
Aku berada di kasir untuk membayar semua makanan yang aku dan Eggy beli. Saking banyaknya bahan-bahan yang akan aku beli, aku pun mulai merasa kesal saat menunggu pembayaran itu. Karena saking banyaknya semua makanan yang aku beli. Benar apa yang dikatakan oleh Eggy. Kayaknya aku membeli terlalu banyak bahan dan makanan. Ini bisa jadi persediaan dalam kurun waktu satu bulan. Tetapi tidak masalah. Its oke.
"Semuanya total satu juta tiga ratus tujuh puluh tiga ribu rupiah, Mba," ucap Mba-mba yang di kasir. Aku menatap ke arah Eggy, memberi kode bahwa dia harus segera membayar semua barang yang sudah dibeli.
"Sebentar," ucap Eggy sambil meraba-raba saku celananya.
Terlihat Eggy sangat panik ketika dirinya memegangi saku celananya. Kemudian, dia pun langsung menatap ke arahku.
"Ada apa, Kak?" tanyaku cemas.
"Apa dompetku ada di kamu?" tanya Eggy.
Tunggu! Eggy menanyakan sebuah dompet, itu artinya Eggy tidak membawa dompet. Otomatis dia tidak membawa uang dong. Astaga. Bagaimana ini?
"Tidak ada, Kak. Apa Kakak lupa naruh?" Aku ikut cemas dan panik juga. Pegawai yang di kasir pun masih melihat ke arah kita. Aku benar-benar malu dengan kejadian ini.
"Di mobil? Mana mungkin," sahutnya.
"Lalu?" tanyaku.
"Aku gak tahu, Bulan. Lagian aku. langsung masuk mobil saat menunggumu."
"Kok Kakak bisa-bisanya sih sampe lupa gitu sama uang. Kan jadinya begini."
Aku dan Eggy sempat bertalengkar sebentar di supermarket. Hal ini benar-benar memalukan sekali. Rasanya aku pengen cepat kabur, gak kuat sama rasa malunya.
"Bulan, apa kamu membawa uang?" tanya Eggy.
Aku mengingat-ingat dulu. "Bawa sih," jawabku.
"Aku pinjam dulu uangmu, ya. Nanti aku ganti setelah sampai di rumah," sahutnya.
"Ah, iya, iya. Sebentar."
Aku pun langsung mengeluarkan dompetku dan sejumlah uang di dalamnya. Setelah dihitung-hitung, uang tunaiku rupanya kurang.
"Mba, uang tunaiku kurang. Apa bisa pakai kartu kredit?" tanyaku.
"Maaf, Mba. Tidak bisa. Di sini tidak menyediakan fasilitas pembayaran kartu. Semuanya harus bayar tunai," jawabnya.
"Bagaimana dong ini? Apa tidak ada ATM terdekat sekitaran sini. Mba? Biar suami saya yang bawa dulu uangnya, nanti kemari lagi."
"Ada. Hanya saja cukup jauh. Sekitar 20 menitan dari sini, baru ada mesin ATM."
Astaga. Daerah ini benar-benar membuatku susah. Bagaimana bisa mesin ATM saja jauh dari sini? Ini juga supermarketnya. Tidak bisa bayar pake kartu. bagaimana ini? Eggy juga malah gak bawa dompetnya. Justru dompet itu paling yang dibutuhkan. Kesal deh jadinya.
"Sisanya berapa, Mba? Biar saya yang bayar sisanya," ucap seseorang. Spontan aku dan Eggy menengok ke arahnya. Rupanya dia si gadis itu, yang sebelumnya mengobrol dengan Eggy.
"Eh, kamu. Tidak usah."
"Tidak apa-apa. Nanti kamu bisa ganti kok, kapan saja," sahutnya.
"Gak merepotkan. Sudah. Daripada makannya ditahan gitu, 'kan? Gak baik juga. Kasihan, banyak yang antri buat bayar barang mereka."
