The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 86



"Oke. Aku akan tanya serius padamu. Kamu ingin benar-benar bercerai dan bebas dariku, lalu aku akan menikahi wanita itu. Atau kamu ingin berpura2 bercerai, rela dipoligami sementara dan aku akan kembali padamu."


"Pertanyaan ini lagi? Kan sudah aku jawab, Kak."


"Jadi, kamu mau dipoligami?" tanya Eggy sekali lagi.


"Mungkin," jawabku ragu-ragu.


"Kalian berdua ... memang gila ya! Lalu setelah pernikahan kamu berlangsung, Bulan mau bagaimana?" tanya Fadhla kepada Eggy.


"Aku ingin kamu menjaganya," jawab Eggy padanya.


"What? Jaga istri orang? Nasib jomlo kok gini amat ya."


"Bukan gitu. Tapi ini solusi yang benar."


"Benar, benar, otakmu yang tidak benar, Kak," kata Fadhla.


"Sudahlah. Aku rasanya malas membahas hal ini pagi-pagi seperti ini. Yang penting, untuk masalah ini, Bulan sudah setuju aku menikah lagi. Dia calon bidadari surga lho. Kemudian kamu jaga Bulan. Jangan sampai rencana ini ketahuan oleh keluarga, apalagi orang lain."


"Ya kali kita sembunyiin bangkai gak bakalan kecium. Pasti kecium juga bau busuknya," kata Fadhla.


"Ya kita kubur dong bangkainya. Kalau dikubur ya kagak bakalan ketahuan," sahut Eggy.


"Ampun! Otakmu itu, Eggy. Kelewat pinter, makanya bikin orang pusing."


"Sudahlah. Kalian ini sebagai kakak dan adik akur bentaran deh. Bahas masalah perceraian, lalu poligami dan poliandri, sampai bahas bangkai busuk. Gak nyambung, gitu lho." Aku jadi pusing mendengar mereka berdebat.


"Oke. Aku nyerah. Terserah kalian aja." Fadhla pun mengambil segelas air putih, lalu meminumnya. Mungkin dia lelah setelah perdebatan yang sudah terjadi.


Ketika aku, Eggy dan Fadhla sedang sarapan pagi bersama, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu berkali-kali.


"Siapa tuh?" tanyaku pada mereka berdua.


"Jangan ambil sapu!" sahut Fadhla. Mungkin dia mengalami trauma.


"Ya kali siang-siang gini ada maling secara terang-terangan."


"Akan aku buka. Sebentar. Kalian lanjutkan saja sarapannya," kata Eggy. Kemudian Eggy pun langsung berjalan menghampiri pintu rumah dan segera membukanya. Namun aku sangat penasaran, dan rasa penasaranku semakin memuncak. Aku pun diam-diam mengikuti Eggy.


"Ke mana, Bulan?" tanya Fadhla.


"Lihat siapa yang jadi tamu kita," jawabku padanya. Kemudian aku kembali berjalan menghampirinya.


Dari arah kejauhan, terlihat seorang wanita yang sedang mengobrol dengan Eggy. Rupanya wanita itu. Bukan lain adalah Shelly. Si wanita yang bertemu di supermarket kemarin. Diam-diam aku. mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu jika barangmu kami yang bawa," kata Eggy.


"Ah, bukan masalah. Aku yang salah karena meninggalkan barangku begitu saja dalam mobilmu," sahutnya.


"Mau diambil sekarang barangnya?" tanya Eggy pada wanita itu.


"Boleh," jawabnya.


"Mau tunggu di dalam?" tawar Eggy.


"Boleh," sahutnya dengan singkat.


"Ayo, tunggu di dalam."


Eggy dan wanita itu pun masuk ke dalam villa. Dia duduk di sofa sambil melihat-lihat ke arah sekeliling villa. Ketika Eggy berjalan kenarah dapur, dia melihat aku mengintipnya. Aku pun menjadi panik melihat Eggy.


"Kamu ngapain?" tanya Eggy.


"A-aku, gak ngapa-ngapain," jawabku terbata-bata.


"Kalau mengintip jangan sampai ketahuan. Kalau sampe ketahuan, kamu harus banyak belajar tutorial mengintip yang lebih baik dan tips mengintip cantik. Biar kelihatan pro-nya," ujar Eggy. Lalu setelah dia berbicara seperti itu, dia langsung pergi begitu saja meninggalkanku.


Mendengar kalimatnya yang merendahkanku seperti itu, membuatku sangat marah dan merasa direndahkan. Dasar! Awas saja, aku akan membalasnya.


"Ih."


