The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 82



Beberapa menit awal film dimulai, masih terlihat biasa saja. Sesekali aku menatap ke arah Eggy. Aku masih belum menemukan sesuatu yang mengejutkan dari mimik wajahnya Eggy. Mungkin karena ini masih awal kali ya, filmnya pun belum kelihatan adegan yang menegangkan juga.


"Ini tentang apa sih?" tanya Eggy tiba-tiba.


"Pembunuhan," jawabku singkat.


"Iya, tahu. Maksudnya ceritanya gimana, kok sampe dibunuh?" jelasnya.


"Dilihat dari sinopsisnya sih, katanya balas dendam gitu. Makanya jadi pembunuh."


"Dendam?"


"Iya."


"Lalu bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Bagaimana lagi?" tanya Eggy penasaran.


"Ya aku gak tahu, Kakak. Kan aku baru saja lihat filmnya. Kakak gimana sih," jawabku.


"Eh, iya. Bener juga sih. Yaudah deh, kita lanjut nonton."


"Kakak ada-ada saja nih." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan tertawa melihatnya.


Kemudian aku mulai kembali fokus untuk menonton film tersebut.


Adegan demi adegan suka kami tonton. Cemilan pun perlahan-lahan mulai berkurang dan habis dilahap olehku dan juga oleh Eggy. Seketika minuman kaleng juga hampir habis diminum oleh kita.


Saat adegan pembunuhan itu terjadi, ketegangan di antara mereka mulai terjadi. Ketika sang pembunuh diam-diam berdiri di belakang pintu, seorang korban dikejutkan oleh pembunuh yng secara tiba-tiba menikam dirinya dari belakang. Kemudian pembunuh itu membawa si korban dan melempar tubuh korban sampai jatuh ke lantai. Saat sudah terjatuh, dia langsung memukulnya sangat keras dengan tongkat bisball ke kepalanya, sampai bocor dan berlumuran darah sampai ke sekujur tubuhnya. Menyeramkan.


Ekspresi Eggy terus menyipitkan matanya, sesekali mengintip adegan film tersebut. Dia seperti merasa ngilu saat melihat pembunuh itu menyiksa si korban. Aku hanya tersenyum melihat ekspresinya yang seperti itu.


"Masih kuat gak, Kak?" tanyaku.


Eggy mengubah sikapnya menjadi biasa saja, dia berpura-pura untuk tidak merasa ngilu.


"M-ma-masih kok. Kenapa?"


"Aku lihat Kakak merem melek mulu. Gak kuat lihat linunya ya?" godaku.


"Enggak kok. Biasa saja," elaknya.


"Masa sih?" tanyaku sambil menatap wajah Eggy. Kini Eggy mulai salah tingkah. Rasanya aku mulai menyukai Eggy yang seperti ini.


"Mm ... i-iya. Seperti yang aku bilang. Aku biasa saja dengan ini."


"Benarkah?" Aku semakin mendekatkan wajahku ke arah Eggy. Ingin melihat betapa anehnya wajah Eggy saat-saat seperti ini.


Eggy menatapku tajam. Hal ini lah tmyang membuatku tak bisa berhenti menatapnya. Tatapan Eggy sangat indah, sehingga membuatku tak ingin mengalihkan pandanganku kepada siapa pun.


"Aku tahu, kamu sedang menggodaku, 'kan?" tanya Eggy dengan nada yang serius.


Aku pun menelan ludahku sendiri. "Ka-kata siapa?" tanyaku secara refleks memundurkan badanku untuk menjaga jarak dengannya.


"E-nggak kok, Kak. Aku gak menggodamu."


"Lalu?"


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku saja terhadapnya. Kemudian Eggy mendekatiku. Perlahan-lahan aku memundurkan tubuhku menjauhi jarangnya, tetapi aku malah menjatuhkan tubuhku di sofa sehingga posisiku jadi tertidur sambil menatapnya. Lalu Eggy mulai mendekatiku dan dia menindih tubuhku.