Benar juga apa yang dikatakan oleh wanita itu. Jika aku tidak membayar dan mencari solusi untuk membayar barang-barangku, mana bisa pulang kita. Malah dibawa ke kantor security nih bisa-bisa, karena tidak membayar barang belanjaan.
"Tapi ...."
"Sudah. Jangan khawatir. Aku bayar sisanya kok," kata wanita itu. "Sisanya berapa, Mba?" lanjutnya bertanya kepada pegawai kasir.
Dengan terpaksa, aku pun harus menerima barang-barangku dibauar olehnya. Aku dan Eggy sebenarnya merasa malu akan hal itu. Namun bagaimana lagi? Ini adalah satu-satunya cara, agar kita dapat membawa pulang semua barang-barang kita.
"Terima kasih sudah membantu," kataku padanya dengan perasaan yang masih segan.
"Terima kasih," ucap Eggy.
"Its oke. No problem. Bukan masalah besar kok, aku juga bawa uang lebih. Lagian kurangnya uangmu kecil kok. Jadi gak masalah."
Apa-apaan dia? Apa dia mau sombong? Apa dia mau memperlihatkan bahwa dirinya kaya raya? Sungguh menjengkelkan. Astaga. Kenapa pikiranku ini? Kenapa aku jadi mencelanya? Jangan bilang bahwa aku telanjur cemburu saat dia ngobrol sama Eggy tadi.
"E-eh, iya. Kalau gitu terserah kamu saja," sahutku.
Akhirnya, sebagian belanjaanku dibayarkan olehnya. Sungguh memalukan.
Beberapa saat kemudian, aku terdiam di dalam mobil tanpa mengajaknya bicara. Aku mulai kesal dengan keadaan di sini. Aku terkacangi, aku benar-benar diabaikan olehnya. Eggy dan gadis itu asyik ngobrol di kursi mobil depan. Hanya aku sendirian yang berada di kursi belakang mobil bersama keresek belanjaan yang serba penuh milik aku dan Eggy, juga ... milik wanita itu.
Kesel gak sih, saat harus melihat suami sendiri berbincang dengan asyik bersama orang baru? Kesel, 'kan? Aku pun merasakan hal yang sama. Melihat mereka berdua menjadi dekat. Kenapa sih saat acara liburan aku dan Eggy mesti harus ada yang mengganggu? Dengan sepenuh napas yang masih tersisa, saat ini aku hampir kesulitan untuk bernapas.
Aku hanya mendengar perbincangan mereka dari arah sini.
"Kalian sepertinya pengantin baru ya? Berbulan madu di daerah sini?" tanya wanita itu.
"Bukan juga."
"Bukan pengantin baru? Masa iya sih?" kata wanita itu penasaran. Sebut saja namanya Shelly.
"K-kami sudah lama menikah kok," sahutku yang ikut nimbrung.
Shelly menoleh ke arahku. "Benarkah?"
"Kita sudah 3 tahun menikah kok."
"Wah, ternyata sudah lama juga, ya. Apa kalian berdua sudah punya anak?" tanyanya.
Serentak aku dan Eggy terdiam dan saling menatap dari kaca spion dalam mobil.
"Mm ... untuk masalah anak, a-aku dan suamiku sedang berusaha. Maka dari itu aku dan dia berlibur di villa ini. Kita selalu melakukan honeymoon 6 bulan sekali. Dan ini adalah bulan madu yang keenam kalinya. Mungkin Tuhan masih belum mempercayai kita sebagai orang tua, maka dari itu, kita selalu berusaha untuk melakukan bulan madu ini secara rutin. Hehehe," jawabku dengan panjang lebar. Eggy tersenyum mendengarkanku, lalu Shelly hanya terdiam menganga mendengarku mengatakan seperti itu. Kuharap dia percaya dengan semua kalimatku barusan.
Aku mengatakan ini dengan sangat gugup. Apakah aku akan ketahuan berbohong padanya? Semoga saja tidak. Lebih kesalnya, Eggy hanya diam tidak membantu untuk. mwnjawab pertanyaan itu. Dasar manusia aneh!