
Aku menyajikan makanan ke dalam piring Eggy. Kemudian aku pun sekalian menyajikan minumannya juga.
"Silakan dimakan, Kak. Semoga Kakak suka dengan masakannya. Aku agak lupa cara memasak, tetapi aku tidak sembarang membuatnya kok, Kak. Jadi Kakak tidak perlu khawatir dengan rasanya. Walaupun tampilannya sedikit terlihat hancur, tetapi aku yakin dalam rasa masakannya sangat enak," jelasku panjang lebar.
Eggy tersenyum. "Baiklah. Aku akan segera memakannya, Bulan. Ayo! Kamu pun harus segera duduk dan segera makan. Jangan berdiri di sana mulu. Kita makan bersama," ajaknya.
"Baik, Kak."
Aku pun duduk saling berhadapan dengan Eggy. Kemudian Eggy langsung menyantap makananku. Aku melihat Eggy dan memperhatikan dirinya untuk sejenak. Aku hanya ingin tahu saja dan memastikan bahwa masakanku sangat aman jika dirinya sudah memakan masakanku. Semoga masakanku tidak membuatnya mual, muntah-muntah, apalagi sampai muntaber. Oh, Tuhan! Semoga tidak. Jangan sampai hal itu terjadi.
"Kamu kenapa?" tanya Eggy kepadaku terheran-heran.
"Eh, Kak. Tidak. Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan sesuatu," jawabku apa adanya.
"Ciiiieeee!" godanya.
"Apaan sih, Kak? Memangnya aku kenapa?"
"Sudahlah. Cepat makan, Sayang. Katanya kita akan pergi ke supermarket."
"Iya, Kak. Aku lupa. Hehehe. Maaf."
"Gak perlu minta maaf. Kamu ini ada-ada saja, Sayang."
"Kakak gak bosen apa, manggil aku sayang mulu," eluhku.
"Apa kamu bosan ketika mendengarnya?" tanya Eggy.
"Mm ... ya, y-ya gak begitu juga kali, Kak."
"Gak begitu juga bagaimana?"
"Gak bosen, cuma agak aneh," ucapku padanya.
"Aneh apanya?" tanya Eggy penasaran.
"Tahu ah. Kakak banyak tanya. Mending aku makan saja." Aku pun menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutku. Eggy hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya saja. Mungkin dia gedek dengan sikapku, atau gedek sama apa yang aku bicarakan ya?
****
Beberapa saat kemudian, aku dan Eggy sudah menyelesaikan sarapan paginya. Lalu dengan sigapnya, Eggy langsung membereskan piring dan gelas yang ada di meja. Padahal aku tidak menyuruhnya untuk membereskan itu, tetapi dia dengan sigapnya langsung membereskan semua itu.
"Biar aku saja, Kak."
"Kenapa?" tanya Eggy padaku.
"Nanti Kakak repot lho. Aku gak mau Kakak kerepotan, Kak," jawabku merasa segan.
"Ya tidak apa-apa, Bulan. Tidak masalah siapa yang memberekan atau enggaknya. Ini kan barangnya sudah kita pakai, kita yang mengotorinya. Jadi ya gak masalah."
"Tapi kan, Kak ...."
"Tapi apa?"
"Tapi kan, tapi ...." Aku masih belum dapat menjelaskan tentang apa yang akan aku bicarakan padanya. Sangat payah sekali diriku ini.
"Jangan banyak bicara. Kamu siap-siap saja sana. Aku tunggu kamu di mobil nanti. Jangan lupa bawa jaket. Cuaca di sini cukup dingin. Di luar pun kayaknya gerimis," ucap Eggy.
Sekilas aku melihat cuaca di luar. Aku melihat ke arah kaca jendela villa, dan memang terlihat gerimis di luar.
"Baiklah, Kak. Aku akan memakai jaket. Aku siap-siap dulu ya, Kak. Sekalian ambil uang dan tas di kamar."
"Oke."
Eggy melanjutkan memberekan barang-barang kotor di meja makan. Kemudian aku langsung beranjak pergi ke ke arah kamarku untuk mengambil jaket dan tas. Saat hendak keluar dari kamar, sejenak aku melihat ke arah cermin dan memperhatikan wajahku.
