
Aku mulai keluar dari toilet dengan masih memakai handuk. Terkejutnya aku ketika melihat lampu kamarku gelap. Benar-benar gelap, tak terlihat apa pun. Aku jadi merasa takut akan hal itu. Aku masih terdiam kaku dan kebingungan dengan ini. Mencari aman, aku tetap berada di pintu toilet yang masih cerah. Kemudian, aku mencoba memanggil Eggy.
"Hei! Kakak. Kamu di mana?" panggilku melihat ke sana kemari. Namun tak ada jawaban. "Kak Eggy?" tanyaku lagi.
Aku tidak berani maju. Takutnya jika aku maju, sesuatu yang buruk tiba. Entah itu jatuh, kepeleset, terkejut, trauma yang berkepanjangan, entahlah. Intinya aku tidak ingin maju menuju tempat gelap itu, walaupun itu adalah kamarku sendiri.
Eh, maaf ralat. Sebenarnya ini rumah Eggy. Otomatis, kamar ini juga memang kamar miliknya. Aku coba memanggil namanya sekali lagi.
"Kakak. Kak Eggy. Kamu di mana? Kok ngilang?"
Tak lama setelah itu, tiba-tiba ada bayangan hitam yang perlahan-lahan mendekatiku. Kemudian ada sorot cahaya yang terpancar dari dadanya. Setelah ditelaah dengan saksama, rupanya dia ....
"Ngapain kamu matiin lampu?" tanyaku marah.
Eggy mengabaikanku. Dia hanya menyalakan beberapa lilin yang tersusun rapi di sekitar ranjang. Aku benar-benar tidak mengerti, apa yang akan dilakukannya. Apakah ini adalah suatu rencana dari makan malam bersama? Menurutku, cahaya dari lilin sangatlah romantis.
"Pakailah gaun malam itu," perintahnya. "Aku sudah membuka kantong belanjaannya. Dan aku sangat suka dengan model gaun malam itu. Sangat vulgar," lanjutnya.
Apa? Apa dia mengatakan vulgar? Apakah gaun itu terlalu seksi? Tidak. Seharusnya aku mengecek gaunnya terlebih dulu sebelum aku bayar. Ini kesalahan besar.
"Memangnya sevulgar itu?" tanyaku penasaran, dengan jantung yang deg-degan.
"Tidak sih. Lebih ke seksi, namun elegan," jawabnya.
"Jadi yang sebenarnya vulgar apa?" tanyaku kebingungan.
"Saat kamu berada di kamar mandi," sahutnya
"Dasar mesum! Aku tidak mau mandi."
Jelas aku tidak mau. Wanita mana yang mau diintip ketika sedang mandi? Kecuali sudah nikah. Namun aku kan sudah, katanya.
"Siapa yang mesum? Pikiranmu yang mesum. Mikirinnya hal-hal porno saja," sahut Eggy menggelengkan kepalanya.
Benarkah? Apa iya terlalu berpikiran jauh sampai segitunya? Menurutku sih wajar saja aku berpikiran begitu.
"Jadi, kamu hanya menunggu? Terus pakai gaun ini?" tanyaku memastikan.
"Yup. Kamu sangat pintar memilih seleraku. Ayo pakailah. Jangan lama-lama," sahutnya tidak sabar.
Aku kembal ke kamar mandi. Kemudian aku mulai melihat gaun itu. Menurutku ini tidak vulgar sama sekali. Gaunnya panjang, dengan model sabrina yang terlihat area pundak dan dada atas, kemudian dihiasi dengan brukat, juga pernak-pernik mutiara. Gaun ini pun memiliki corak yang cukup unik. Ini terlihat seperti gaun pesta.
"Sialan! Dia membuatku jantungan. Aku tertipu dengan cara bicaranya. Aku kira gaun ini benar-benar seksi. Rupanya tidak begitu juga," umpatku secara perlahan.
Dengan masih rambut uang basah, aku memakai gaun itu. Rasanya ini kurang pantas. Namun apa boleh buat. Dia menyuruhku untuk cepat-cepat berganti baju. Maka dari itu aku terpaksa memakainya dengan terburu-buru.
"Duduklah!" kata Eggy yang sudah memakai pakaian rapi, lengkap dengan jas, dasi kupu-kupu, juga bunga di saku jasnya.
"Bukannya tadi kamu pakai kolor?" tanyaku keheranan.
"Sudah ganti semenjak kamu ganti pakaian tadi," jawabnya.
"Ah, begitu. Masuk akal juga."
Aku berjalan menghampirinya. Kemudian aku duduk di ranjang, tepat di sampingnya. Aku mulai bingung dengan keadaan sekarang. Rasanya, ada sesuatu yang beda dari dirinya. Bukan aku merasa iri, tetapi hanya saja aku merasa bahwa sesuatu yang dia sembunyikan dan dia niatkan.
"Jadi ...." Aku menggantung kalimatnya.
"Ikut aku, sebentar. Ayo!"
Eggy mengajakku untuk bercermin. Dia mengajakku ke meja rias. Entahlah. Rasanya Eggy tidak begitu ahli dibidang rias. Namun aku akan melihat yang dilakukan dia padaku.
"Ngapain di sini?"
"Aku mau cari sesuatu. Sabar. Di sini gelap. Nyalain lampu dulu," sahut Eggy.
"Salah siapa matiin lampu."
Eggy menyalakan lampunya. Kemudian dia mencari sesuatu. Setelah beberapa saat mencarinya, dia menemukan barang yang dia cari. Yaitu hairdryer.
"Kamu mencari itu? Dari tadi?" tanyaku heran.
"Yup. Aku ingin mengeringkan rambutmu," jawabnya.
Kemudian dirinya menghampiriku dan mulai menyalakan alat pengering rambut itu. Dia kibas-kibaskan ke arah rambutku sampai rambutku benar-benar kering. Lalu setelah kering, dia menyimpan alat itu di meja rias. Setelah itu, dia langsung mengambil sisir dan langsung saja menyisir rambutku secara perlahan. Perasaanku merasa bahwa aku memang sedang dimanja oleh Eggy. Ini tidak biasanya dirinya bersikap seperti ini. Aku masih menganggap hal ini sebagai hal yang menyeramkan yang pernah dilakukan oleh Eggy. Namun modus apa yang dilakukan Eggy malam Ini? Perasaanku menjadi tak tenang.
*****