The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 114



Ini adalah waktunya, di mana aku harus menerima sebuah kenyataan palsu. Aku berkumpul dengan semua keluarga, termasuk keluargaku. Aku melihat raut wajah orang tuaku, dia seperti enggan menatapku. Entah mengapa, aku merasa tidak ada yang salah dengan diriku. Namun rupanya, rasa jijik terpancar pada pandangan mereka. Aku memakluminya.


"Sudah diputuskan, bahwa Eggy dan Bulan sudah bercerai. Dengan adanya sertifikat perceraian ini, kalian berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Oleh karena itu, bulan depan Eggy akan langsung menikahi gadis dari anak bos perusahaan," jelas Ibunya Eggy.


Mendengar kalimat itu, membuat hatiku merasa tercabik-cabik bagaikan sebuah kain yang dipaksa robek. Hatiku pun terasa sangat sakit, seakan ditusuk oleh sebuah belati tepat di jantungku dan seketika detakan jantungku berhenti tak berfungsi lagi. Dadaku sesak, sulit untuk bernapas seakan aku berada di dasar air laut untuk mencari sebuah daratan agar dapat bernapas dengan lega kembali. Namun, rasanya aku tak menemukan semua itu.


"Maafkan aku," kata Eggy bergumam.


Aku menunduk bingung. Tanpa aku sadari, aku meneteskan air mataku. Walau aku tahu ini tidak serius, tetapi aku merasa ini sangatlah nyata. Sulit untuk aku bendung lagi. Lalu ke depannya, bagaimana dengan kehidupanku?


"Kamu sudah bercerai. Segera pulanglah! Jangan membuat keluarga kita semakin malu," ujar Ayah. Sontak aku menengok ke arahnya.


"Iya, baik, Yah. Mari kita pulang," sahutku dengan lemas.


Ya. Mungkin kehidupanku akan dilanjutkan di rumah lamaku. Kembali ke masa lalu dan mencoba untuk mengingat semua memori yang telah hilang. Bukan salahku, jika aku masih tidak mengingatnya. Hanya saja untuk saat ini aku tidak mengerti lagi untuk melanjutkan hidup.


Aku dan keluargaku berjalan menuju luar ruangan. Segera pergi dari sekumpulan keluarga Alatas. Namun, seseorang memanggilku dan membuatku menghentikan langkah kaki.


"Tunggu, Bulan!"


Aku menengok. Rupanya dia Fadhla, adik dari Eggy. "Ada apa?"


"Ini kunci rumahmu. Kamu masih berhak tinggal di sana. Karena rumah itu sudah menjadi milikmu. Rumah itu atas namamu."


"Hah? Ah, i-iya." Aku segera mengambil kunci rumah tersebut dari tangannya.


"Tinggalah di sana. Jangan sungkan, karena itu rumahmu," kata Fadhla.


"Baiklah. Terima kasih."


"Oke. Sampai jumpa lagi. Semoga kehidupanmu menjadi lebih baik untuk ke depannya."


"Ya. Terima kasih, Fadhla. Semoga saja begitu."


"Ayo, Bulan. Kita pulang," ajak Ayahku yang hendak memasuki mobil. Aku menghampirinya dan ikut masuk ke dalam mobil.


Akhirnya aku meninggalkan Eggy beserta keluarganya. Hari ini tiba juga. Begini kah rasanya jika bercerai dan berpisah dengan seseorang? Begini kah rasanya kembali ke asal? Apakah perasaanku akan sama seperti sebelumnya? Atau kah akan berubah? Entahlah. Aku harap dapat menjalani hidup yang penuh dengan sandiwara ini. Hidupku memang penuh drama. Rasanya ingin menertawakan kebodohanku sendiri.


"Jangan banyak melamun!" kata Ayah padaku.


Aku menengok, "Tidak, Ayah. Hanya saja merasakan perpisahan yang terasa pahit ini, membuatku sulit untuk menerima kenyataan. Apakah ini nyata atau kah tidak? Aku masih belum mengetahuinya pasti. Ini benar-benar di luar dugaanku."


Aku terkekeh. "Ya. Ayah benar. Sekarang atau pun nanti, perceraian akan tetap dilakukan, bukan? Karena sebuah perjanjian itu memang sulit. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, tidak akan terasa jika memang terus hidup bersama. Perasaan yang saling tarik ulur pun bisa saja terjadi. Benar, 'kan, Ayah?"


