Eggy, karen banyaknya cobaan yang harus mereka berdua lalui. Lagu dahsyat ini pertama kali dia dengar di film Kill Bill Vol. 1 karya Quentin Tarantino, menjadi lagu tema film itu.
“Hey, kukira kau suka lagu jedug-jedug seperti orang-orang lain," ucap Bulan.
“Hah?” Fadhla mulai bertanya-tanya.
“Nggak salah kuminta kau temani malam ini.”
“Hah?”
“Lupakan. Aku pernah baca Nancy Sinatra dan Billy Strange hanya butuh satu kali rekaman saja untuk menjadikan lagu ini. Kurang ajar.”
“Oh ya?” katanya, sambil menginjak rem tiba-tiba karena ada orang berlari menyeberang.
"Hei, Fadhla! Hati-hati! Jangan ceroboh!" ucap Bulan dengan panik.
"Maafkan aku, Bulan. Aku benar-benar tidak tahu," kata Fadhla.
Sontak Fadhla dan Bulan pun langsung turun dari mobilnya dan melihat keadaan seseorang itu. Mereka ingin memastikan bahwa orang itu tidak kenapa-kenapa.
"Fadhla ...."
"Aku tahu, Bulan. Ayo kita periksa!" ajak Fadhla.
Fadhla dan Bulan pun sudah keluar dari mobil mereka. Mereka pun langsung melihat bahwa tidak ada siapa-siapa di depan mobil mereka. Sontak mereka berdua saling melempar tatapan satu sama lain. Memberi kode bahwa ini benar-benar aneh.
"Bulan ...."
"Aku tahu, Fadhla. Sebaiknya kita masuk mobil saja," kata Bulan kepadanya.
Fadhla mengangguk, memberi jawaban kepada Bulan bahwa dirinya memahami apa yang di katakan oleh Bulan. mereka berdua pun langsung masuk ke mobil kembali.
Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, mereka berdua pun langsung kembali menatap satu sama lain.
"Ayo jalan, Fadhla. Jangan lama-lama," ucap Bulan memohon.
"Ayo, Bulan! Ini juga aku mau menginjak gasnya," ucap Fadhla padanya.
"Cepatlah!"
Fadhla tahu, bahwa dirinya harus segera pergi dari sana. Namun seakan langkah dia terasa sangat berat. Mereka berdua merasakan sensasi yang benar-benar horor saat itu juga. Ini baru kali pertamanya mereka merasakan kehororan seperti itu. Bahkan mereka berdua sama-sama merasakan kebingungan dengan apa yang terjadi. Hal itu membuat Fadhla dan Bulan merasa merinding, bulu kuduk mereka pun mulai berdiri mengingat kejadian itu. Sontak akhirnya Fadhla menancapkan gas dan mulai pergi dari tempat tersebut.
Setelah di rasa Fadhla sudah menjauhi kawasan jalanan itu, Fadhla pun kembali membahas mengenai hal itu kepada Bulan. Karena dirinya merasa sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi kepada dirinya dan kepada Bulan juga.
"Bulan," panggil Fadhla.
"Apa?" sahut Bulan.
"Apa kamu yakin soal tadi?" tanya Fadhla.
"Yakin apa?" tanya Bulan berpura-pura tidak tahu. Karena Dirinya memang tidak ingin membahas hal itu..
"Soal yang tadi. Apa kamu yakin?" tanya Fadhla memastikan. Namun Bulan hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Fadhla.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)
Terima kasih, semuanya. :*