The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 55



Aku terbangun, perlahan-lahan kubuka mataku dan menatap ke langit-langit—melamun sesaat. Aku memikirkan untuk hari ini, bahwa aku akan olah raga bersama dengan Eggy. Perasaanku menjadi canggung, jantungku tiba-tiba saja berdebar begitu cepat.


Entah bagaimana aku akan merasakannya nanti. Namun, aku harus segera bersiap-siap untuk ini. Aku mulai bangun dan pergi ke toilet. Setelah itu, aku mengganti bajuku dengan kaos dan celana pendek. Rambut pun aku ikat seperti ekor kuda.


Tiga hari berturut-turut aku melakukan olah raga. Tubuh ini terasa remuk dan lembek. Namun aku masih tetap sanggup untuk kembali olah raga bersama Eggy. Mungkin, jogging saat ini bersamanya akan dilakukan dengan santai, sehingga aku tidak perlu khawatir untuk terlalu capek.


"Apa kamu sudah beres?" tanya Eggy yang tiba-tiba berdiri di pintu kamarku. Dia mengejutkanku saja.


"Iya, sudah," jawabku.


"Ayo pergi. Keburu siang. Aku ada jadwal siang ini."


"Kalau ada jadwal, mengapa jogging denganku?" tanyaku ketus.


"Masih ada waktu," sahutnya.


"Ah, baiklah," kataku dengan nada yang malas.


Eggy membawaku lari ke sekitar komplek perumahan. Tidak begitu jauh, hanya sekitar sini saja. Apa mungkin karena takut terlambat masuk kantor? Iya kali, ya.


"Joggingnya sekitaran sini saja nih?" tanyaku sambil berlari dengan berdampingan dengannya.


"Yup."


"Berapa putaran?" tanyaku.


"Untuk hari ini satu putaran saja. Keliling kompleks. Jika kamu tahu luasnya komplek ini, kamu akan merasa capek. Karena komplek ini besar dan luas," jelasnya.


Sebenarnya aku tidak bertanya tentang luas dan besarnya daerah perumahan ini. Namun biarlah.


"Ah, begitu. Akan aku coba dua putaran," kataku dengan percaya diri.


"Kamu gak akan kuat!"


"Hilih! Kamu yang gak akan kuat," samgkalku. Lalu aku langsung menambah kecepatan cara berlariku, sehingga aku dapat meninggalkannya.


"Kamu mau ke mana, Bulan?" teriaknya.


"Mengalahkanmu dong!" sahutku sambil menengok ke arah belakang. Lalu kembali fokus pada jalanan di depanku. Tak ku sangka, bahwa Eggy akan menyusulku. Aku tersenyum sambil mencoba untuk menghindarinya.


Sesekali aku menengok ke arah belakang, melihat jarak di antara aku dan Eggy. Sepertinya Eggy tertinggal jauh dari jarakku. Perlahan-lahan sosok Eggy terlihat pudar dan buram, lalu menghilang dari pandanganku.


Beberapa saat, tiba-tiba saja aku terbangun. Aku menyadari bahwa diriku tengah terbaring di kasur. Aku melirik ke arah sekelilingku, rupanya aku sudah berada di rumah.


"Akhirnya kamu sadar juga," ucap Eggy.


"Kenapa kita di sini?" tanyaku kebingungan.


"Kamu pingsan."


"Apa? Kok bisa?"


"Kamu kelelahan. Kemarin kamu habis olah raga siang-siang. Di tengah teriknya matahari. Lalu paginya kamu jogging, pantas jika hari ini kamu pingsan," jelas Eggy.


"Ya. Aku memang kelelahan. Badanku pun terasa pegal selepas itu."


Eggy duduk di sampingku. Dia mengusap wmdari rambut dan merambat ke wajahku dengan lembut.


"Seharusnya kamu bisa menjaga kesehatanmu."


Sejenak aku terdiam karena gugup olehnya.


"Kapan?" tanyanya mengernyitkan dahi.


"Waktu lalu." Aku merasa gemas sendiri dia berpura-pura lupa dengan apa yang diucapkannya.


"Gendutan?" tanyanya.


"Ya."


"Gendutan dan gemuk itu berbeda, Sayang," ucap Eggy terkekeh.


Sejenak aku melamun dan berpikir tentang perbedaannya. Apa yang berbeda? Kurasa dua kata itu memiliki makna yang sama.


"Itu sama."


"Beda."


"Sama saja. Keras kepala ih," kesalku.


"Yasudah, iya. Aku ngalah. Ayo bangun! Minum susu dulu. Mumpung masih hangat."


Aku pun perlahan-lahan terbangun. Lalu mulai meminumnya dengan hati-hati. Setengah gelas aku minum, lalu aku pun memberikannya kembali.


"Habiskan!" perintahnya.


"Tidak ah. Gak mau. Aku merasa mual," ucapku.


"Jangan bilang kamu hamil ya."


Mendengar kalimat itu, aku sangat terkejut. Hamil? Apa-apaan dia? Hamil sama siapa? Aku melakukannya dengan siapa? Gila! Dasar menyebalkan.


"Jangan asal bicara, ya."


"Hahahaha. Yasudah, kamu mandi dulu gih. Bau badan. Sprei, bantal, dan selimut juga ikuta bau keringatmu. Keknya ranjang juga harus diganti deh," goda Eggy.


Aku memukul lengannya pelan-pelan. "Berisik ah! Gak sampe segitunya kali. Aku gak begitu bau juga. Hm."


Eggy tersenyum padaku, lalu dia pun mengacak-acak rambutku. "Aku pergi dulu ke kantor ya. Jaga dirimu baik-baik."


"Memangnya kamu sudah mandi?" tanyaku. "Tapi, kamu kok sudah berpakaian rapi? Apa kamu tidak mandi dan langsung mengganti pakaian?" lanjutku bertanya-tanya kebingungan.


"Enak saja."


"Lalu?"


"Semenjak kamu pingsan, terus tidak bangun-bangun, aku tinggal mandi dan bersiap-siap. Agar saat kamu bangun, aku langsung pergi. Tetapi aku tidak tega pergi begitu saja. Nanti kamu malah bingung," jelas Eggy.


"Jahat!" tukasku.


"Jahat dari mana? Aku menunggumu sampai kamu sadar, aku masih menemanimu walaupun sebentar," sahutnya.


"Iya deh, iya. Kamu memang menemaniku."


"Aku berangkat dulu," pamitnya. Kemudian dia berjalan keluar dari kamarku.


Setelah dirinya pergi, aku terdiam melamunkannya. Entah mengapa aku tersenyum sendiri saat mengingat kejadian tadi. Dan bodohnya aku, bisa-bisanya aku pingsan ketika lari pagi saat bersamanya. Sungguh konyol. Benar-benar konyol. Lalu aku pun beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badanku.


*****