The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 164



Terlihat Bulan dan Fadhla sedang berjalan kaki di sekitar luar rumah sakit. Mereka berdua mencari makanan di pinggiran jalan. Kemudian mereka menemukan ada pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang jalan dan begitu sangat ramai pembeli. Bulan pun berniat untuk membeli beberapa makanan tersebut dari beberapa pedagang itu.


"Fadhla. Ayo kita beli beberapa camilan di sana!" ajak Bulan.


"Ayo, Bul. Kebetulan aku belum pernah mencicipi makanan pinggir jalan lho," kata Fadhla.


Bulan menengok. "Hah? Serius? Kamu belum pernah?" tanya Bulan merasa tidak percaya.


"Aku serius, Bulan. Aku tidak pernah makan cemilan pinggir jalan," jawab Fadhla dengan jujur.


"Astaga, Fadhla. Yaudah. Kali ini kamu harus mencobanya, ya! Beli beberapa. Kalau bisa setiap pedagang kita beli makanan mereka," kata Bulan sambil menarik tangan Fadhla dan berjalan menuju para pedagang itu.


"Eh, serius?"


"Bodo amat!"


Ketika Bulan berada di salah satu pedagang tersebut, dia membeli dua porsi batagor untuk di bungkus.


"Pak, saya beli dua porsi, ya. Bungkus saja," ucap Bulan.


"Kenapa tidak di makan di sini saja?" tawar Fadhla.


Bulan terdiam sejenak. Kemudian dia berpikir.


"Ah, iya ya. Apa tidak akan lama jika kita makan di sini?" tanya Bulan kepada Fadhla.


"Sepertinya enggak deh. Ayo kita makan di sini saja, Bulan. Bukan masalah sih mau lama atau pun sebentar juga," jelas Fadhla.


"Tapi Kak Eggy kan sedang menunggu kita di dalam rumah sakit. Adelia juga sudab dipindahkan ke ruangan yang lain. Dan kita gak tahu Adelia ada di ruangan mana," kata Bulan menjelaskan.


"Kita akan tanya ke ruang informasi. Pasti kita akan gampang mencarinya kok," kata Fadhla.


"Gimana, ya?" Bulan masih berpikir-pikir.


"Ayolah! Lagian di rumah sakit juga masih lama. Gimana kalau gak di bolehin makan di dalam ruangan sana? Hayo?" tanya Fadhla.


"Yaudah, deh. Kita makan dulu di sini. Sebentar tapi, ya," sahut Bulan.


"Oke, deh."


Bulan dan Fadhla pun makan batagor di pinggir jalan. Dia duduk di kursi plastik yang telah di sediakan di sana. Kelihatannya Fadhla seperti ragu untuk duduk di sana. Dia merasa gelisah.


"Kenapa, Fadhla? Ada apa?" tanya Bulan.


"Mm, aku takut. Apakah kursi ini kuat?" tanya Fadhla cemas.


"Tentu saja, Fadhla, kursi itu pasti lah kuat," jawab Bulan terkekeh. Dia tidak menyangka bahwa Fadhla akan menanyakan hal konyol seperti itu padanya.


"Aku cemas. Karena ini plastik, sepertinya kurang kokoh."


"Itu kokoh kok. Banyak yang duduk mulai dari yang kurus sampai yang gendut, masih tetap kuat," jelas pedagang batagor tersebut.


Fadhla cengengesan. "Hehehe. Maaf, Pak."


"Kamu ini ada-ada saja," jawab Bulan menggeleng-gelengkan kepala.


"Ini makanannya," kata tukang pedagang itu seraya memberikan mangkok yang berisi batagor tersebut ke arah mereka.


"Terima kasih, ya."


Terlihat Bulan sangat menikmati hidangan yang sedang di santapnya itu. Lalu Fadhla mencoba untuk memabahas tentang sikap Eggy terhadap Adelia di rumah sakit tadi. Dia penasaran dan ingin tahu lebih jelas tentang perasaan Bulan dan pendapatnya mengenai hal itu.


"Hei, Bulan!" panggil Fadhla.


"Ada apa?" tanya Bulan sambil mengunyah makanan.


"Menurutmu, apa Eggy kelihatannya berubah?" tanya Fadhla kepada Bulan.