Berkali-kali aku mengedipkan mata padanya, merasa tegang, gugup dan berdebar. Aku baru menyadari suatu hal, bahwa jika seorang wanita berada di bawah lelaki itu sangat terasa menegangkan. Keringat dingin pula mulai terasa, dan seperti ada sesuatu yang tiba-tiba menjalar begitu saja ke seluruh tubuhku.


Ini adalah hal yang paling sangat dekat ketika aku bersama Eggy. Benar-benar dekat. Kemungkinan aku akan sulit untuk menghindar darinya. Kecuali aku menjatuhkan tubuhku ke lantai, atau mendorong badannya sampai dia jatuh juga.


"Setelah semalam, kurasa kamu mulai tertarik padaku," ucap Eggy.


Eggy pun menjauhiku dan kembali duduk seperti sebelumnya.


"Bangunlah! Filmnya masih berjalan nih. Lagi seru-serunya nih," kata Eggy mengalihkan pembicaraan. Kemudian aku pun bangun dan kembali duduk dengan rasa canggung. Malah berbalik.


Setelah filmnya selesai, aku dan Eggy masih tetap saling diam. Lalu, Eggy mengajakku masuk ke kamar.


"Bulan," panggilnya.


"Iya, Kak," sahutku.


"Mm ... kita ... ke kamar yuk!" ajaknya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Aku ingin berduaan denganmu."


"Ki-kita juga sudah berduaan kok."


"Tapi bukan itu maksudku."


"Mm ... lalu apa?"


Eggy terlihat kebingungan untuk membicarakannya. Namun aku mencoba bertanya lagi padanya.


"Jadi, Kakak mau tidur? Terus ditemani sama aku?" tanyaku


"Boleh," jawabnya singkat.


"Kayak anak kecil deh, tidur aja pengen ditemenin," gumamku.


"Ya gak apa-apa dong. Kan jarang-karang anak gede pengen ditemenin."


"Bukan gitu. Tapi Kakak sudah bukan masanya," ucapku.


"Ya sekalian kamu kelonin, 'kan?" Inginnya.


"Aish. You wish, Kak."


"Ya emang."


Enggak ah. Aku mau lanjut nonton film lagi. Mau cari film yang lain, kalau Kakak mau tidur di kamar, ke kamar aja sendiri," kataku padanya. "Hati-hati, ada psikopat di atas," lanjutku berbisik padanya.


Eggy pun tersenyum. Kemudian dia juga membisikkan sesuatu ke telingaku. "Hati-hati juga ada seseorang kriminal, wanita sendirian di sini rentan diganggu lho."


Oke fix. Eggy menakutiku. Namun aku tidak ingin mempercayainya.


"Menggertak saja, Kakak. Itu tidak terpengaruh padaku lho."


"Terserah saja. Aku cuma mengingatkan lho."


Eggy pun langsung membawa sisa minuman kaleng yang belum habis. Kemudian dia pergi meninggalkanku sendirian di bawah.


Setelah beberapa saat, aku kembali menonton film pilihanku selanjutnya. Aku beralih genre menjadi film horor, biar ada sedikit tegangnya jika menonton sendirian di sini. Apalagi hari sudah mulai malam begini. Sudah pasti suasana akan sangat mencekam.


Setelah lama menonton film, aku mulai waswas sendirian di sini. Selain villa ini banyak pepohonan di sekelilingnya, di luar juga terlihat sangatlah gelap. Benar-benar gelap. Aku mencoba untuk tidak berpikir hal lain, dan tetap memfokuskan pikiran agar tetap berpikir senang.


Namun sayangnya, aku tidak bisa mempertahankan pikiran itu. Tiba-tiba ada suara aneh terdengar dari arah luar villa. Aku menatap dan menengok ke arah asal suara itu, sejenak memperhatikannya. Namun tidak ada apa-apa. Aku masih tetap pada pikiran positifku. Mungkin suara angin membuat ranting pohon itu saling bergesekan, sehingga menimbulkan suara aneh.


"Bukan. Bukan hal itu. Jangan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kak Eggy. Jangan percaya. Tetap positif, Bulan!" aku terus saja bergumam seperti itu. Namun suara itu kembali datang lagi.


"Oh, tidak! Apa aku harus teriak?" tanyaku ketakutan.


*****