
Waktu lebih cepat berlalu. Beberapa makanan yang dipesannya, sudah aku cicipi sebagian. Namun tak sanggup aku habiskan karena makanan itu sangat banyak dan sedikit makan saja sudah terasa kenyang. Sampai aku melupakan tujuanku kemari untuk membeli baju baru. Astaga! Waktuku sia-sia termakan gosip dengannya.
"Aku sebenarnya tidak enak berbicara begini padamu, tetapi aku harus mengatakannya," kataku ragu-ragu.
"Apa yang akan kamu katakan?
"Aku sebenarnya ingin membeli sesuatu. Namun karena kita bertemu dan mengobrol yang amat panjang, jadinya tujuan awalku tertunda karena itu," sahutku padanya.
"Benarkah? Kenapa kamu tidak bilang?" tanyanya merasa tidak enak.
"Aku lupa. Mungkin karena saking menariknya dengan ceritamu kali ya. Jadi keenakan," sahutku.
"Seberapa menarik sih, ceritaku? Menurutku itu cerita yang biasa saja." Fadhla tersenyum sambil sesekali mengalihkan pandangannya, mungkin dia mulai merasa malu juga. "Kalau begitu, aku temani tujuanmu ya. Kamu akan beli apa?" lanjutnya menawarkan diri.
"Hanya membeli beberapa baju setelan, dan sepasang sepatu saja. Setelah itu, aku niatnya mau ke rumah teman. Tetapi kayaknya tidak akan keburu juga, karena hari sudah mulai sore. Hehehe."
"Ah, maaf. Gara-gara aku, kamu jadi gak bisa melengkapi tujuanmu."
"Tidak apa. Aku bisa ke rumah temanku lain kali. Terima kasih sudah berbagi cerita denganku," ucapku.
"Baik. Terima kasih juga sudah mau mendengarkan. Kalau begitu, aku akan menemanimu belanja pakaianmu. Sebagai tanda maaf karena kamu tidak jadi menemui temanmu," tawarnya.
"Aku merasa bahwa kita seperti peegi berkencan," celetukku dengan polosnya.
"Wah, wah, wah. Kamu bisa saja ya." Fadhla menggelengkan kepalanya.
"Hahaha. Maaf, terlalu berlebihan ya? Baiklah. Lupakan masalah tadi. Aku akan pergi mencari pakaian."
Aku pun lekas melihat-lihat pakaianku di sana. Ada beberapa yang membuatku jatuh cinta. Selain jumpsuit, aku menyukai pakaian dress pula. Alhasil, aku membeli baju jumpsuit, pakaian dress, lalu membeli kemeja dan celananya, dan satu pasang lagi baju setelan yang entah apa nama setelan itu.
"Kamu belanja banyak nih? Apa kamu hobi belanja?" twnya Fadhla.
Aku pikir Fadhla menganggapku matre dan doyan menghabiskan uang untuk membeli banyak barang. Sepertinya aku harus meluruskan kesalah pahaman pemikirannya ini.
"Tidak. Bajuku banyak yang ngepas. Aku gendutan. Jadi terpaksa harus membeli pakaian baru. Aku sudah izin juga kok, dia mengizinkan aku. Karena memang, aku juga tidak suka begitu belanja barang-barang yang tidak penting. Aku tidak sekaya itu untuk dapat mengahabiskan uang. Apalagi yang aku pakai ini adalah uang orang lain," jelasku.
"Uang orang lain?" tanyanya seakan terkejut mendengarku berkata seperti itu.
"Bukan uang hasil rampok kok. Toh aku sudah izin."
"Kukira. Lagian kamu menjelaskannya tidak terlalu jelas. Makanya berpikir negatif."
"Sudah aku duga. Tidak apa-apa kok." Aku tersenyum. "Kalau begitu, aku akan bayar pakaian ini dulu, setelah itu aku mau beli sepatu," lanjutku.
"Baiklah. Silakan."
Aku pun meninggalkannya sebentar. Kemudian aku membayar kebutuhanku. Setelah dibayarkan, aku mulai menghampirinya kembali dengan membawa beberapa kantong tas berisi baju yang aku beli.
"Sini biar aku bantu. Aku saja yang pegang barangnya," tawarnya sambil mencoba membawa barang-barangku.
"Tidak usah. Biar aku saja."
"Tidak, tidak. Kamu kerepotan. Biar aku saja yang bawakan. Kamu kan mau fokus melihat2 sepatu," katanya.
Memang benar sih. Jika aku yang bawa semua barang-barangku, mungkin aku akan kerepotan dengan hal itu. Namun, aku merasa tidak enak. Masa barang-barangku dibawa olehnya? Aku dan dia kan baru saja saling mengenal, apakah ini baik?
"Kalau yang ini bagus gak?"
"Menurutku bagus juga kok."
Aku mengambil model sepatu yang lainnya lagi untuk dibandingkan padanya.
"Kalau sama yang ini, bagusan mana?" tanyaku lagi.
"Menurutku, bagus atau enggaknya tergantung bagaimana kamu pakai. Kalau di kakimu terlihat bagus dan nyaman, itu artinya sudah cocok denganmu," jawabnya.
Setelah dipikir-pikir, memang benar juga apa katanya. Aku harus coba sepatu ini satu persatu.
"Baiklah. Akan aku coba."
Aku pun langsung mencobanya. Sebenarnya aku merasa nyaman dengan sepatu-sepatu ini. Hanya saja aku harus membeli salah satu dari mereka. Sayang sekali.
"Yang itu sudah bagus kok."
Aku tersenyum padanya. Kemudian aku mulai berpikir akan pilihanku. Ada dua pilihan sepatu yang membuatku bingung. Aku terus memperhatikan kedua sepatu itunsecara seksama. Hal ini aku benar-benar bingung, karena harus memilih satu di antara mereka.
"Mba!" teriak Fadhla.
Kemudian pegawai yang ada di Mall itu pun menghampirinya.
"Tolong bungkuskan dua sepatu ini," ucap Fadhla pada pegawai itu. "Kakimu nomor berapa?" lanjutnya bertanya padaku.
Jujur saja. Aku sangat kaget mengetahui hal itu. Aku tidak berniat untuk membeli keduanya.
"Eh, tapi aku hanya akan beli satu sepatu," sahutku.
"Aku yang bayar untuk yang satunya lagi," ucapnya.
"Tapi ...."
"Sudah. Sebutkan saja nomor kakimu padanya."
Dengan perasaan sungkan, aku pun menyebutkan nomor sepatu yang sering aku pakai. "37."
"Dua-duanya nomor 37 ya, Mba."
"Baik."
Pegawai itu pun membungkuskan kedua sepatu itu. Kemudian Fadhla malah membayar kedua sepatu itu. Astaga. Kenapa jadi begini? Padahal aku gak minta untuk dibelikan.
"Aku jadi gak enak sama kamu. Nanti akan aku ganti uangmu, ya."
"Eh, gak usah. Itu sebagai tanda maafku dan tanda perkenalan kita," kata Fadhla.
"Terima kasih ya. Pokoknya suatu saat akan aku ganti uangmu dengan uangku."
"Aku tidak mengaharapkan itu ya. Jangan salahkan aku jika nanti aku menolaknya," kata Fadhla kepadaku. Aku benar-benar merasa malu dengan hal ini. Aku pun merasa menjadi canggung ketika di dekatnya. Hari ini mungkin aku memang hoki, memang punya rejeki dari dua lelaki, yaitu Eggy dan juga Fadhla. Aish! Raihan pun sebenarnya sama baiknya.