The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 150



Melda tengah duduk sambil menyeruput sebuah minuman di tangannya. Dia begitu sangat menikmati minuman tersebut. Karena minuman itu adalah salah satu minuman favoritnya. Bulan hanya duduk di hadapannya sambil mendengar apa yang temannya itu ceritakan. Bulan selalu menjadi pendengar baik bagi dirinya, mau mencurahkan hati, atau sekadsr berbagi kebahagiaan, Bulan selalu menerimanya dengan sangat senang hati.


"Aku paling suka dengan minuman ini, Bulan. Minuman favorit. Walaupun jarang membelinya, tetapi kadang-kadang aku meminumnya. Yaaa ... kurang lebih minum saat sedang kerja lembur doang sih. Hehe," kata Melda kepada Bulan yang sedang duduk saling berhadapan itu.


"Aku baru kali ini, Melda. Karena hampir seminggu aku bekerja di sini. Jadi baru kali ini aku bekerja lembur. Rasanya sangat melelahkan. Lelah sekali dan butuh banyak tenaga juga," sahut Bulan kepada Melda.


"Iya. Dan kamu harus terbiasa dengan hal ini, Bulan. Karena kerja lembur tuh datengnya gak cuma sekali. Setiap minggu pasti ada kerja lemburnya," kata Melda.


"Pastinya sih. Karena lembur itu dari hari weekend saja, bukan?" tanya Bulan.


"Yup. Benar," jawab Melda dengan singkat.


"Ayo di coba, Bulan, makanannya. Enak lho. Kamu pasti belum makan siang, bukan?" tanya Melda menebak-nebak.


"Kamu bisa aja sih, Melda. Dan tahu aja kalau aku belum makan siang," sahut Bulan malu-malu.


"Iya pasti tahu dong! Kita kan satu pekerjaan juga."


"Hahaha. Iya, iya."


"Yaudah, makan aja. Eh, tapi aku pengen nyoba makananmu dikit, nih. Sepertinya enak." Melda menatap Bulan, memberika isyarat bahwa dia meminta dan ingin diberi cicipi makanan yang sudah dia buat sendiri. Tak ada pilihan lain, Bulan memberinya izin untuk bisa mencicipi makanannya.


"Silakan, Melda. Jika kamu mau, boleh kok. Aku gak masalah. Hehe," kata Bulan.


"Beneran?" tanya Melda memastikan.


"Beneran, Melda. Boleh kok. Serius," jawab Bulan.


"Makasih, ya. Aku cicipi dikit kok. Gak banyak."


"Banyak pun tak masalah. Aku bisa buat lagi. Kalau Pak Angga izinin itu juga. Hehe," kata Bulan kepada Melda.


"Astaga. Kamu ini. Haha," sahut Melda menggeleng-gelengkan kepala.


"Hehe." Bulan menyeringai.


Melda pun mencicipi sedikit makanan tersebut. Rupanya memang enak. Sebenarnya Melda ingin juga. Namun tidak enak dengan Bulan, masa harus mengambil makanan orang lain?


"Makasih, Bulan. Ini enak banget. sumpah!" puji Melda kepada Bulan.


"Ya ampun! Aku hanya mengikuti resep yang ditempel di dinding saja, Melda. Enggak ada bahan tambahan yang lain lagi," kata Bulan dengan sungkan.


"Yasudahlah. Cepat, makan! Keburu dingin lho."


"Iya, iya. Ini mau. Mau lagi, gak, Mel?" tawar Bulan kepada Melda.


"Enggak usah. Buat kamu saja," tolak Melda.


"Yaudah. Ayo gabung dengan yang lain. Kita makan bersama mereka. Biar lebih afdol dan nikmat juga," kata Bulan mengajak Melda.


"Ayo, ayo," sahut Melda menyetujuinya.


Bulan pun makan bersama dengan pegawai yang lainnya. Sampai akhirnya selesai, Bulan lekas pergi ke wastafel umum. Dia mencuci tangannya dan kemudian dia lekas membasuh wajahnya dengan air di sana. Sejenak dia menatap bayangan dirinya di dalam cermin. Dia memikirkan sesuatu.


"Bisakah aku lupa dengan semua masalah ini? Ya, dalam pekerjaan ini, aku dapat melupakan semuanya hanya dalam sesaat. Pikiranku akan tetap terfokuskan kepada pekerjaanku saja. Namun ... apakah semuanya akan baik-baik saja?" gumam Bulan kepada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, seseorang datang menghampiri Bulan dan langsung menyalakan keran di wastafel sana.


