
Cuaca hari ini sangat cerah. Rasanya aku ingin pergi mengunjungi rumah Susi kembali. Aku merasa kangen dengan anaknya, Putri. Ingin bermain bersamanya lagi. Namun aku kapok jika harus berjalan kaji atau lari menuju rumahnya, bisa-bisa nyawaku malah ikut lari juga. Hehehe.
Aku mukai memilah dan memilih pakaian yang akan aku kenakan saat ini, tetapi ada hal ganjil dengan pakaian-pakaianku saat ini. Rasanya semua oakaianku terasa kecil. Pas banget jika dipakai di badan. Tidak enak dipandang. Mungkin aku harus membeli pakaian baru deh.
Aku pun berniat untuk ke Mall terlebih dulu, membeli pakaian baru sebelum aku datang ke rumah Susi, menemuinya. Rasanya pakaian yang ada di rumah, masih begitu sangat pas dipakai. Padahal selama 3 hari kemarin aku olah raga mati-matian sampai pingsan. Pakaianku juga rasanya kurang nyaman untuk kupakai. Maka dari itu, aku meminta izin Eggy untuk pergi ke Mall sendirian.
"Aku akan ke rumah Susi. Aku ingin berkunjung kembali ke sana. Rupanya Susi sudah mempunyai seorang anak kecil, dia wanita. Namanya Putri. Lucu lho. Aku jadi kangen pengen main ke sana."
"Anak?" tanya Eggy.
"Iya. Masih kecil kok. Dua tahunan gitu. Masih lucu-lucunya kan anak umur segitu. Gemesin. Jadi pengen cepet ketemu," kataku greget sendiri.
"Tidak masalah sih," sahutnya dengan singkat.
"Tapi aku punya sedikit masalah," kataku dengan ragu-ragu.
"Apa?"
"Aku ingin membeli pakaian baru dulu, sebelum bertamu ke rumah Susi. Karena pakaianku ngepas semuanya. Gak nyaman dipakai. Mungkin aku akan memakai uangmu terlebih dulu. Aku kan tidak bekerja, mana mungkin aku punya uang untuk membelinya."
"Kalau tidak punya uang, ya berusaha," sahutnya datar.
"Aku pinjam deh, aku gak minta," kataku berusaha menegosiasi.
"Yakin nih, mau minjem uang dariku?" tanyanya.
"Iya, aku yakin. Gak percaya ya? Ya pasti sih. Karena aku kan pengangguran. Wajar kalau tidak percaya. Lagian musyrik juga percaya sama aku," jawabku ketus. Saking kesalnya.
"Kalau tidak membayarnya, apa yang akan kamu tawarkan padaku?" tanyanya padaku.
Gila! Penawaran apa ini? Negosiasi apa ini? Rasanya kok dia memanfaatkan keadaan. Apa dulu kalimat itu terucap juga kepada orang tuaku? Sehingga orang tuaku menjawab dengan menawarkan anak gadisnya sendiri. Jika mengingat itu, aku merasa sakit hati dan rasanya ingin menangis, berteriak sekencang mungkin. Namun apalah daya. Aku tak bisa melakukannya.
"Aku akan menawarkan diri sebagai istrimu selama 1 hari 1 malam. Bagaimana?"
"Tergantung jumlah uang kamu habiskan hari ini."
"Baiklah. Aku tidak akan menghabiskan uangmu yang banyak. Cukup dua sampai tiga setel pakaian yang akan aku beli." Sejenak aku berpikir. "Eh, tiga setel pakaian deh. Baju, celana, dan mungkin juga sepasang sepatu," tambahku seraya cengengesan padanya.
Eggy menatapku dengan serius. Fix. Pasti dia melarangku belanja banyak. Apalagi perusahaan dia sedang anjlok. Apa aku keterlaluan meminta uangnya untuk belanja kebutuhanku? Sedangkan aku mengetahui masalah dia dalam keuangannya.
"Tidak masalah."
"Aku akan pergi sendirian. Boleh?" tanyaku padanya.
"Hanya sendirian?"
"Kayaknya iya."
"Kalau begitu, tambah 1 pakaian lagi. Itu menjadi bonus untukmu."
"Benar kah?" Aku merasa senang dengan tambahan itu. Setidaknya, aku bisa belanja untuk bulan ini 4 pakaian sekaligus. Hanya dengan menjadi istri sungguhan selama sehari, rasanya tidak berat juga. Bukan berarti aku menjadi wanita bayarannya, atau lebih hinanya sebagai wanita ******* atau wanita murahan yang hanya dibayar dengan 4 pakaian, aku menjadi wanita malam dia. Bukan. Jika di mata agama dan di mata negara aku sah sebagai istrinya, aku bukanlah wanita seperti itu.
"Tapi ada syarat tipe pakaiannya," ucapnya.
"Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Kamu harus beli gaun malam, wajib!" jawabnya dengan tegas.
Gaun malam? Seperti apa gaun malam? Apakah pakaian untuk makan malam romantis? Atau kah untuk berduaan denganku, seperti melakukan kencan pada umumnya? Ah, bodo amat deh. Hanya 1 hari 1 malam ini saja, 'kan?
"Oke. Nanti aku akan beli."
"Kamu harus pakai saat membayar hutangmu. Malam ini!" kata Eggy.
"Bukannya jika aku tidak bisa bayar ya?" tanyaku kebingungan.
"Kamu tidak akan bisa bayar. Jadi, patuhi saja perintahku."
Aku pun berdecak kesal. "Ck. Iya, iya, Bos. Aku akan patuh."
"Aku pegang kalimatmu. Kamu akan patuh padaku pada malam ini dan juga besok," kata Eggy mengulang sebagian kalimatku.
Mendengar kalimat itu, membuatku merasa takut terhadapnya. Hal itu seperti kalimat ancaman bagiku. Apa yang akan dilakukan Eggy? Mungkin kah dirinya akan memakanku? Seketika dia menambah pribadi gandanya dengan sifat yang menyeramkan. Benar-benar membuatku merasa bingung dengan situasinya. Mungkin jika terus begini, perlahan-lahan juga aku akan memahami dan tahu cara menghadapi dirinya. Yang pasti untuk saat ini, aku harus belanja dulu. Mungkin sambil makan-makan dan jajan di luar, gak apa-apa kali ya? Toh, hal itu tidak terlihat karena langsung masuk ke dalam perutku. Ahihihihi.
"Baiklah. Aku akan pergi hari ini juga. Memangnya kamu akan pulang jam berapa?" tanyaku.
"Mungkin tidak lama," jawabnya. "Memangnya kenapa?"
"Tidak. Hanya bertanya saja," kataku mencoba untuk tidak membahas itu lagi. "Kalau begitu, aku akan bersiap-siap untuk pergi. Sampai jumpa!" ucapku. Kemudian aku pun pergi meninggalnya. Kali ini Eggy benar-benar menjadi pria baik. Aku jadi merasa yakin terhadapnya.
*****