The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Masih Ingat.



Ciuman yang sudah diberikan oleh Eggy kepada Adelia membuat Adelia senang kegirangan. Dia merasa bahagia, malu, serta perasaan yang penuh campur aduk dalam benaknya.


Di balik itu, Adelia mulai memegangi bibirnya. Tanpa dia sadari, dia tersenyum sendiri mengingat kejadian sebelumnya. Bahkan sesekali, dia menutupi wajahnya dengan binar-binar penuh kebahagiaan. Rasanya Adelia seperti sudah jatuh cinta kepada Eggy. Eggy telah berhasil membuat Adelia menyukainya.


Adelia yang masih tersenyum sendiri itu, di kagetkan oleh Eggy yang tiba-tiba kembali masuk ke dalam ruangannya. Eggi terkekeh melihat tingkah Adelia yang seperti itu.


"Maaf, kunci mobilku tertinggal di meja," kata Eggy yang berhasil membungkam mulut Adelia.


Adelia langsung berbaring dan menyampingkan badannya sehingga membelakangi Eggy. Dia enggan memandang wajah Eggy, karena dirinya sangat merasa malu karena ketahuan bertingkah sangat aneh di hadapannya.


"Aku akan pergi tidur. Hubungi aku jika sudah mengambil keputusan," ucap Adelia dengan nada yang bergetar.


Eggy terkekeh lagi. "Akan segera aku hubungi."


Eggy pun langsung mengambil kunci tersebut dan segera pergi dari sana. Selain itu, Adelia nampak memejamkan matanya dan sesekali mengumpat pada dirinya sendiri.


"Dasar bodoh! Dasar! Kenapa harus begitu? Kenapa? Jadi malu kan? Bikin malu sendiri. Dasar bodoh! Adelia bodoh!"


Namun dalam umpatannya, tetap saja Adelia merasa sangat senang akan hal itu. Tak lama kemudian tiba-tiba suara telepon berdering. Adelia mulai mengambil ponselnya dan segera mengangkat telepon tersebut.


"Papa. Ada apa, ya? Apa dia tahu soal aku?" gumamnya. "Halo, Pa."


"Adelia, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.


"Adelia baik kok, Pa. Memangnya ada apa, Pa?"


"Nyonya Andalas menemui Papa. Dia ingin mempercepat pernikahan kamu dengan Eggy. Lalu, katanya kamu mengalami kecelakaan bukan? Apakah kecelakaan itu parah?" cemasnya.


"Tidak usah khawatir, Pa. Aku baik-baik saja," sahut Adelia.


"Papa menyetujui rencana pernikahan itu diercepat. Namun lusa, bukan besok. Semua Papa sudah urus. Papa juga sudah menghubungi pihak WO untuk masalah rencana pernikahan kalian lusa nanti. Jadi, untuk besok, kalian harus mencari gaun pengantin segera mungkin! Atau kalian berdua akan menikah tanpa memakai gaun pengantin," jelas papanya.


"Apa bedanya sih, Pak menikah lusa dengan 4 hari kemudian? cuma beda 2 hari kok," omel Adelia.


"Sudah, jangan banyak bicara. Jangan banyak komplen. Pernikahan ini juga harus cepat terjadi. Kamu tahu sendiri kan papa sangat butuh salah satu aset yang di miliki oleh Eggy?" tanya papanya.


Adelia sejenak teridiam. "Iya, Pak. Adelia paham. Aset itu memang sangat penting bagi papa."


"Maka dari itu, lebih cepat lebih baik."


"Tapi Eggy seorang duda, bukan?" tanya Adelia memastikan.


"Tidak peduli dengan status. Lagian perusahaan yang di miliki oleh keluarga Andalas, bukan main-main," jawab papanya.


"Iya, Pa. Adelia memahami itu kok."


"Baguslah. Semoga cepat sembuh, ya. Maaf papa gak bisa menjengukmu di sana. Urusan papa sangat sibuk di kantor."


"Iya. Tidak apa-apa, Pa. Jangan terlalu memaksakan."


"Iya, Pa."


Telepon dari papa Adelia pun di tutupnya. Lalu Adelia mulai berpikir untuk menghubungi Eggy kembali dan memberitahu tentang rencana besok pagi. Sebenarnya Adelia masih belum merasa sangat pulih. Namun harus bagaimana lagi? Lusa adalah hari. pernikahannya. Terpaksa dirinya harus memaksakan diri untuk pergi. Lalu, dengan penuh perasaan ragu-ragu, Adelia mulai menelepon Eggy. Eggy pun segera mengangkatnya.


"Maaf, mengganggu, Eggy."


"Tidak apa-apa. Ada apa?" tanyanya.


"Pernikahan kita sudah di tetapkan pada hari lusa nanti. Dan besok, kita harus mencari gaun pengantin sampai dapat," jawab Adelia.


"Oh, masalah itu. Baik. Besok aku ambil cuti. Biar Fadhla yang mengurusi urusan kantor," sahut Eggy.


"Apa tidak masalah?"


"Tidak. Tenang saja kok. Tidak ada masalah sama sekali."


"Baiklah. Kalau begitu, kamu bisa urusi masalah rumah sakit?"


"Urusi apa?" Eggy kebingungan.


"Minta izin kepada dokter untuk segera memulangkanku."


"Mami sudah mengurusinya. Tenang saja."


"Baiklah. Kalau begitu aku tutup dulu, ya."


"Istirahatlah! Besok aku jemput kamu. Jangan bawa mobil sendiri lagi!" kata Eggy.


"Iya."


Setelah itu, percakapan antar telepon pun berakhir.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*