The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 42



Keesokan harinya, aku bangun pagi dan melakukan rutinitasku seperti dulu. Rutinitas yang masih bisa kuingat pada saat ini.


Pagi ini aku tidak melihat Eggy, yang mengaku menjadi suamiku, berada di kamar. Kemungkinan ia pergi lebih pagi untuk berangkat ke kantor.


Namun entah mengapa kali ini aku sangat merindukan sosok Raihan. Aku ingin segera menemuinya. Aku ingin meluapkan semua rasa rinduku padanya.


Memang benar. Aku mencoba untuk pergi keluar rumah dengan rasa penuh percaya diri dan entah kemana akan kulangkahkan kaki ini untuk menemuinya.


Sampai akhirnya aku pun tiba di sebuah caffe di tengah kota. Entah kenapa aku masih ingat jalan menuju caffe ini. Namun aku tidak sepenuhnya ingat dengan kenangan yang masih ku lupakan.


Aku pun mencoba untuk masuk dengan rasa ragu dan sedikit merasa takut. Aku tidak tahu kenapa aku bisa merasa tertekan seperti ini. Namun yang pasti, aku mengikuti kata hatiku pada saat ini.


Tanpa permisi, aku pun duduk di meja kosong dan clingak-clinguk ke sana-kemari seperti mencari seseorang.


Aku tahu bahwa Raihan tidak mungkin tahu aku berada di sini. Namun keyakinanku adalah ia pasti akan datang di setiap jam-jam seperti ini, yaitu pada jam istirahat.


Benar saja. Dia datang dan langsung duduk di meja kosong. Ia tidak menyadari bahwa aku sedang melihat dan memperhatikannya.


Aku tak dapat menahan rasa rinduku dan dapat menahan rasa inginku untuk cepat-cepat bertemu dengannya. Akhirnya aku pun berjalan menghampiri Raihan.


"Raihan!" panggilku.


Terlihat ia sangat begitu terkejut ketika hendak melihtku.


"B-bulan."


"Raihan!" panggilku lagi sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


Lalu tanpa berpikir apa-apa lagi, aku pun langsung memeluk dirinya. Di hadapan umum.


"Bulan, apa yang kau lakukan?" tanya Raihan merasa risih.


"Aku sangat merindukanmu," jawabku.


Tak lama berselang, tiba-tiba tanpa kuketahui, Eggy datang ke Restoran yang sama dengan Raihan.


Ia mendapati sebuah pemandangan yang sangat tidak menyenangkan. Ia melihatku berpelukan dengan mantan kekasihku. Lebih tepatnya, ia melihat istrinya sendiri berpelukan dengan seorang Manager perusahaannya sendiri.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Eggy langsung pergi dan meninggalkan mereka.


Rasa sakit yang ia rasakan memang sangat dalam. Suami mana yang rela jika istrinya sendiri berpelukan dengan pria lain.


Suami mana yang rela jika istrinya hanya mengingat mantan kekasihnya saja.


Seberapa besar kesabaran dan keikhlasan seorang suami terhadap kebebasan istrinya, tetap saja semua itu akan ada batasnya.


Raihan menyadari adanya Eggy di sana, lalu ia pun langsung melepaskan pelukanku dengan kasar.


"Raihan!"


Aku berbalik badan dan aku sangat terkejut oleh keberadaan Eggy yang tiba-tiba melihat kejadian memalukan ini.


Ia pun pergi begitu saja setelah pelukkan yang ku lakukan telah berlalu.


Darisana, kini aku menyadari bahwa aku memang bersalah padanya.


Setelah kami berada di rumah, aku tidak berani untuk bertanya padanya, bahkan menatapnya saja aku tidak berani. Aku benar-benar sangat malu.


Brakk__


Suara gebrakkan meja terdengar sangat keras.


"Kini aku tahu, kau memang sudah tidak tertarik padaku. Lebih tepatnya kau sama sekali tidak tertarik padaku."


"Apa yang kamu maksud?"


"Kita sudahi saja."


"Apa?"


