
Tema cerpen : Mitos, seorang wanita yang selalu berdiri di pinggir jalan dengan memakai pakaian serba hitam.
Genre : Horror
Judul cerpen : Wanita Pinggir Jalan
Karya : Lani Nurohmah
Jalan Cahaya Senja. Jalan tersebut sudah tidak asing lagi untuk di dengar. Sama seperti cerita mistis di jalanan yang bernama terowongan Casablanca, tepatnya di Menteng Dalam, Tebet, Kota Jakarta Selatan. Katanya jika melewati jalanan tersebut, kita harus membunyikan suara klakson kendaraan berulang kali, untuk menghindari terror penghuni jalanan tersebut.
Sama seperti Jalan Senja, jika kita melewati jalanan tersebut kita harus meminta do'a terlebih dulu dan tutup mata ketika hendak melewatinya. Jika tidak, kita akan bertemu dengan seorang wanita yang mematung di bawah lampu pijar, dengan memakai pakaian panjang berwarna hitam, rambut diikat bawah yang ia uraikan ke depan, tepat di pinggir dadanya.
Namun itu bukan wanita yang sedang menunggu ojek online, melainkan penunggu di jalanan tersebut.
Jika kita bertemu dengannya, masyarakat disana percaya, bahwa wanita tersebut akan membuat kita menjadi orang hilang atau berpindah tempat dengan seketika. Benarkah?
*****
Malam yang sunyi, angin yang berhembus dengan kencang, membuat seluruh bulu kudukku berdiri karena menahan dinginnya angin malam di sepanjang jalan.
Aku berjalan sendirian melewati Jalanan Cahaya Senja, yang semua orang tahu bahwa jalan itu, banyak rumor tentang seorang wanita mistis penunggu jalan sana. Namun aku tidak begitu percaya, aku tetap melewati jalanan itu untuk pergi ke rumah nenekku. Sendirian.
Di sepanjang jalan, aku tak melihat apa-apa. Gelap. Sepi. Sunyi. Tidak ada seorang pun yang berani melewati jalanan ini pada jam 23:58 malam. Itu artinya hanya aku saat ini yang berani melewatinya.
Kemudian dari arah kejauhan, terlihat samar-samar seperti seorang wanita yang sedang berdiri di bawah lampu pijar. Ia mematung tak bergerak sambil menengok ke arahku. Ku perhatikan dengan seksama, pandangannya menatap tajam ke arahku. Perasaanku mulai berubah saat menyadari wanita itu memang sedang memperhatikanku berjalan kr arahnya. Entah itu benar atau tidak, itu terlihat samar-samar dimataku.
Ku berjalan semakin dekat mendekatinya.
Pikiranku mulai berubah menjadi memikirkan hal yang tidak-tidak. Perasaanku berubah menjadi takut bercampur dengan kegelisahan.
Aku sudah semakin dekat dengannya, ia tersenyum padaku dan aku coba untuk membalas senyumannya dan tiba-tiba saja, seluruh tubuhku tidak bisa bergerak, aku terjatuh, tergelepak begitu saja dihadapannya. Napasku mulai berat, tak bisa berkata-kata, bahkan untuk meminta tolong saja aku tak mampu. Namun aku masih bisa mendengar suara jangkrik dan hembusan angin yang melewati tubuhku.
Lampu pijar yang tadinya menerangi sepanjang jalanan, tiba-tibaย berubah menjadi gelap. Jika aku tahu keadaan akan seperti ini, aku lebih memilih percaya kepada masyarakat untuk tidak menatap wajahnya, juga tidak menatap matanya dan tersenyum takut padanya.
Lalu, wanita itu berjalan ke arah hutan, yang entah aku sadari bahwa di jalanan Senja terdapat semacam kebun atau hutan, aku tidak tahu persis. Aku tetap tidak bisa menggerakkan tubuhku, semua urat sarafku dilumpuhkannya. Seketika aku mendengar suara bisikan di telingaku.
"Mari ku antar!"
Terkejut aku dibuatnya karena bisikan kalimat itu. Aku hanya bisa menoleh lewat kedua bola mataku saja.
Jantungku berdetak semakin kencang. Keringat dinginku mulai keluar dan bercucuran di sepanjang wajahku.
Ku berdo'a dalam hati, "Ya Allah... Lindungilah hamba, jauhkanlah hamba dari pikiran buruk, dan tutuplah mata bathin hamba, agar hamba tak dapat lagi bisa melihatnya."
Tiba-tiba saja, aku tersadar bahwa saat ini aku tengah duduk di sebuah kursi roda, dan gadis berbaju hitam itu mendorong kursi rodaku seraya menyanyikan sebuah lagu Jawa yang sudah banyak diketahui tentang kemistisannya, yaitu Lengser Wengi.
