The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 111



"Kenapa kakak tidak bilang, bahwa kakak masih bangun?" tanyaku sambil menghapus air mataku.


Eggy bangun dan dia langsung memelukku dari arah belakang. Lalu dia mencium leherku.


"Jangan menangis lagi, kenapa kamu menangis? Apa kamu menyesal?" tanyanya.


"Tidak, Kak. Bukan menyesal, namun sedikit merasa kecewa," jawabku.


"Lalu maumu bagaimana?" tanya Eggy.


"Tidak tahu, Kak," jawabku bingung.


Eggy melepaskan pelukannya, Kemudian dia turun dari ranjang dan berjalan menuju keluar kamar.


"Kak, mau ke mana?" tanyaku.


"Aku mau ambil air dulu, ya, aku akan membawakannya untukmu," jawabnya.


"Eh, Kak. Tidak usah. Tidak perlu itu, Kak."


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu jangan sungkan begitu. Kamu butuh air untuk menenangkanmu," kata Eggy.


Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu. Eggy tetap ingin membawakan air untukku. Dia pun pergi untuk mengambil air minum. Tak lama setelah itu, dia pun kembali dengan membawa air minum, lalu memberikannya padaku.


"Ayo minum dulu!" perintah Eggy seraya memberikannya padaku.


"Terima kasih, Kak." Aku menerima gelas itu darinya.


"Tenangkan dirimu. Jangan mengingat apa yang membuatmu sedih, jangan pernah mengingat semua ucapan yang buruk dari mulut orang lain. Semua itu tidak berguna," kata Eggy menasihati.


"Perkataan sangat sulit untuk dilakukan, Kak. Seandainya apa yang dikatakan oleh kakak itu mudah untuk dilakukan, mungkin aku sudah melakukannya dari dulu," ucapku yang masih tersedu-sedu. Aku pun meminum sedikit air dalam gelas itu, kemudian aku menyimpannya di meja samping dekat ranjang.


"Sekarang kamu istirahat ya," kata Eggy.


"Tetapi, Kak ...."


"Sudah, jangan pikirkan yang lain. Kamu jangan khawatir! Untuk masalah ini, kamu tidak akan merasa menderita lagi," kata Eggy meyakinkanku.


"Semoga saja, Kak. Aku berharap seperti itu."


"Yasudah, sekarang kamu tidur saja. Istirahatkan diri saja," ujarnya.


"Baiklah, Kak. Kakak juga tidur ya. Istirahat. Besok kan kakak mau ke kantor."


"Iya."


Pada saat itu, aku dan Eggy pun mulai tidur untuk beristirahat. Aku masih tetap terjaga sampai beberapa saat. Memang sulit kalau menikah dengan cara seperti ini atau sering di sebut dengan perjodohan, bahkan perjodohan pun aku sama sekali tidak mengetahuinya, lalu tiba-tiba masalah datang dan terus berganti dengan tema yang sama. Untungnya sebuah rasa sayang sudah terjalin antara aku dan Eggy, kemungkinan pernikahan tersebut akan bertahan sesuai perjuangan yang akan aku dan Eggy lakukan. Tak henti tefus berpikir, akhirnya aku pun tertidur.


*****


Aku terbangun dan perlahan-perlahan membukakan mataku. Lalu aku melihat ke arah sampingku dan aku terkejut ketika melihat sebelah ranjangku kosong.


"Hah? Kakak sudah bangun ya? Jam berapa ini?" Gumamku tak karuan sambil mencari-cari ponselku dan melihat jam di ponselku. Setelah melihatnya, aku terkejut bahwa jam di ponselku menunjukkan pukul 07:55 pagi.


Spontan akuĀ  langsung bangun dan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahku juga membersihkan gigiku dengan segera.


"Aku rasa, semalam aku masih tetap terjaga dan belum tidur. Tetapi kenapa saat ini ceoat sekali pagi?" gumamku bertanya-tanya.


Setelah semuanya selesai, aku mulai berjalan ke liar dari kamar dan mencari Eggy. Saat mulai mendekati area dapur, tiba-tiba aku memcium aroma sedap yang berkeliaran di depan kamarku. Segera aku lekas berlari ke lantai bawah dan pergi ke dapur. Aku pun terkejut ketika mendapati suamiku sedang memasak sarapan pagi sendirian di dapur.


"Oh, Tuhan. Aku benar-benar istri yang buruk." Gumamku dalam hati. Dengan rasa ragu, aku pun mendekatinya dan menyapanya dengan perasaan yang bersalah.


"Selamat pagi, Kak."


"Kamu baru bangun? Lelap sekali tidurmu, Bulan. Pasti kamu merasa capek ya? Apalagi setelah mengeluarkan uneg-unegmu semalam, pasti kamu merasa sangat lelah."


"Semalam aku kesulitan tidur, Kak. Mungkin hal ini akibatnya bangun kesianganan dan telat untuk menyapkan sarapan pagi kita." Kataku padanya.


"Tidak apa-apa, Bulan. Jangan khawatir tentang sarapan pagi. Selama aku masih bisa memasak untukmu, aku tidak masalah sekali jika harus memasaknya setiap pagi," ucap Eggy.


"Enak sekali menjadi istrimu ya, Kak. Tidak perlu masak, bangun siang pun tidak masalah. Rasanya akan menyenangkan jika terus seperti ini," ucapku padanya.


"Jika kamu tidak mempunyai malu, aku tidak masalah," sahutnya.


Sejenak aku terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Oleh Eggy, memang terasa malu jika setiap hari Eggy yang melakukan hal ini.


"Kenapa diam?" tanya Eggy padaku.


"Iya, iya. Aku mengakui. Aku memang merasa sangat malu, Kak.


"Sudahlah. Aku hanya bercanda, kamu tunggu di meja makan. Aku akan segera mempersiapkannya," ucap Eggy.


"Serius?"


"Bercanda."


"Ih, Kakak. Beneran, dong!" ucapku.


"Ya serius dong, Sayang."


"Oke deh."


Aku pun menuruti apa yang sudah dikatakannya. Aku mulai duduk di meja makan dan menunggu Eggy.


Selain itu, terlihat Eggy sudah beres memasak. Dia tersenyum padaku dan aku pun membalasnya. Lalu dia pun langsung menyiapkan sarapan di atas meja makan. Tak di sangka, aku bangun jam 08:10 pagi hari, bangun kesiangan di hari pertama aku kembali pulang dari tempat liburan. Dan aku tidak sempat menyiapkan masakan untuknya, malah dia yang bersedia menyiapkan sarapan untukku dengan memakai pakaian yang sudah rapi. Sungguh! Itu membuatku benar-benar malu. Tapi Eggy memang baik, walalupun aku kesiangan bangun pagi, namun dia tidak marah padaku. Hanya saja dia sering berbicara apa adanya padaku. Its oke. Itu bukan masalah besar bagiku.