"Apa yang kamu pikirkan, Bulan?" tanya orang tersebut pada Bulan.


Sontak Bulan menengok ke arahnya dengan rasa canggung.


"Hai, Pak. Tidak ada yang aku pikirkan kok. Aku hanya bergumam pada diriku sendiri ada bayanganku di sana," sahut Bulan tersenyum malu.


"Apa yang kamu gumamkan?" tanya Angga kepada Bulan. Pasalnya Angga mulai penasaran dengan Bulan. Saat ini, Angga selalu merasa ingin tahu semua tentang Bulan.


Bulan terkekeh malu-malu. "Ah, Bapak. Bukan apa-apa kok."


"Kenapa tersenyum?" tanyanya.


"Bukan apa-apa kok, Pak," jawab Bulan.


"Tidak apa-apa, Pak. Jangan khawatir," sahut Bulan.


"Terima kasih sudah mengerti." Bulan hanya membalasnya dengan senyuman saja. "Oh, iya. Hari ini kamu bekerja dengan sangat baik. Aku suka cara kerjamu, Bulan."


"Terima kasih, Pak. Bapak terlalu berlebihan tentang saya," sahut Bulan merasa tidak enak.


"Saya serius lho. Kamu bekerja dengan sangat baik pada hari ini. Bukan hanya kamu, tetapi semuanya kok," jelas Angga.


"Baik, Pak," ujar Bulan tersenyum. "Kalau begitu, saya akan kembali berkumpul dengan semua teman-teman yang lain. Saya permisi dulu, Pak," pamit Bulan.


"Silakan, Bulan," sahut Angga.


Bulan pun melangkah pergi meninggalkan Angga sendirian di wastaffel dan menghampiri teman-teman yang lain. Dari arah kejauhan, Bulan melihat bahwa mereka sedang asyik mengobrol dan tertawa di tengah-tengah kebersamaan mereka. Bulan pun mencoba untuk bergabung dengan mereka.


"Hei, kalian sedang apa nih? Sepertinya pembahasan kalian sangat asyik, ya!" ucap Bulan seraya duduk di salah satu kerumunan mereka," sahut Bulan sambil ikut duduk di antara mereka.


"Eh, Bulan, sini! Kita sedang bahas tentang seseorang yang habis putus secara konyol. Lucu sekali kisahnya," jawab Melda.


"Benarkah?" tanya Bulan penasaran. "Apa nih? Ceritakan dong! Aku penasaran nih."


"Jadi begini ceritanya, si Didit curhat bahwa dia baru putus dengan pacarnya. Cuma putusnya tuh lucu," cerita Melda kepada Bulan.


"Memangnya putusnya bagaimana?" tanya Bulan makin penasaran.


"Jadi, Didit itu sedang berantem dengan pacarnya," kata Melda menceritakan setengah-setengah dari ceritanya.


"Lalu bagaimana lagi?" tanya Bulan.


"Didit ancem pacarnya putus, Bulan. Jadi dia bilang putus ke pacaranya. Awalnya tuh gak mau putus, cuma pacarnya ngajak berantem mulu dan ancem balik putus. Eh, si Didit setuju aja. Akhirnya mereka putus hubungan dong! Putus beneran. Padahal dia cuma bercanda doang. Cuma ancem doang."


"Terus sekarang gimana?" tanya Bulan.


"Ya putus beneran, Bulan," jawab Melda.


"Astaga. Kok bisa?" Bulan kebingungan.


"Ya ampun. Kan sudah dibilangin bahwa itu cuma ancaman, Bulan. Untuk ngetes pacarnya doang. Ya ampun," jelas Melda gregetan sendiri.


"Hahaha. Jadi begitu?" tanya Bulan sambil menatap Didit.


"Udahlah, Melda. Jangan bahas masalah itu lagi. Aku lagi galau jangan ditambah-lagi dong!" kata Didit merasa kesal dan bersedih.


"Ya lagian kamu gak mikir-mikir dulu setelah bertindak begitu. Kan kamu jadi nyesel sendiri akhirnya," kata Melda menyindir Didit.


"Iya, iya. Udah puas bukan ngeledek aku?" tanya Didit merasa kesal.


"Maaf, maaf." Melda masih tertawa.


Bulan hanya tersenyum dengan hal itu. Dia merasa bahwa pekerjaan ini adalah sebuah kehidupan baru bagi Bulan. Apalagi dirinya saat ini sudah merasa sangat nyaman dengan posisi dia saat ini.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 900ribu joy. Silakan di cek.


Jika ingin mengenalku lebih de


kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*