The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Restoran



Terlihat Eggy masih duduk diam di dalam mobil. Dia melihat ke dalam restoran memalui dinding kaca restoran itu dari arah kaca jendela mobil. Dia mencari-cari sosok seseorang yang tak lain adalah Bulan. Bulan nampak tidak ada. Eggy tidak menemukannya jika di lihat dari luar restoran. Kemudian Eggy mengambil ponselnya dan segera meneleponnya. Namun Bulan tidak kunjung menjawab telepon dari Eggy. Sudah dipastikan bahwa Bulan kini sudah mulai bekerja kembali. Alhasil, Eggy pun memarkirkan mobilnya di depan reatoran. Lalu ia keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki restoran.


Setelah dirinya berada di dalam sana, dia menatap ke sana kemari untuk mencari Bulan. Lagi-lagi dia tidak melihatnya. Dengan terpaksa dia mencari duduk yang kosong. Seperti yang sudah di jelaskan oleh Bulan saat di telepon sebelumnya, Eggy melihat ada banyak pengunjung yang ada di restoran sana. Kini Eggy tahu seberapa sibuknya Bulan saat dirinya harus bekerja di sini. Ada perasaan kasihan dalam benak Eggy terhadapnya. Seharusnya Bulan tetap diam di rumah, atau bekerja sebagai penjaga toko emas, manager restoran di restoran yang Eggy punya. Atau bahkan mengelola usaha Eggy lainnya. Sepertinya Eggy mendapatkan ide baru mengenai hal itu. Dia kembali mengambil ponsel dsri sakunya dan langsung mengirimkan pesan kepada Bulan.


Isi pesan itu:


'Sayang, aku ada di restoran. Aku tidak melihatmu. Apakah kamu lelah dengan pekerjaanmu? Aku lihat ada banyak sekali pengunjung yang datang pada hari ini, sampai aku saja kesulitan untuk mencari tempat duduk. Kemarilah! Temukan aku dan temui aku segera.'


Eggy memencet tombol kirim. Dia pun menunggu balasan dari Bulan. Namun setelah di tunggu beberapa menit, tidak ada balasan. Eggy memang tipikal orang yang tidak sabaran. Maka dari itu, dia harus mencari pelayan lain untuk melayaninya. Dia melihat ada seorang pelayan yang sedang mengobrol dengan pengunjung lain. Mereka sedang mengonrol mengenai makanan yang ada di menu. Setelah itu pelayan mencatan pesanannya.


Eggy yang melihat pelayan itu tidak jauh dari jangkauan matanya, dia langsung melambaikan tangan dan memanggil pelayan tersebut untuk segera menemuinya.


"Hei, pelayan!" panggil Eggy.


Pelayan itu spontan menengok. Betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang memanggilnya itu. "Kak Eggy!" gumam Bulan secara perlahan.


"Bulan. Jadi dia sibuk." Eggy ikut bergumam juga.


"Ditunggu pesannya, ya, Kak. Terima kasih!" ucap Bulan kepada pengunjung yang sebelumnya memesan makanan kepada dia. Setelah itu, Bulan. langsung menghampiri Eggy. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu seperti ini.


"Kak Eggy ingin memesan makanan atau minuman apa?" tanya Bulan dengan napas yang terdengar seperti ngos-ngosan dengan keringat yang mengucur di pelipisnya. Dalam batin Eggy, dia ingin segera membawanya pulang ke rumah saja. Dia sangat tidak melihat istrinya bekerja keras seperti itu.


"Ada kopi?" tanya Eggy.


"Ada, Kak. Kopi apa?"


"Robusta."


"Baik, Kak. Aku tuliskan dulu pesanannya ya." Bulan menuliskannya. "Lalu mau pesan apa lagi, Kak?" tanyanya.


"Hanya itu saja. Nanti jika mau pesan, aku akan memanggilmu lagi," sahut Eggy.


"Ah, baiklah. Tunggu sebentar ya, Kak. Saya akan segera buatkan," kata Bulan.


Eggy mengangguk. Kemudian Bulan langsung berjalan cepat menuju dapur dan memesankan beberapa makanan keada para pekerja lain di dapur.


"Hari ini banyak sekali pesanan," eluh Bulan kepada pekerja lain.


"Itu bisa jadi, sih. Aku sepertinya sangat kewalahan. Bener-bener capek," kata Bulan merasa tidak sanggup.


"Parahnya lagi, Pak Angga belum datang juga sampai sekarang. Padahal lagi butuh bantuan tenaga," celetuk pegawai yang lain.


"Iya. Bener banget tuh."


"Aduh, kalau begini terus ... kita harus komplen ke Pak Angga supaya mencari pegawai lain di hari weekend saja. Biar membantu pekerjaan kita," ucap Bulan.


"Benar juga, ya, apa yang kamu kaatakan, Bulan," celetuk seseorang dari arah belakangnya. Rupanya dia adalah Angga yang sudah mendengarkan pembicaraan mereka. Kini mereka hanya bisa diam ketika melihat sang manager ada di hadapannya.


"Eh, Pak Angga," sapa Melda.


"Jadi, pekerjaan apa yang belum dikerjaan?" tanya Angga.


Kemudian Melda memperlihatkan semua daftar menu yang terpampang di dinding, dan terkejutnya Angga saat melihat hal itu. Dia hampir tak percaya melihat banyaknya pesanan pada hari ini.


"Kita memang benar-benar membutuhkan tenaga yang lain," gumam Angga dengan pelan.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


3


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*