The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Bab 26



Perbincangan antara aku dan Nenek berakhir ketika Eggy kembali datang dan duduk bersama kami.


"Maaf, mari kita lanjutkan pembicaraannya," kata Eggy.


"Sudah selesai. Tidak ada lagi pembicaraan selanjutnya," ucap nenek Eggy.


"Tetapi ...," kata Eggy terpotong.


"Nenek tidak tahu apa yang kalian berdua janjikan. Tetapi nenek berharap kalian dapat mencintai satu sama lain," ujar nenek mendoakan kami. Eggy hanya menatap mataku tajam. Mungkin perasaannya cukup peka untuk apa yang akan dibicarakan oleh Nenek.


"Apakah itu sebuah restu yang sesungguhnya?" tanyaku dalam hati. "Sepertinya tulus." tambahku dalam hati smbil menatap wajah nenek yang penuh dengan harapan.


"Mari ikut Nenek!" Ajaknya.


Kini ia mengajakku ke ruang makan, sepertinya nenek akan mengajak kami untuk makan bersama.


"Mari duduk, kita makan malam bersama!" ujar Neneknya.


"Ternyata memang benar dugaanku!" kataku dalam hati.


Aku dan Eggy lekas duduk di meja makan yang sama.


Kemudian nenek mulai menyajikan sedikit demi sedikit makanan yang ada di meja ke dalam piring kami. Membuatku canggung dan melakukan hal yang semestinya aku lakukan sebagai cucu.


"Tidak, nek. Biar aku saja!" ucapku sambil berdiri dan mulai mengambil centong.


Ku sajikan makanan yang sudah tersedia kepada nenek dan suamiku.


Suamiku. Kata itu memang ingin aku sebutkan secara langsung padanya, namun bibir ini tak mampu untuk bicara dan berkata jujur padanya. Bibir ini lebih memilih Raihan di bandingkan Eggy.


"Ini untuk Nenek!" kataku sambil memberikan sedikit nasi dan sayur ke piringnya. "Dan ini untukmu, suamiku," tambahku sambil tersenyum senang dan memberikan sedikit makanan sama seperti yang kuberikan kepada nenek.


Mendengar aku berkata 'suamiku' kepada Eggy, nenek Eggy mulai tersenyum. Mungkin seperti itulah keinginan nenek terhadap cucu semata wayangnya itu.


"Cukup!" kata Eggy menghentikan penyajian makanan yang akan ku sajikan ke dalam pirinhmg Eggy.


"Kenapa?" tanyaku heran.


Sejenak aku berhenti dan menunggu jawaban darinya, namun ia tak menjawab. Ia malah akan memulai untuk memakan makanan yang ada di dalam piring seadanya. Aku pun langsung menyajikan kembali sebagian makanan yang belum ku sajikan.


"Kubilang cukup!" tegas Eggy dengan menaikkan nada suaranya.


Hal itu membuatku terkejut dan tersentak. Aku pun spontan menjatuhkan centong yang tengah ku pegang itu.


"Maaf, Nek. Akan kubersihkan!" ucapku sambil menunduk untuk mengambil centongnya.


"Sudahlah! Makan terlebih dulu, nanti akan ada yang membersihkan lantai," kata Nenek.


Kemudian aku pun pergi ke arah dapur untuk mencari sebuah lap pel. Setelah aku tak ada bersama mereka, nenek mulai berbincang kepada Eggy.


"Kenapa bercerai?" tanya Neneknya.


"Karena sebuah perjanjian," jawabnya dengan jujur.


"Berapa hutangnya?" tanya nenek lagi.


"Tidak besar, hanya beberapa milyar," jawab Eggy.


"Dengan menikahinya, hutangnya sudah punah?"


"Tidak. Karena sebagian hutang lagi belum ia bayar,"


"Bagaimana bisa orang tuamu merestui hubungan kalian, jika menantunya orang yang tidak mampu dan berhutang pada mereka?" tanya nenek penasaran.


"Mereka tidak tahu bahwa Bulan dan keluarganya yang meminjam uang. Karena mereka meminjam ketika orang tuaku sedang di luar negeri dan aku yang mengurusnya," jelas Eggy.


"Pantas saja. Lalu mengapa kau ingin menikahinya hanya untuk melunasi hutangnya? Bukankah kau mencintainya, nak?"


"Tidak, nek. Itu karena urusan bisnis. Jadi kami sama sama menguntungkan. Iapun setuju akan hal itu," ujar Eggy.


"Kenapa cucu nenek bisa berpikiran seperti itu dan berbuat hal itu? Pernikahanmu sakral, nak. Tidak bisa di permainkan! Itu termasuk kriminal," nasehat nenek.


Eggy terdiam dan berpikir. Terlihat ia sedang berpikir keras dengan keadaan yang sudah terjadi padanya.


"Nenek tidak perlu khawatir. Walau pun itu hanya nikah kontrak, tetapi tanggung jawabku sebagai suami sudah kupenuhi. Tiap bulannya aku sering mengirimkan uang untuk menafkahinya secara lahir," sahut Eggy dengan begitu tenangnya.


"Lalu secara batin? Apakah kau melakukannya?" tanya nenek.


"Aku sudah membuatnya tersenyum dan tertawa, itu pun termasuk sebuah nafkah batin baginya," jawab Eggy. "Apakah aku benar?" tambahnya bertanya.


"Ya. Kau memang benar, nak!" sahut neneknya.


Sebenarnya Eggy tahu apa yang sedang nenek pikirkan dengan berharap lebih kepadanya dan kepadaku. Namun kami memang tidak bisa apa-apa. Janji adalah hutang, aku dan Eggy harus tetap melunasinya sampai kami benar-benar bercerai.


Eggy memang pria pintar. Ia berbicara dengan tenang dan menjawab semua pertanyaan dengan jawaban yang masuk akal. Jika aku harus melepaskannya, Mungkin aku takkan pernah menemui pria seperti dia yang lainnya. Dia seperti seseorang yang langka dan sulit dijumpai.


Diam-diam aku mendengarkan apa yang sedang mereka perbincangkan. Aku merasa sesak ketika mendengar Eggy mengatakan tidak mencintaiku dan hubungan ini hanyalah bisnis.


Ya. Ini memang bisnis. Aku pun sudah mengetahuinya, namun kenapa aku mulai naif dan egois seperti ini? Apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Tidak. Pertanyaan itu sering kali muncul dalam pikiranku. Aku tak bisa mencintainya.


Ia memang pernah membuatku tertawa atau tersenyum bahagia. Itu benar. Karena hanya dengan merasa bahagia, itu sudah termasuk memberikan sebuah nafkah bathin untuku. Apa yang dikatakannya memang benar.