"Lipstik apa liptint ya? Bagusnya yang mana nih?" tanysku bergumam lagi.
Akhirnya aku pun memutuskan sesuatu.
"Oke deh. Aku pakai liptint aja. Biar ada warna gloosy-gloosy gitu, sama kelihatan warna natural bibir."
Aku pun mengoleskan pewarna bibir liptint ke bibirku. Setelah itu, aku pun langsung menyusul Eggy dan langsung masuk ke dalam mobil begitu saja.
"Sudah selesai?" tanyanya.
"Yup. Sudah, Kak," jawabku.
"Jangan lupa, pakai sabuk pengamanmu, ya."
"Iya, Kak." Aku pun mulai memakai sabuk pengamanku. Namun setelah aku tarik sabuknya, terasa nyangkut. Jadi susah untuk memakainya. Aku pun berusaha untuk menariknya kembali, namun tetap tidak bisa.
"Kenapa, Bulan?" tanya Eggy.
"Ini sabuknya, Kak. Susah," jawabku.
"Sini, biar aku bantu pakaikan sabuknya."
Eggy pun langsung turun tangan untuk membantuku memakaikan sabuk. Jarak antara aku dan Eggy begitu sangat dekat. Hanya beberapa senti dari pandangan mata. Maju sedikit, aku dapat mencium pipinya dengan mudah. Kulihat dan aku amati secara berdekatan, dan sangat dekat, rupanya Eggy lumayan ganteng juga. Dia tampan dan cukup manis. Aku jadi lumayan menyukainya.
"Sudah. Kamu aman sekarang." Eggy menatapku dengan tajam dan pandangan yang cukup dalam. Aku terdiam kaku menatapnya. Mungkin dia akan menciumku kembali. Apakah aku harus tetap diam jika dia melakukan itu lagi padaku?
"Kamu terlihat cantik, Bulan," puji Eggy padaku. Dia tersenyum.
"Te-terima k-kasih, Kak," sahutku gugup.
Kemudian Eggy kembali ke posisi yang semula. Aku pikir aku akan diciumnya lagi, rupanya tidak. Dia hanya mengatakan tentang penampilanku hari ini. Namun mengapa aku agak sedikit kecewa dengannya?
"Apa tidak ada barang yang tertinggal, Bulan?" tanya Eggy padaku membuyarkan pikiran rasa kecewaku.
"Eh, kayaknya enggak deh, Kak," jawabku.
"Coba dicek ulang. Siapa tahu kamu melupakan sesuatu. Mumpung kita masih di rumah. Jadi, jika ada yang tertinggal, kita tidak perlu bolak-balik. Karena tempat yang akan kita tuju cukup jauh juga," jelasnya.
"Baik, Kak. Sebentar. Aku akan cek ulang barang-barangku."
Aku pun nulai mengecek kembali barang-barangku. Dan isinya masih tetap seperti semula. Yaitu tissue, ponsel, uang, dan headseat.
"Sudah, Kak. Aku bawa barang sedikit kok. Gak banyak-banyak."
"Berarti siap, 'kan?" tanya Eggy.
"Ya. Kita langsung jalan saja, Kak," sahutku.
Eggy tersenyum padaku, dan aku pun membalasnya.
"Jangan lupa baca doa dulu sebelum kita pergi."
"Iya, Kakak." Aku terkekeh.
"Kamu semakin cantik."
"Kakak pun semakin tampan," balasku. "Hahahaha. Kali ini kamu pintar merayu juga ya," kata Eggy.
"Belajar dari Kakak. Aku banyak belajar dari rayuan Kakak juga," sahutku.
Aku dan Eggy saling tertawa satu sama lain. Setelah itu, Eggy mulai menancapkan gas mobilnya dan segera pergi menuju supermarket yang jaraknya cukup lumayan dari villa di sini. Karena tempat ini lokasinya cukup sulit juga, lumayan pedalaman. Rasanya seperti mempunyai rumah hunian sendiri, tanpa ada tetangga dan ada siapa pun. Hanya kami berdua yang tinggal. Aku dan Eggy saja.