
Perlahan Eggy mendekatkan wajahnya kewajah Bulan. Lalu dengan selembut mungkin mulai menempelkan bibirnya di atas bibir pink milik Bulan. Ia mengecup, menggigit bahkan mengeksploitasi bibir di mulutnya. Bulan mulai terhanyut ke dalam permainannya dan waktu itu pun berlalu ....
Bulan membuka matanya secara perlahan. Kemudian dia meraba-raba tempat di sampingnya. Berharap vahwa dia dapat menyentuh tubuh Eggy. Namun lagi-lagi sama seperti hari kemarinnya. Yaitu dia ditinggalkan oleh Eggy begitu saja. Bulan memasang raut wajah yang sangat kesal. Kemudian dia langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Dia mencuci wajah dan menggosok giginya. Setelah selesai melakukan itu, dengan masih memakai baju tidurnya, dia lekas berjalan menuju dapur untuk sarapan pagi. Namun setelah dia sampai di dapur, dia bertemu dengan seseorang yang sedang menyiapkan makanan di meja untuk sarapan pagi.
Bulan tersenyum ketika melihat seseorang itu sedang sibuk dengan penataan makanan di mejanya. Kemudian secara perlahan Bulan mendekatinya dan langsung duduk di kursi.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Eggy kepada Bulan.
"Halo, Kak. Selamat pagi kembali," balas Bulan tersenyum.
"Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Eggy seraya mengaduk susu di dalam gelas.
"Cukup nyenyak, Kak," jawab Bulan, "oh, iya. Aku mengira bahwa Kakak pergi begitu saja meninggalkanku seperti waktu lalu. Rupanya tidak," tambah Bulan.
"Mana mungkin? Jika ada urusan mendadak, lalu kamu belum bangun, mungkin aku akan meninggalkanmu. Tapi hari ini kan enggak ada. Jadi aku menyiapkan sarapan untukmu," ucap Eggy.
"Terima kasih sudah menyiapkan semua makanan ini untukku, Kak."
"Kembali kasih, Sayang."
Bulan tersenyum. Raut wajahnya menunjukkan suatu ke gelisahan kepada Eggy. Ada suatu hal yang ingin Bulan tanyakan kepada Eggy. Dia pun mencoba untuk bertanya.
"Oh, iya, Kak."
"Hm. Apa?" sahutnya.
"Sebentar lagi sebentar lagi Kakak kan akan bertunangan dengan Adelia. Apakah Kakak tidak mempersiapkan apa pun?" tanya Bulan.
Eggy menghela napasnya dengan malas. "Sudahlah. Jangan membahas soal itu. Aku malas membahasnya," jawab Eggy tidak ingin menjawab pertanyaan dari Bulan.
Bulan menundukkan kepalanya. "Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung Kakak. Aku hanya bertanya hal itu saja, Kak."
"Ah, sudahlah. Jangan sedih seperti itu. Ini diminum susunya. Baru aku seduh, untukmu," kata Eggy sambil memberikan segelas susu itu kepada Bulan.
"Terima kasih, Kak. Sampai repot-repot segala." Bulan merasa malu.
"Bukan masalah. Kamu mungkin lelah dan kurang tidur."
"Seharusnya aku yang menyiapkan semua ini, Kak. Bukan kakak. Maafkan aku."
"Sudahlah. Mau aku yang menyiapkannya, atau pun kamu yang menyiapkannya, tidak ada bedanya kok, Bulan."
Eggy mulai duduk di kursi. Kemudian dia mulai memakan sarapan paginya.
"Ayo makan, Bulan."
Bulan tersenyum dan mulai menyentuh sendoknya. Kemudian dia pun mulai memakan makanan yang dimasak oleh Eggy untuknya.
"Seperti biasanya, Kak. Masakanmu sangat enak untuk dimakan," kata Bulan memujinya.
Eggy terdiam sejenak. Dia terkejut dengan ucapan Bulan.
"Apakah kamu sudah mengingat sesuatu, Bulan?" tanya Eggy kepada Bulan.
Bulan terdiam dan memasang raut wajah kebingungan.
"Maksudnya mengingat apa, Kak?" tanya Bulan terheran-heran.
"Tentang rasa masakanku, Bulan. Apakah kamu dapat mengingat semuanya?" tanya Eggy mencoba membuka memori dari Bulan.
Bulan mulai berpikir dengan apa yang sudah dikatakan oleh Eggy. Dia harus mengingat apa?
"Masakanmu terasa tidak asing di lidahku, Kak. Malahan rasanya seakan aku sering merasakan itu," kata Bulan sambil mengingat sesuatu.
"Benarkah?"
"Ya. Memangnya kenapa, Kak?" tanya Bulan penasaran dan tidak mengerti tentang apa yang di bicarakan dengan Eggy.
