
*Curahan Hati Bulan*
Menunggu waktunya tiba.
Berharap ikatan itu cepat terlaksana.
Hati trus berbicara dan ingin cepat terlaksana.
Aku merasa takut.
Takut akan kembali merasakan pahitnya kehilangan seseorang.
Melihat apa yang sedang terjadi itu, terkadang sulit untukku terima.
apalagi menerima kenyataan ketika aku benar-benar di sia-siakan, di abaikan, dan di acuhkan.
Lalu dengan gampangnya ia kembali dengan senyuman pahit itu.
Sungguh!! Tak tahu malu.
Hanya akulah wanita bodoh yang tak bersungguh-sungguh dengan keputusanku.
*****
"Mau masak apa, ya, hari ini?" tanya Bulan kepada diri sendiri. Kemudian dirinya berjalan mondar-mandir ke sana kemari mencari sebuah ide.
Seketika energi Bulan terkuras memikirkan apa yang harus dia hidangkan di meja makan nanti malam. Dia mulai merasa kesal sendiri.
"Ah, sial. Kenapa jadi bingung begini, ya?" Bulan mengetuk-ngetuk keningnya sendiri dengan jari. Meja di hadapannya terlihat sangat angkuh, seperti wajah istri yang menantang perempuan yang mengancam keutuhan rumah tangganya. Jika. disebutkan perempuan yang merebut suaminya.
"Jangan seperti itu, jangan!"
Ia ingin menaklukkan meja makan itu. Ia ingin menyuguhkan piring-piring berisi aneka rupa masakan yang mampu membuat lidah siapa saja yang mencicipi takluk, tak mampu bergerak mengucap sepatah kata pun, selain mengecap makanan yang dia buat. Tiba-tiba Fadhla datang menghampirinya dan bertanya,
"Sedang apa kamu, Bulan? Ada apa? Apa ada masalah?"
Perempuan kurus berwajah tirus itu duduk dengan posisi tangan di atas meja seperti orang memohon.
"Aku bingung akan memasak apa hari ini untuk kalian. Aku merasa kehabisan ide, rasanya kesulitan untuk berpikir," eluhnya.
"Lo, kenapa? Kamu masa apa saja boleh. Masak apa saja sebisamu, Bulan. Tidak apa, kok. Bukan masalah jika kamu memasak bukan makanan yang di sukai. Apa pun masakanmu, aku akan memakannya," kata Fadhla kepada Bulan.
Ia menatap lekat-lekat bayangan hitamnya di meja kayu mahoni yang mengilat karena telah dia lap berkali-kali tadi. Seolah-olah meja itu akan berbicara dan memberi tahu masakan apa yang harus dia masak kali ini.
"Ah, aku benar-benar tidak bisa memikirkannya." Bulan menggeleng-gelengkan kepalanya merasa frustasi.
"Bagaimana kalau membuat konsep terlebih dulu?" tanyanya.
"Konsep apa?"
"Konsep untuk makan malam lah," sahut Fadhla.
"Konsep yang bagaimana?" tanya Bulan kebingungan.
Kemudian Fadhla mulai membantu Bulan untuk berpikir. Lampu kuning yang ada di dalam kepalanya pun mulai menyala dan memberikan sesuatu.
"Bagaimana jika membuat konsep makan malam kita secara romantis dengan lilin-lilin atau hangat dengan suasana kekeluargaan?" tawar Fadhla.
"Eh, Tidak, tidak!" Bulan langsung menolaknya begitu saja. Dia merasa bahwa konsep yang romantis dengan lilin sebagai penerangannya terlalu berlebihan. Dia tidak ingin membuat konsep makan malam yang membuanya terdiam kaku karena persiapan makan malam itu.
"Kenapa, Bulan? Ini untukmu dan Eggy, bukan?" tanya Fadhla.
Rupanya Fadhla bisa menebak apa yang ada di dalam Bulan. Ya. Ini memang acara makan malam bersama Eggy, tanpa di temani oleh Fadhla. Telapak tangan Bulan terasa sangat basah, berkeringat Memikirkan hal itu kembali membuat dia gugup dan jantungnya berdetak tak karuan. Bulan tidak dapat membayangkan jika dia harus memasak dengan seromantis itu. Dia berpikir, jika dia melakukan hal itu, kemungkinan Eggy akan tidur bersamanya dan melakukan hal-hal romantis lainnya dengan Bulan. Sesungguhnya Bulan belum siap akan hal itu. Maka dari itu, kemungkinan Bulan akan menolak dulu.
"Masalahnya konsep itu lo, Fadhla. Aku kurang menyukainya. Ada ide lain, tidak?" tanya Bulan.
Fadhla mulai berpikir kembali. "Sebentar, apa, ya?"
"Ayo, dong!" Bulan memasang wajah yang memelas. Dia berharap bahwa ada ide yang lebih menarik dari pada itu. Dengan pikiran yang sangat keras, membuat Bulan kesulitan untuk menemukan sebuah ide. Namun hal itu tidak membuat Bulan kehabisan akal. Maka dari itu, dia pun langsung mengambil konsep yang sederhana saja.
"Aku dapat ide!" ucap Bulan.
"Ide apa?" tanya Fadhla.
Bulan hanya menebarkan sebuah senyuman kepada Fadhla.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)
Terima kasih, semuanya. :*