The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 40



Waktu memang begitu cepat untuk berlalu.


Akhirnya aku bisa dipulangkan dari rumah sakit untuk mendapatkan perawatan di rumah.


Perasaanku sedikit lega karena aku tak akan lagi bertemu dengan makanan orang-orang sakit yang kurang lezat untuk disantap. Aku pun kini bisa bebas untuk melakukan banyak hal yang aku sukai.


Namun, apakah aku harus menerima dengan penuh bahwa Eggy benar-benar suamiku?


"Kita akan pulang ke rumah," ucap Eggy sambil membereskan semua barang-barangku.


"Apa aku punya rumah?" tanyaku.


"Kau istriku, tentu saja kau serumah denganku," jawab Eggy tersenyum mendengar pertanyaanku seperti itu.


"Oh, iya. Aku sering lupa bahwa aku sudah menikah," sahutku.


Eggy hanya menatap dan tersenyum padaku.


Setelah semuanya sudah di bereskan, akupun segera pergi menuju rumah tempat kami tinggal dulu.


Akan kupersingkat.


Kami pun sampai di rumah Eggy dan kami segera masuk ke dalam rumah.


Saat sudah di dalam, aku dikejutkan oleh dua orang yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Seorang wanita dan seorang pria dengan memakai pakaian yang rapi nan elegan. Aku tidak tahu mereka siapa, yang aku curigai meteka adalah salah satu keluarga Eggy.


"Mami, Papi!" panggil Eggy.


"Eggy, sayang," sahutnya.


Benar apa yang aku curigai, mereka bahkan orang tuanya.


Dengan malu-malu aku berjalan ke arah mereka. Memberi hormat sebagaimana menantu menghormati mertuanya.


Aku pun mencium tangan mereka sebagai tanda hormatku padanya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ibu Eggy.


"Aku baik," jawabku singkat.


"Bagaimana kabar dengan orang yang berhutang pada kita? Apakah mereka sudah melunasinya? Hampir tiga tahun papi tidak mendengar kabar itu," katanya pada Eggy di hadapanku.


Terlintas aku ingat akan hutang piutang keluargaku. Namun aku tak ingin memaksa otakku untuk terus mengingatnya. Aku tidak ingin kepalaku merasa sakit di hadapan mereka.


"Pap, nanti kita bicara lagi setelah aku mengantarkan Bulan ke kamar," sahut Eggy.


"Baiklah."


Papanya Eggy terlihat tidak senang ketika ia melihatku. Ia tak memyapaku atau pun tersenyum padaku. Namun aku tidak memperbesar masalah itu, aku anggap bahwa urusan bisnis mereka memanglah sangat penting, sehingga membicarakan masalah bisnis tanpa pribadi.


Akupun menuruti apa yang di ucapkannya. Yaaa... Bagaimana lagi? Aku memang sudah tidak berdaya lagi.


Sesampainya di kamar, terlintas aku mengingat sosok Eggy sedang merayuku dengan hisapan ciuman di leherku. Tepat di dekat jendela kamar.


Ingatan itu terlintas begitu saja ketika aku melihat ke arah jendela. Entah apa yang sudah aku pikirkan, kurasa pikiran mesum itu memang salah. Aku tidak mungkin melakukannya dengan seseorang yang aku sendiri tidak mengingatnya. Jika dia memang benar suamiku dan aku mencintainya, kurasa aku takan melupakan sosok dia.


"Ini kamarmu. Istirahatlah, sayang!" kata Eggy sambil mencium keningku.


Jujur saja. Aku terkejut dengan dirinya yang tiba-tiba mencium keningku. Namun di sisi lain, kenapa aku merasa sangat senang?


Dilema apa yang sudah mempermainkan diriku dan juga pikiranku?


"Apakah lama?" tanyaku yang tiba-tiba keluar dari mulutku.


Eggy tersenyum.


Lagi-lagi senyuman itu yang ia perlihatkan padaku. Aku tak bisa menahan perasaanku jika melihat senyumannya. Seakan aku terbuai dan terpana oleh senyumannya. Hal ini membuatku merasa sangat aneh.


"Aku takan lama." jawab Eggy.


"Baiklah. Aku akan menunggumu. Ada banyak pertanyaan yang harus aku tanyakan padamu," kataku.


"Baiklah. Tunggu aku!" sahutnya.


Ia pun pergi dengan meninggalkan senyuman dalam pandanganku.


Kenapa? Kenapa aku selalu ingin melihat senyumannya. Seakkan baru pertama kali melihat senyuman yang indah dari bibir kecilnya?


Kurasa dulu aku memang jatuh cinta padanya, namun tak berlangsung lama. Ataukah aku menikah dengannya untuk melupakan Raihan?


Dan jujur, aku memang sangat menyukainya ketika ia terus tersenyum padaku seperti itu. Aku benar-benar menyukainya.


Ah, aku tak ingin terus memikirkannya lagi. Yang harus aku lakukan adalah terus mengikuti alur dan menerimanya sebagai suamiku, walaupun hati ini tak menerimanya. Agar aku dapat tahu semua kenanganku dan tentang yang sudah ku lupakan.


Tap... Tap... Tap...


Suara langkah kaki terdengar menghampiri kedua orangtua itu.


Terlihat wajah sang ayah memasang raut yang serius, seakan ia memendam rasa amarah terhadap Eggy.


Dengan tenang, Eggy datang menghampirinya dan mulai menyapanya.


"Pap, apa kabar?" tanya Eggy.


"Baik!" jawabnya singkat. "Duduk! Papi ingin berbicara denganmu. Ini hal yang serius," tambahnya.


Eggy lekas duduk berhadapan dengan ayah dan ibunya. Perasaannya mulai merasa tidak enak terhadap pandangan orang tuanya. Entah apa yang akan ia hadapi ketika orang tuanya mulai berbicara. Namun ia harus bersiap untuk itu. Karena apa pun yang terjadi, ia harus tetap tenang untuk bisa berpikir dengan jernih dan menghadapi semuanya.