"Maksudnya berubah?" tanya yang Bulan terheran-heran yang masih mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Ah, itu. Wajar saja. Adelia baru saja mengalami kecelakaan. Wajar jika dia perhatian," sahut Bulan dengan santai. Dia tidak berpikir yang aneh-aneh dengan hal itu. Walau pun seketika dirinya merasa cemburu juga terhadap kedekatan Eggy dan Adelia.


"Apa kamu gak takut, perhatian Eggy akan lebih besar pada Adelia karena saat ini dia sedang sakit," kata Fadhla.


"Aku tahu Eggy bakalan lebih memperhatikan Adelia. Lagian, status di mata umum aku sudah bercerai dengannya," kata Bulan.


"Tapi kamu tetap masih istrinya, Bulan." Fadhla menegaskan.


"Tapi status umumku bukan itu, Fadhla. Mengertilah dengan keadaanku saat ini. Aku pun tidak bisa memutuskan apakah aku harus menjadi egois atau bagaimana? Karena aku pribadi memang merasa sangat tidak ikhlas jika Kak Eggy dengan wanita lain. Siapa yang mau sih jika pasangannya dengan wanita lain? Apa lagi kalau harus menikah," kata Bulan dengan panjang lebar.


"Lalu mengapa kamu diam saja? Mengapa kamu tidak berusaha memperjuangkan Eggy?" tanya Fadhla.


"Kamu lupa, ya? Aku sama Eggy kan memutuskan untuk bercerai karena memperjuangkan perusahaannya yang sedang di ambang bangkrut. Kamu paham akan hal itu," jelas Bulan yang malah berdebat dengam Fadhla di pinggir jalan sambil memegangi piring berisi batagor itu.


"Seandainya tidak bangkrut, bagaimana?" tanya Fadhla.


"Apanya? Sudah jelas hal itu tidak terjadi," Sahut Bulan.


"Seandainya, Bulan. Jika seandainya tidak bangkrut, bagaimana?" tanya Fadhla sekali lagi.


"Entahlah, Fadhla. Aku banyak dorongan dari ibumu yang terus memintaku untuk berpisah," jawab Bulan dengan lemas.


"Lalu, apa kamu akan melakukan hal seperti ini lagi? Berpura-pura menjadi mantan istri?"


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Bulan yang hampir kehabisan akal.


"Kamu harus tegas. Jika cerai, bercerailah. Jika tidak, bertahanlah," jawab Fadhla.


"Bagaimana caranya aku bertahan jika ibumu saja tidak suka padaku," kata Bulan.


"Lalu bagaimana dengan keadaan nanti saat Eggy sudah menikah dengan Adelia. Lalu kamu bagaimana?" tanya Fadhla.


"Jalani saja, Fadhla. Aku harus apa? Menghentikan mereka? Yang ada aku ditangkap polisi, dikurung di penjara karena merusak acara. Lalu aku akan di kenal sebagai wanita yang buruk. Aku akan tercela," kata Bulan memberi penjelasan.


"Kamu memang benar, Bulan."


"Lalu harus apa?"


"Kamu menerima dimadu, Bulan?" tanya Fadhla.


"Tidak. Sebenarnya tidak. Namun bagaimana lagi," jawab Bulan.


"Kalau begitu, menikahlah denganku, Bulan. Agar bukan hanya kamu yang merasa tersakiti. Namun Eggy juga merasakannya," ajak Fadhla kepada Bulan.


Seketika Bulan tersedak makanan, lalu dia terbatuk-batuk. Dia terkejut dengan apa yang di katakan oleh Fadhla padanya. Dia tidak menyangka bahwa Fadhla akan mengatakan hal semacam itu kepada kakak iparnya sendiri. Ini mulai sangat tidak beres. Benar-benar tidak beres. Bisa-bisanya Fadhla mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi padanya. Ini sangatlah konyol.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi ******* dengan akun (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 1-M joy. Silakan di cek.


Ada cerita kisah nyata tentang masa mudaku di aplikasi Kwikku berjudul Labil (plin-plan). Novel itu kisah nyata tentang masa mudaku di sekolah.


Jika ingin mengenalku lebih de


kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*