Aku berjalan kesal menuju meja makan. Kemudian Fadhla melihatku dengan heran, dia pun bertanya.


Aku tidak menjawabnya.


"Dia ketahuan mengintip. Jadinya begitu," sahut Eggy.


"Enak saja," kataku mengelak.


Aku pun duduk kembali dan langsung melanjutkan sarapanku.


"Siapa yang datang kemari?" tanya Fadhla.


"Wanita. Mau ngambil belanjaannya yang tertinggal kemarin," jawab Eggy.


"Kenapa? Kok bisa tertinggal? Kalian kan baru sehari di sini. Memangnya kalian punya kenalan orang sini? Bukannya villa ini jauh ke mana-mana, ya?" ungkap Fadhla terheran-heran.


"Dia orang yang gak sengaja kenal di supermarket kemarin. Keknya dia sangat dekat dengan Kak Eggy. Rupanya dia juga kelihatan akrab banget sama wanita itu," kataku.


"Tumben! Sejak kapan kamu jadi peduli sama wanita asing?" tanya Fadhla kepada Eggy.


"Sejak kapan kamu kepo dan urusin hidup orang lain?" Eggy malah berbalik tanya kepasa Fadhla.


"Baru saja diomongin jangan debat, malah debat lagi," sindirku.


"Kamu yang mulai mancing," sahut Eggy. Lalu dia pun pergi meninggalkanku dan Fadhla untuk memberikan barang belanjaannya Shelly, si wanita itu.


Sedari tadi. diam-diam Fadhla memperhatikanku.m juga. Dia berkata,


"Apa kamu cemburu pada wanita itu?"


Spontan aku menengok. "Enggak. Ngapain cemburu? Kamu tahu sendiri kan tentang skandalku bagaimana?"


"Apa hubungannya dengan itu?"


"Itu artinya, aku. masih menyimpan rasa terhadap mantanku. Untuk saat ini, mantanku tidak ada. Jadi gak terlalu memikirkan dia," jawabku dengan jujur.


Fadhla menganggukkan kepalanya.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu bicarakan? Kamu gak memikirkan Raihan karena ada Eggy?" tanyanya.


"Ya," jawabku singkat.


"Lalu, apa setelah Eggy pergi atau tidak ada di dekatmu, apa kamu akan memikirkan Raihan dan fokus dengannya saat kamu sedang bersamanya?"


"Maksudnya?"


"Jika kamu saat ini sedang bersama Raihan, apa kamu tidak akan memikirkan Eggy? Kamu pun hanya akan fokus pada Raihan? Begitu?" jelasnya.


Sejenak aku berpikir. "Mungkin seperti itu."


Fadhla menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Kamu egois, Bulan."


"Apa maksudnya egois? Kenapa aku egois?" tanyaku kebingungan.


"Apa kamu tidak menyadari, bahwa kamu bisa saja mempermainkan perasaan Eggy dan Raihan dengan bersikap labil seperti itu. Kamu plin-plan, Bulan," ucap Fadhla.


Kalimatnya membuatku merasa tersinggung. Sebenarnya aku merasa tidaknseparah itu, namun dia yang belum mengenalku, sudah menyimpulkan tentangku seperti itu. Memangnya dia siapa bisa seenaknya berbicara begitu?


"Kamu tidak mengenalku, Fadhla. Jadi kamu jangan asal bicara," kataku dengan nada yang datar.


"Tapi dari penglihatanku dan dari kalimatmu lah yang membuatku berbicara seperti itu. Kita realistis saja, Bulan. Apa adanya saja. Mungkin kamu bisa tanya pada dirimu sendiri, bagaimana sikap kamu selama ini kepada Eggy dan Raihan. Apakah egois dan plin-plan? Nilailah diri kamu, jika kamu tidak ingin dinilai. oleh orang lain," tegas Fadhla. Kemudian membawa piring yang masih tersisa makanan tersebut. "Aku selesai sarapan," lanjutnya. Kemudian dia pergi ke arah wastafel dan sebelum meletakkan piring kotor itu di sana, dia membuang sisa makanan itu ke dalam tong sampah. Lalu pergi ke depan menghampiri Eggy. Terdengar dia berteriak sambil menyapa wanita itu.


"Hai, halo. Selamat datang! Kenalkan, aku Fadhla. Adik dari Eggy. Salam kenal ya."


"Ah, hei. Aku Shelly. Senang berkenalan denganmu.


Bla, bla, bla, bla, bla.


Terdengar mereka saling tertawa satu sama lain. Pembicaraan mereka semakin tak bisa aku dengar lagi. Aku hanya merenung sendirian di meja makan memikirkan hal yang diucapkan oleh Fadhla barusan.