
Terdengar sebuah telepon masuk berdering ke ponselnya Bulan. Dia langsung melihat nomor yang memanggilnya itu dan setelah itu, dia langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo," kata Bulan mengawali percakapan.
"Apa kabar?" tanyanya di telepon.
"Baik," jawab Bulan, dia pun menanyakan pertanyaan yang sama. "Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik kok. Oh, iya. Aku datang ke rumahmu. Apa kamu tidak pulang?" tanyanya menebak.
"Aku pulang ke rumah orang tuaku. Mungkin besok aku akan kembali ke rumah, karena aku juga kan sudah mendapatkan sebuah pekerjaan baru untuk melanjutkan hidupku di sana," sahut Bulan bercerita.
"Kenapa kamu bekerja? Padahal nanti juga kakakku akan mengirimkan uang padamu," kata Fadhla, adik Eggy.
Bulan tersenyum. "Sudahlah. Dia harus menghabiskan banyak uang lagi untuk pernikahannya. Lagian aku gak keberatan kok, jika harus bekerja di sana."
"Tapi, kamu akan repot."
"Jangan khawatirkan aku, Fadhla. Aku merasa sangat senang jika aku sibuk dengan pekerjaanku. Kamu tahu sendiri kan, bahwa Eggy akan menikah. Aku tidak bisa mengingat hal itu. Bisa-bisa aku merasa sakit hati dan menangis," kata Bulan terkekeh.
"Ah, iya. Benar juga. Oh, iya. Kamu mau pergi ke sesuatu tempat?" tawar Fadhla.
"Ke mana?" tanya Bulan.
"Iya ... cari angin segar. Kita refresing malam, sebentar. Apa mau pergi besok saja?"
"Jangan besok. Besok aku harus kerja kan. Besok adalah hari pertamaku kerja, jadi aku harus datang tepat waktu ke sana. Jika bolos di hari pertama, aku tidak yakin bahwa aku akan mendapatkan pekerjaan lain selain di sana," jelas Bulan.
"Oh, iya. Aku lupa. Kamu kan sudah bekerja, ya. Baiklah, kalau begitu malam ini kita pergi untuk merayakan hari pertama kamu bekerja. Bagaimana?"
"Boleh. Tapi ... aku harus izin keluar dulu kepada ayahku." Bulan menatap ke arah ayahnya yang sedang duduk menonton TV.
"Izin dulu lah. Kalau misalkan kamu diizinin sama ayahmu, kamu bisa hubungi aku," ujarnya.
"Oke. Nanti aku hubungi kamu. Sekarang, aku akan bersiap-siap dn meminta izin padanya."
"Baiklah. Aku akan menutupnya, Bulan."
"Oke."
"Sampai jumpa lagi."
"Oke. Sampai jumpa."
Fadhla pun menutup teleponnya. Lalu Bulan mulai mencari pakaian yang pas untuk pergi bersama Fadhla. Selepas itu, dia memoleh sedikit pewarna pada bibirnya dan taburan bedak di seluruh wajahnya. Kemudian, dia menyemprotkan wewangian di bagian tertentu di tubuhnya. Sesudah melakukan semua itu, dia langsung meminta izin kepada sang ayah.
"Aku ingin pergi ke luar, Yah. Mohon izinnya," jawab Bulan kepada ayahnya.
"Apa kamu tidak waras, Bulan?" tanya ayah Bilan dengan menaikkan sedikit nada suaranya.
"Maksud ayah apa? Mengapa ayah berbicara seperti itu?" tanya Bulan keheranan.
"Kamunitu baru bercerai. Baru hari kemarin kamu bercerai. Apa kamu gak punya otak?" Ayah Bulan semakin marah dan penuh emosional terhadap Bulan.
"Aku tahu, Ayah. Aku baru saja bercerai. Lalu mengapa?" tanya Bulan semakin merasa kebingungan.
"Apa kamu akan pergi dengan pria lain, hah?"
"I-iya, Ayah," sahutnya.
"Sejak kapan kamu menjadi murahan seperti ini? Apa saat kamu ditinggalkan oleh suamimu pergi pada masa lalu? Apa kamu bertingkah seperti ******* saat melakukan skandal dengan mantan pacarmu itu?" cela ayah Bulan padanya.
Kaimat itu seakan suara petir yang menyambar telinga dan perasaannya. Terdengar sangat pedas, sadis, dan merendahkan harga dirinya. Ini tidak seperti sosok ayahnya yang dulu. Dia berbeda. Seakan Bulan sudah tak mengenali ayahnya sendiri. Seingatnya, pada masa lalu sebelum dirinya menikah, sang ayah tidak pernah melakukan hal ini padanya. Apalagi berbicara kasar kepadanya dengan penuh amarah. Hanya hari ini dia melihatnya sebagai sosok yang berbeda.
Bulan meneteskan air mata di hadapannya. Air matanya pecah dannterus mengalir tak terbendung lagi. Dia merasakan kesakitan yang sangat pahit dari mulut sang ayah. Dia tidak menyangkanya bahwa seorang pria paruh baya itu akan mengatakan hal kasar untuk pertama kali padanya. Ini di luar dugaan Bulan.
"Apa aku serendah itu di matamu, Ayah?" tanya Bulan merintih.
"Mau apa lagi, hah? Memang kenyataannya seperti itu kan?"
"Itu tidak benar, ayah. Aku tidak serendah itu," sangkal Bulan kepadanya.
"Terserah apa yang kamu katakan. Yang jelas, kamu kini sudah rendahan!" tukas Ayah kepada Bulan.
Kalimat itu seakan mengutuk Bulan menjadi sesuatu yang buruk. Ayah mana yang tega, yang mengatakan kalimat buruk kepada anaknya. Ini adalah sebuah kutukan terpahit. Sangat pahit melebihi tragedi sang malin kundang.
Penuh rasa amarah juga, Bulan pergi melangkah meninggalkan rumah ayahnya dan menutup pintu rumah tersebut dengan amat kasar. Sampai jendela di rumahnya bergetar seakan akan mau pecah. Kini Bulan terpaksa harus kembali ke tempat di mana sebelumnya tempat itu telah menjadi rumahnya selama beberapa tahun silam.
****
**Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update sehari 2x. Terima kasih sebelumnya, readers.
Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema' di WP. Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah.
Terima kasih, semuanya. :*
Happy Reading, next!