The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Bertanya



"Wanita itu temanmu, ya?" tanya Bulan kepada Fadhla.


"Ya. Dia teman lama. Dia dulu terkenal banget di sekolah, sampe banyak banget orang yang suka sama dia," jawab Fadhla.


"Apakah itu termasuk dengan kamu juga?" tanya Bulan.


Sontak Fadhla terdiam dan menatap ke arahnya. "Apa kamu mengintimidasiku?"


Bulan berpura-pura membereskan barang belanjaannya ke dalam kulkas. "Tidak. Aku hanya bertanya saja."


Fadhla terkekeh. "Aku berpikir bahwa ada sesuatu dalam batinmu. Nakun sepertinya aku salah."


"Apa yang kamu tangkap?"


Fadhla mendekati Bulan. Kemudian dirinya memeganhi tangan Bulan. Bulan terkejut dan canggung mendapati sikap dari Fadhla yang seperti itu. Ada hal aneh yang terjadi pada diri Bulan. Saat Fadhla menatap matanya lekat-lekat, Bulan merasakan bahwa jantungnya mulai berdebar kencang. Ada apa ini? Begitu pikirnya.


"Maaf jika aku lancang. Namun sepertinya aku mulai menyukaimu," kata Fadhla.


Pernyataan itu jelas membuat Bulan sangat terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Fadhla akan mengatakan hal itu padanya. Mereka tahu bahwa hubungan mereka tidaklah benar, tetapi karena suatu permasalahan, maka mereka diharuskan bersikap seperti itu. Namun jika sampai mereka berdua saling memiliki perasaan, sudah pasti akan ada masalah yang besar bagi mereka.


Bulan menarik tangannya. "Jangan bercanda!"


Bulan kembali membereskan belanjaannya dan bersikap biasa saja. Kemudian Fadhla tertawa kecil padanya.


"Bagaimana menurutmu, Bulan?" tanya Fadhla padanya.


"Apa yang harus aku jawab?" Bulan tidak mengerti.


"Aku pernah mengatakan itu kepada Soraya," sahut Fadhla.


Bulan kembali dikejutkan dengan pernyataan yang diungkapkan olehnya. Rupanya kalimat itu adalah masa lalunya kepada Soraya. Bukan kepada dirinya. Seketika perasaan Bulan merasa tenang, tetapi di sisi lain pun dirinya merasa kecewa akan hal itu.


"Baguslah. Terus apa yang dia katakan padamu?" tanya Bulan mencoba untuk meresponnya dengan baik.


"Dia tertawa dan menamparku," jawab Fadhla tertawa.


"Mengapa? Kamu hanya mengutarakan perasaanmu saja. Mengapa ada tamparan?" tanya Bulan kebingungan.


"Karena pada waktu itu aku gak begitu kenal dengan Soraya. Soraya sangatlah terkenal di sekolah. Aku saja yang berani-berani melakukan hal konyol seperti itu. Mungkin semua orang tahu bahwa aku selalu melakukan hal candaan," jelasnya.


"Jadi dia menganggapmu bercanda?"


"Bisa jadi seperti itu," sahut Fadhla.


"Padahal kamu serius mengatakannya?" tanya Bulan memastikan.


"Lho, kenapa? Toh kalau memang jodohnya siapa yang tahu," kata Bulan meyakinkannya.


"Sayang sekali saat ini aku gak bisa berbuat apa-apa," kata Fadhla menghela napasnya.


Bulan selesai memindahkan barang belanjaannya. Kemudian dia berpindah posisi dan menarik tangan Fadhla untuk duduk di sofa.


"Ceritanya di sini. Sambil duduk. Pegel kaki jika lama-lama aku berdiri," kata Bulan. Setelah mereka duduk saling berhadapan, Bulan kembali menanyakan lanjutan ceritanya. "Lalu bagaimana kelanjutannya? Kenapa saat ini kamu tidak bisa berbuat apa-apa?"


"Kamu tahu sendiri Bulan, bahwa saat ini aku berperan sebagai suamimu. Mana bisa aku mengejar Soraya."


Bulan termenung sejenak. "Aku memang pembuat masalah. Maafkan aku, ya. Tapi kamu bisa menggugatku sekarang kok. Tidak apa."


"Lha, kok? Aku tidak menyalahkanmu, Bulan. Kamu jangan tersinggung." Fadhla merasa tidak enak.


"Tenang saja. Aku sudah pasrah dan sebaiknya memang begitu bukan? kita berpisah saja tidak masalah. Lagian apa lagi yang harus aku pertahankan lagi," kata Bulan.


"Eggy?" tanya Fadhla.


"Kak Eggy sudah jelas bersama Adelia. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lagian aku orang miskin, Fadhla. Aku tidak sanggup membayar semua bisnis dan kerugiannya," jelas Bulan dengan nada yang lemas.


"Maafkan aku. Ini salahku karena menceritakan masa laluku mengenai Soraya."


"Sudahlah, lupakan saja. Lagian itu sudah masa lalu mau gimana lagi. Jadi, kita pikirkan saja untuk ke depannya akan bagaimana. Kamu juga tidak mungkin tsrus terikat dengan semua ini karena kamu pun pasti ingin memiliki masa depan dengan orang lain, pilihanmu," kata Bulan.


Sontak Bulan pun langsung beranjak dari sofa dan bergegas pergi menuju kamarnya.


"Kamu akan ke mana, Bulan?" tanya Fadhla.


"Aku akan beristirahat sejenak, Fadhla. Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa mendatangiku atau memanggil namaku. Aku akan segera datang kok," jawab Bulan tersenyum simpul. Kemudian dia pun pergi meninggalkan Fadhla sendirian di sana. Fadhla pun hanya bisa terdiam dengan semua itu. Dia mulai berpikir bahwa pembahasan mereka membuat perasaan Bulan tersinggung dan bersedih.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. Beri BINTANG 5 juga. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian bagiku, agar bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)


Terima kasih, semuanya. :*