Lagu itu semakin membuatku merasa takut dan merinding di buatnya. Ia berjalan seraya mendorongku dengan menyanyikan lagu tersebut dengan lantunan nada sinden yang jika orang-orang mendengarnya, akan ikut terhanyut pada kemistisan lagu tersebut.
Di sepanjang jalan, di sepanjang nyanyiannya aku melihat wanita berambut panjang dan ia tertawa seram ke arahku. Seperti cekikikan, namun ini lebih menyeramkan. Lalu aku melihat suatu mahluk aneh dengan mata di tangannya. Juga pocong dengan wajah yang tak beraturan. Dari arah kejauhan sudah terlihat ada beberapa mahluk halus yang sedang memperhatikanku, sebagian seperti meminta tolong padaku.
Aku tidak mengerti. Tatapan mereka sangat menyeramkan, bahkan jika aku berkedip saja, seakan ia berada di depanku saat ini. Radanya akupun ingin memejamkan mata tanpa membukanya, dan yang paling mengagetkan adalah dengan tiba-tiba ada seorang wanita yang datang padaku dengan terus membunyikan sebuah lonceng di tangannya.
Semua itu membuatku depresi singkat dan ingin menjerit sekeras-kerasnya dan sekencang-kencangnya. Namun apa daya, aku tak bisa. Aku telah lumpuh dan tak mampu untuk bergerak, bahkan bicara pun aku kesulitan.
Sampai akhirnya dengan menahan rasa takutku dan nyanyian itupun berhenti. Tak terasa aku sudah sampai di depan rumah nenek. Perjalanan itu bagaikan teleportasi atau semacam ruang waktu untuk sampai menuju tempat tujuan.
Karena aku masih terduduk di kursi roda dan anehnya aku tetap lumpuh. Nenekkupun membuka pintu rumahnya.
Aku masih terengah-engah, seakan aku mati dalam kehidupan. Tanpa ku sadari aku tengah berdiri tegak di hadapan seorang wanita dan juga aku dapat berbicara seperti biasanya.
"Wanita di pinggir jalan, itu..." Dengan nada bergetar kalimatku terpotong olehnya.
"Cucuku, malam-malam begini, diantar siapa?" tanya nenekku terheran-heran.
"Wanita di jalan Senja." jawabku singkat.
Sontak nenek memasang raut wajah yang tegang dan juga cemas, kemudian ia pun segera menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam rumah.
Setelah di dalam rumah, kami berduapun duduk saling berhadapan. Suasana kembali mencekam dan ketegangan kembali mengelilingi sanubariku.
Terlihat dari raut wajah nenek, ia waspada dannmelihat ke arah sekitar rumah. Terlihat jelas bahwa nenek kini merasa takut, karena pengakuanku barusan.
"Apa kau tahu, nak?"
Aku terpelonjak. "Tahu apa, nek?" aku bertanya kembali, karena aku memang tidak tahu.
"Kau bisa saja diantar ke tempat lain." jawab nenek.
"Maksudnya?"
Sejenak nenek terdiam dan bertingkah aneh. Rasanya ini bukan sikap nenek yang biasanya, tatapannya pun kini berubah menjadi sedikit tajam dan seperti mengancam ketika ia menatap ke arah wajahku. Lalu disusul dengan sebuah senyuman kecil, seperti senyuman jahat yang juga akan mengancamku.
"Lihatlah disekitarmu!"
Aku pun melihat ke arah sekitarku dengan perasaan yang dua kali lipat rasa takutnya. Terkejut kembali ku dibuatnya, bahwa aku menyadari bahwa kini aku berada di tengah-tengah kuburan yang luas, terdapat banyak pohon besar dan juga bau-bau kemenyan.
Aku kembali syok ketika mendapati apa yang tengah ku lihat saat ini. Disetiap sudut, ku melihat banyaknya mahluk halus yang tak bisa ku jelaskan lagi. Saking banyaknya, dadaku terasa engap, pandanganku perlahan-lahan terlihat tidak jelas dan berkunang-kunang.
Rasanya aku akan pingsan hari ini juga dan semuanya pun akan cepat berlalu.
Namun wanita yang menyamar jadi nenekku itu, adalah wanita di pinggir jalan penunggu Jalanan Senja. Betapa tertipu dayanya aku di permainkan oleh mahluk halus seperti itu.
Wanita itu hanya tertawa keras, tertawa puas melihatku kebingungan dan ketakutan seperti ini. Sampai akhirnya aku pun terjatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
TAMAT
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. ๐๐
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*