The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 69



"Untuk saat ini, apa kamu tertarik padaku dan ikhlas dengan keadaan seakarang?"


"Sebenarnya untuk masalah itu, aku sama sekali belum yakin," jawabku.


Eggy memegangi tanganku. Aku menatapnya dengan serius. Jantungku mulai berdebar kembali saat menatapnya. Apa mungkin aku telah merasakan ketertarikan padanya?


"Walaupun kamu terus mengatakan bahwa kamu mencintai Raihan, aku akan tetap berusaha untuk menghapus nama itu dalam perasaanmu, dan aku akan terus berusaha mendapatkan hatimu juga."


Apa maksudnya? Sebelumnya dia akan meninggakkanku dan memberikanku kepada adiknya, seperti barang bekas yang sudah terasa bosan dan tidak terpakai lagi, kemudian dibuang atau diberikan kepada orang lain. Menyedihkan memang jadi diriku sendiri.


"Mendapatkan bagaimana? Kakak akan menceraikanku dalam waktu terdekat ini," sindirku padanya.


"Jadi benar, ya, kamu tidak ingin bercerai?" tanyanya menggoda.


Aish! Sial. Aku kayaknya keceplosan berbicara seperti itu. Haduh. Capek deh!


"Tidak juga. Namun entah mengapa ada sesuatu yang terasa ganjal dalam benak."


Eggy membenarkan posisinya di dalam mobil dengan berbalik ke arahku dan membuatnya saling berhadapan denganku. Hal ini selalu terjadi.


"Jadi apa itu?" tanyanya penasaran.


Rasanya aku seperti di wawancarai olehnya. Sungguh banyak sekali pertanyaan darinya. Dan setiap aku berbicara, aku seperti malah balik bingung dengan pembicaraanku sendiri.


"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan terlebih dulu. Baru kita lanjutkan pembicaraan kita setelah sudah sampai di sana," usulku. Semoga dengan ini aku berhasil membungkamnya walaupun hanya sebentar.


"Tidak bisakah menjawab pertanyaan itu, kemudian kita lanjutkan perjalanan kita lagi," ujarnya.


"Tidak, Kak. Ini sudah malam, Kak. Kakak harus istirahat juga, 'kan?"


"Hanya mendengar satu jawaban terakhir darimu, aku tidak akan langsung merasa capek. Tenagaku tak akan habis hanya karena mendengar itu," jawab Eggy padaku. Alasannya banyak sekali. Dia sangat pintar untuk mendesakku agar berbicara. Bagaimana tidak? Dia adalah pengurus perusahaan. Sudah pasti sangat pintar. Jika tidak pintar, bagaimana jadi pemimpin perusahaan?


"Aku mengantuk, Kak. Gak kuat lagi. Sebaiknya lanjutkan saja perjalannya. Kita ada banyak waktu di Villa. Seminggu apakah tidak cukup untuk melakukan pendekatan?" jelasku panjang lebar.


Eggy pasrah. Dia mengehelakan napasnya. "Baiklah. Aku akan melanjutkan perjalannya."


Eggy kembali menancapkan gas mobilnya.


Sepanjang perjalanan, kami memang tidak begitu banyak berbicara setelah pembahasan itu, namun sesekali aku dan Eggy saling berbalas tatapan satu sama lain. Untuk menghindar dari suasana canggung itu, aku langsung mengalihkan pandanganku ke luar kaca jendela mobil dan melihat pemandangan di luar sana. Sangat indah. Banyak jurang, pepohonan, kota dan desa pun terlihat lebih kecil jika dilihat dari sini. Mungkin karena saking jauhnya.


Beberapa saat aku dan Eggy pun telah sampai ke Villa. Rupanya aku tertidur di dalam mobil, cukup lelap. Mungkin karena kelelahan dalam perjalanan yang panjang.


"Bulan ... Bulan, Sayang. Ayo bangun!"


Eggy menepuk-nepuk pipiku dengan pelan. Kemudian, aku terbangun perlahan-lahan. Aku masih ling-lung. Penglihatanku pun tidak begitu jelas, karena memang baru bangun tidur.


"Kenapa, Kak? Apa sudah sampai, ya?" tanyaku.


"Sudah, Sayang. Ayo kita masuk. Lanjutkan istirahatnya di dalam," jawab Eggy.


"Tunggu sebentar." Aku sebenarnya sangat malas sekali untuk bangun. Benar-benar capek dalam perjalanan itu, seperti ditimang sepanjang perjalanan.


"Apa perlu aku gendong?" tanyanya menawarkan jasa.


Sontak aku langsung melek mendengar kalimat itu. "Eh, tidak, tidak. Tidak udah. Aku akan segera bangun."


Karena hari sudah malam, aku tidak begitu melihat dengan jelas bagaimana suasana Villa itu. Aku pun tidak melihat jelas bagaimana bentuk tempat itu. Mungkin esok pagi, aku akan segera melihat keindahan tempat ini. Untuk itu, yang harus aku lakukan adalah segera pergi tidur, agar hari esok cepat datang.


"Sini biar aku bantu membawakan barang-barangmu," kata Eggy sambil mengambil koper dari tanganku.


"Tidak apa nih, Kak?" tanyaku.


"Tidak apa-apa, Sayang," jawabnya.


"Tidak bosen kah, Kakak terus memanggilku dengan kata 'Sayang'?"


"Mengapa harus bosan? Mau aku panggil dengan sebutan kesayangan pada waktu acara kantor?" tanyanya.


Aku berpikir sejenak. Acara yang mana itu?


"Yang mana, Kak?" tanyaku.


"Bee," sahutnya.


"Boo?"


Kata itu begitu saja terucap dari dalam mulutku. Entah mengapa, namun kata-kata itu terlintas di pikiranku.


"K-kamu? Sudah ingat?" tanya Eggy dengan mengubah raut mimik wajah menjadi semringah.


"Ingat apa?" tanyaku kebingungan.


Suasana ini seperti terasa de javu. Terulang dengan waktu yang sama, terulang dalam suasana yang sama, terulang dalam keadaan yang sama pula.


"Sepertinya keadaan ini pernah kita alami deh, Kak," kataku.


"Memang."


"Jawabannya akan sama dengan yang waktu lalu itu," kataku ragu.


Eggy mengubah mimik wajahnya menjadi kecewa.


"Rupanya kata-kata itu keluar begitu saja, ya?" tanyanya.


"Sepertinya iya."


"Baiklah. Ayo masuk! Kita istirahat dulu untuk malam ini. Besok kita akan bahas tentang kita."


"Baik, Kak."


Akhirnya aku dan Eggy masuk ke dalam Villa. Terlihat dia menyimpan koper di sembarang tempat. Mungkin dia juga merasa lelah dengan perjalanan tadi, dan dia ingin segera beristirahat. Namun aku melihat hanya ada satu ranjang di Villa ini. Apakah kita berdua akan tidur bersama lagi? Berdua lagi? Saling membelakangi lagi?


"Ranjangnya hanya satu?" tanyaku pada Eggy.


Eggy tersenyum dengan raut wajah yang aneh. "Bagaimana lagi?"


Yang benar saja. Mungkin aku harus terbiasa dengan keadaan seperti ini. Oh, Tuhan! Kapan ketidak nyamanan ini akan berakhir? Sungguh menyebalkan sekali kehidupanku.