"Jangan salah sangka. Perasaan tarik ulur itu memang saja terjadi, tetapi itu salah jika kamu yang merasakannya."


"Jika terjadi padaku, itu salah, ya?"


Aku terkekeh, merasa bodoh sendiri mendengar semua itu. Tak bisa aku bayangkan, bahwa seorang Ayah bisa mengatakan hal itu kepada anaknya. Yang diinginkan anaknya hanyalah sebuah perasaan iba darinya. Seenggaknya dia mengerti dan memahami perasaanku. Yang aku inginkan, cukup dengan menghiburku saja. Maka aku akan merasa bahwa aku memang memiliki seorang ayah yang luar biasa. Namun pada kenyataannya berbeda. Sebuah kenyataan memang lebih buruk dibandingkan dengan keinginan dan khayalan.


"Mulai besok, kamu harus mencari pekerjaan. Karena tidak akan ada lagi pria yang akan memberi kamu uang secara cuma-cuma. Kecuali kamu menikah lagi dengan pria kaya seperti Eggy," kata Ayah padaku.


"Besok aku akan melamar pekerjaan. Dan jika aku sudah punya pekerjaan, aku akan kembali ke rumah yang sudah diberikan oleh Eggy," sahutku.


"Baiklah. Lebih baik seperti itu. Agar kamu bisa mandiri dan tidak merepotkan orang lain. Apalagi Ayah sudah tua, mana bisa menampung semua kebutuhanmu saat ini. Jadi segeralah cari pekerjaan. Jika sudah menemukannya, segera pergilah," ujar Ayah. Lalu dia berjalan pergi menuju kamarnya dan menutup pintu kamar itu dengan kasar.


Kalimat yang Ayah lontarkan, membuat perasaanku makin terasa sakit dan sesak. Aku berpikir bahwa aku memang anak yang sengaja dibuang dan tidak dibutuhkan lagi. Bahkan, dia berbicara seakan ingin segera mengusirku saja dari rumahnya. Aku adalah sebuah beban dari kehidupannya. Kenapa? Apa salahku? Apakah di masa lalu aku pernah berbuat kesalahan yang sangat fatal, sehingga dirinya sangat membenciku?


"Tidak masuk akal," gumamku sambil membawa tasku dan masuk ke dalam kamar lamaku yang mungkin saat ini sudah usang, karena ditinggal pergi selama bertahun-tahun dan tak terurus. Dan ... yang perlu diketahui, mulai dari hari ini, aku harus bersikap seperti seseorang yang sudah bercerai.


Aku adalah seorang janda. Hari esok dan selanjutnya, hari-hariku akan dimulai. Inilah saatnya untuk aku mengubah nasib dari masa lalu yang terburuk. Apakah aku bisa? Aku berharap bahwa aku memang bisa melakukannya.


"Huft. Aku siap untuk menjalani hari esok," gumamku penuh percaya diri.


**SEASON 2 TAMAT


next untuk SEASON 3.


Khusus Season 3, sudut pandang akan diubah, ya. Tokoh utama jadi bukan si 'aku' lagi. Melainkan memakai nama 'Bulan'. Lebih gampangnya, di Season 3 akan menggunakan POV 3, atau Author POV. Biar wawasannya gak fokus di aku mulu, tetapi lebih luas bisa ceritain sudut pandang tokoh yang lain. Agak bosen soalnya si aku mulu. Hehehe. Jadi, untuk Season 3, akan lebih luas lagi jangkauan sudut pandang ceritanya. Paham, kan, ya? Paham dong, ya. Masa gak paham. Hehehe. Oke, Next.


**Note:


Selamat pagi. Maaf updatenya kelamaan. Untuk bulan ini, aku akan update tiap hari karena mengejar tayang. (ciiieeee). Eeeaaaa.


Jadi bulan ini aku mulai nguli kembali nih di Mangatoon. Semoga masih suka dengan tulisanku, ya. Terima kasih atas supportnya.


Jangan lupa tinggalkan like dan jejak komen kalian, agak aku menjadi semangat untuk menulis lagi dan melanjutkan cerita ini lagi. Thank you guys. Love You. :*


TUNGGU UPDATE SEASON 3, GUYS**.