The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 94



Note:


Maaf hari ini pendek lagi. Karena seperti yang sudah aku jelaskan pada hari kemarin, kondisiku kurang sehat akibat kurangnya istirahat. Mungkin sampai hari esok dan beberapa hari kemudian, aku akan update pendek lagi sampai kondisiku benar-benar membaik. Terima kasih kepada kalian yang sudah mendoakanku. Semoga kesehatan dan semua kebaikan, Tuhan akan berikan padamu. Amin.


Semoga kalian masih bisa menyukai ceritaku ini. Terima kasih semua. :)


*****


Keseruan antara aku, Eggy dan Fadhla, kini sudah berakhir. Aku membereskan makanan dan barang-barang yang masih kotor di meja sana. Eggy membantuku membereskan semuanya.


Apakah kalian pernah melihat seorang pria mencuci piring di hadapan pasangannya? Jika sudah pernah, berarti nasib kita sama. Aku pun melihat Eggy yang sedang mencuci piring di sana. Lalu aku mengelap dan menyapu sisa-sisa yang masih kotor.


Baru kali ini aku melihat Eggy begitu semangat dengan apa yang sedang dilakukannya. Diam-diam aku terus memperhatikannya secara saksama. Rasanya aku semakin merasa tertarik kepada Eggy dan sepertinya aku pun mulai terbiasa menyesuaikan diri dengan Eggy. Ya ... walaupun terkadang aku sering merasa sebal dengannya, jika dia sudah bersikap cuek, juga mengabaikan pertanyaanku seperti waktu lalu. Mungkin itu adalah sifat dia yang sesungguhnya. Jika sedang mengingtnya, aku jadi senyum-senyum sendiri.


Beberapa saat kemudian, semua pekerjaan kita sudah selesai dikerjaan. Setelah itu, aku dan Eggy beristirahat di kamar. Sedangkan Fadhla, aku tidak tahu dengannya. Mungkin dia juga sedang di kamarnya beristirahat atau melakukan kegiatannya sendirian dengan memainkan ponsel atau laptop miliknya.


Saat di kamar, aku bingung mau apa lagi. Bermain permainan, sudah. Menonton film bersama Eggy pun sudah dilakukan sejak semalam. Kemudian berenang bersama dan makan bersama pun sudah dilakukan. Lalu mau apa lagi? Seharusnya aku menuliskan jadwal di dalam catatan, supaya aku tidak perlu kebingungan untuk melaksanakan kegiatan apa saja yang akan aku lakukan selama liburan saat ini.


"Jadi ... sekarang kita ngapain, Kak?" tanyaku pada Eggy.


Sejenak Eggy terdiam. "Ini sudah malam," sahutnya.


Oke. Aku paham dengan kalimat itu. Mungkin Eggy mengatakan bahwa dia ingin mengajakku untuk tidur kembali. Namun rasanya aku akan kesulitan untuk tidur karena kejadian tadi siang di dalam toilet. Aku berusaha untuk berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa lebih dekat lagi dengan dia.


"Kak," panggilku.


Eggy menatapku. "Iya."


"Rasanya aku kesulitan untuk tidur," sahutku.


"Jadi kamu mau apa?" tanya Eggy.


"Temani aku lagi, yuk!" jawabku.


"Apa kamu tidak lelah?"


Sebenarnya aku lelah, hanya saja entah mengapa aku ingin bersama denganmu pada malam ini.


"Lelah. Mungkin aku harus menunggu sampai aku mengantuk," kataku.


Mungkin aku harus mencobanya lagi. Karena pada saat malam itu, saat aku saling berbagi cerita dua kalimat bersama Eggy, aku dan dia menjadi semakin dekat dan aku pun semakin tahu bahwa Eggy sebenarnya pria yang asyik untuk diajak bercerita dan diajak ngobrol. Dalam hal bercanda pun, kurasa dia sangat pandai. Hanya saja, mungkin karena sebuah pekerjaan yang serius dan waktu yang sangat terbatas, membuatnya menutup diri dan mengubah sikap yang sesungguhnya dari diri Eggy. Mungkin jika bersamaku, aku akan berusaha untuk membuatnya kembali lagi dengan sikap yang sesungguhnya—yang ada di dalam diri Eggy selama ini. Aku sangat yakin. Eggy pria yang baik.


"Boleh," sahutku dengan singkat.


"Cerita seram dua kalimat?" tanya Eggy.


"Enggak dulu deh, Kak. Mungkin kita bercerita tentang cerita-cerita hantu gitu. Yang dialami oleh pribadi atau dialami oleh orang lain, Kak," jawabku.


"Boleh. Apa mau ambil cemilan untuk menemani kisah horor kita pada malam ini?" tanya Eggy.


"Boleh, Kak. Mau Kakak yang ambil atau aku saja?"


"Aku saja," sahutnya.


"Baiklah. Aku minta tolong ya, Kak."


Eggy mengusap rambutku sambil tersenyum. Lalu dia pun pergi keluar dari kamar. Aku terdiam menunggunya untuk kembali, setelah beberapa saat kemudian, tiba-tiba lampu di villa ini mati. Semuanya gelap tak terlihat. Sontak aku terkejut dan memanggil nama Eggy.


"Kak. Kakak ...."


Eggy tidak menjawab. Mungkin karena di sana pun dalam keadaan gelap juga. Aku mencoba untuk turun dari ranjangku dan berjalan secara perkahan menuju keluar kamar. Aku meraba-raba ke arah sekitar, mengingat posisi kamar ini menuju pintu keluar. Setelah aku mencarinya, akhirnya aku menemukan pintu itu. Aku kembali meraba-raba ke arah dinding dan berjalan dengan sangat hati-hati. Kemudian samar-samar tak jelas aku melihat seseorang di sana. Aku memangilmya kembali.


"Kak. Kak Eggy. Apakah kamu di sana?" tanyaku.


Namun tak ada jawaban dari dia. Aku terus berjalan ke arah dirinya, sampai akhirnya aku sampai dan berhasil memegang badannya.


"Kakak. Kenapa gelap? Mati lampu kah? Atau ada kesalahan?" tanyaku lagi. Dia tetap tidak menjawab, tetapi kejutnya aku, dia begitu saja menciumku dalam kegelapan. Sontak aku terpelonjak dan sesaat terdiam kaku. Kaget.


Lalu setelah beberapa lama berciuman, dia pun berhenti, dan pergi begitu saja.


"Kak ... Kakak ... kamu mau ke mana? Kak, temani aku!" teriakku.


"Bulan! Kamu ada di mana?" teriak Eggy membalas teriakanku.


Dari sana, aku merasa ada hal yang aneh. Mengapa Eggy bertanya tentang keberadaanku, sedangkan baru saja dia mengetahuinya dan sejenak mencium bibirku. Apakah orang yang menciumku bukan Eggy? Lalu siapa dia?