"Kita gak bisa meneruskan hubungan ini. Karena ini akan sia-sia."


"Maafkan aku, jika itu karena kejadian tadi."


"Aku sudah mencoba untuk terus memaafkan kamu. Tapi apa? Kamu malah mengulangi kesalahan yang sama." Eggy menaikkan sedikit nada bicaranya.


"Aku gak bisa ingat. Aku tidak ingat siapa kamu, aku tidak ingat kamu itu suamiku, aku tidak ingat dengan kenangan kita dulu. Aku tidak ingat, Eggy!" teriakku dengan tangis.


"Lalu kenapa kau tidak percaya padaku, hah?"


"Orang asing?"


"Ya, lalu apa? Bahkan awalnya aku tidak mengenalmu."


"Kembalilah pada mantanmu itu," lirih Eggy.


"Kau menyerah?"


"Dirimulah yang membuatku menyerah, Bulan!"


"Baiklah! Terserah."


Aku pun pergi begitu saja meninggalkannya sendiri.


Aku tak dapat berpikir jernih lagi. Aku langsung mengemasi barang-barangku. Setelah itu aku pun pergi dari rumahnya.


Penuh penyesalan yang ku rasakan saat ini. Kenapa hidupku begitu rumit? Sangat rumit! Memiliki suami yang sama sekali aku tak mengingatnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamku bertanya-tanya kebingungan sendiri.


Kuberjalan di sepanjang jalanan trotoar, tanpa tujuan, tanpa tahu arah, tanpa tahu siapa pun untuk dituju, aku hanya berjalan begitu saja mengikuti jalanan itu.


Lalu tak lama setelah itu dari arah belakang terdengar suara klakson berbunyi 3x.


Teeet... Teeet.... Teeet....


Spontan aku menengok ke arah belakang. Aku melihat sebuah mobil mengikutiku. Aku berhenti sejenak, dan ia membuka kaca jendela mobilnya.


"Ayo masuk!" tegas Eggy.


"Kenapa? Buat apa?" tanyaku cetus.


Eggy menghela napasnya, lalu ia pun keluar dari mobilnya. Ia berjalan menghampiriku.


"Kau akan kemana?"


"Tersesah aku dong! Itu bukan urusanmu."


Tanpa aba-aba dan perijinan dariku, ia langsung memelukku di pinggir jalan, tempat umum, banyak yang melihat, dan membuatku malu seketika.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku seraya mencoba melepaskan pelukkannya, namun itu sangat erat.


"Sebentar saja."


"Kamu itu aneh, manusia aneh!" celaku.


"Kumohon jangan tinggalkan aku."


"Apa?"


"Kau memang tuli atau berpura-pura tuli?"


"Kok jahat sih!"


"Intinya aku ingin kita ulang semuanya dari awal. Kamu mau kan?"


Mendengar itu membuatku berpikir sangat keras, entah jawaban apa yang akan aku putuskan. Apakah aku harus menjawab iya atau tidak?


Eggy mulai melepaskan pelukkannya.


"Bagaimana?"


"Kau tidak marah padaku, walau pun kau tahu aku sering bertemu dengan Raihan? Kau juga tidak marah padaku, walaupun aku hanya ingat pada Raihan?"


"Yang penting aku bisa bersamamu, apa pun yang terjadi."


"Kalau begitu, aku akan mencobanya. Maafkan aku atas segala sikapku yang tidak dewasa ini," ucapku penuh penyesalan.


"Terima kasih. Mari kita mulai dari awal, dan ayo kembali ke rumah."


"Iya, ayo."


"Aku mencintaimu."


"Aku akan belajar."


Eggy hanya terkekeh mendengar kalimat itu, lalu ia kembali memelukku, dan pelukan inilah yang pertama kali membuatku merasa nyaman dan seakkan mengenal sosok Eggy sejak lama. Apakah ini pertanda bahwa aku akan segera mengingatnya? Entahlah. Kurasa ini akan menjadi awal kehidupanku bersamanya. Tetapi Raihan .....