"Aku sering memasak untukmu, Bulan. Kamu sangat menyukai masakanku. Jika kamu bisa mengingatnya, apakah kamu bisa memberitahuku apa yang sudah kamu ingat?"
Bulan semakin kebingungan. Pasalnya dia tidak mengingat apa pun. Bahkan tidak. terlintas hal yang membuatnya untuk ingat akan hal itu.
"Maaf, Kak, sebelumnya. Tetapi aku benar-bensr tidak mengingat apa pun," kata Bulan merasa ragu.
Eggy menghela napas berat. "Baiklah. Tidak masalah, Bulan. Jika kamu tidak mengingat hal itu, bukan masalah kok."
"Maafkan aku, Kak."
"Tidak apa-apa. Sudah aku bilang, 'kan? Jangan bahas lagi, Sayang,"
Bulan Eggy pun melanjutkan sarapan mereka. Tak lama kemudian, sebuah telepon masuk berdering ke ponsel Eggy. Terpaksa Eggy harus menjeda sarapannya dan menerima telepon tersebut.
"Hallo."
Bulan menengok. "Dari siapa, Kak?" tanya Bulan berbisik. Eggy tidak menjawabnya. Dia hanya menatap Bulan saja.
"Ada di mana kamu?" tanya seseorang di telepon.
"Masih di rumah. Masih sarapan," jawab Eggy.
"Cepatlah kemari. Aku ada di BC Jewelry," perintah seseorang itu.
"Ada apa di sana?"
"Temani aku. Aku harus memilih cincin tunangan untuk nanti. Kita harus memilihnya bersama karena aku tidak tahu ukuran tanganmu, jadi kamu harus mencobanya, Eggy," Jelasnya.
Adelia. Pasti dia. Jika bukan dia, siapa lagi? Rupanya Adelia tengah memilih dua buah pasang cincin berlian untuk hari pertunangannya. Dia sangat berantusias dengan hal itu. Maka dari itu, dirinya menyuruh Eggy untuk datang ke sana dan memilih cincin bersama. Pada awalnya Adelia tidak ingin merepotkan Eggy untuk masalah hal ini, tetapi dia ingin ditemani juga. Kebetulan ada alasan yang masuk akal untuk mengajak Eggy melihat-lihat cincin berlian pertunangannya. Maka Adelia memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Eggy.
"Tidak bisakah kamu sendiri?" tanya Eggy datar.
"Ya jelas tidak bisa dong! Ini kamu harus ikut memilih juga. Karena aku tidak tahu ukuran jemarimu. Maka dari itu kamu harus datang kemari segera mungkin," ujar Adelia di telepon.
Eggy memasang raut wajah yang malas. Sebenarnya dia tidak ingin menghampiri Adelia. Apalagi di saat-saat dirjminya sedang bersama dengan Bulan. Rasanya Eggy tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Sekali pun itu masalah penting, tetapi dia tidak bisa menolak. Entah mengapa sisi tegas dan dingin Eggy menjadi semakin berkurang saat ini.
Bulan hanya menatap Eggy, sambil sesekali mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Batinnya penasaran dengan perbincangan yang dilakukan oleh Eggy bersama seseorang itu. Ingin bertanya kembali namun dia tidak sanggup untuk bertanya tentang hal itu. Entah bagaimana jadinya. Dia harus menunggu saat pembicaraan di telepon itu berakhir.
"Aku akan berangkat ke kantor."
"Aku sudah bicara pada adikmu untuk mengurus semuanya urusan di kantor. Dia bisa di andalkan. Maka dari itu, kamu harus datang kemari segera mungkin! Titik. Aku akan menunggumu. Jangan kecewakanku, Eggy. Oke, i miss you!" ujar Adelia panjang lebar. Kemudian dia menutup teleponnya secara sepihak. Sebenarnya Eggy ingin mengatakan sesuatu kepada Adelia, namun sayang sekali teleponnya malah ditutup begitu saja. Membuat Eggy merasa sangat kesal sekali kepada Adelia. Namun apa boleh buat. Mau tidak mau, Eggy harus menghampiri Adelia dan menemani dia di sana.
"Ada apa, Kak?" tanya Bulan kepada Eggy.
"Maaf, Bulan. Setelah sarapan aku harus pergi."
"Ke mana, Kak?"
"Ada urusan mendadak," jawab Eggy kepada Bulan.
"Ah, begitu. Pantas wajah Kakak agak gelisah dan kebingungan," ujar Bulan.
Eggy tersenyum simpul. "Baiklah. Maaf, aku harus pergi meninggalkanmu lagi."
"Tidak apa-apa, Kak. Lagian aku juga harus peegi bekerja. Walaupun sudah agak telat untuk ke sana. Tapi tidak apa," kata Bulan tersenyum.
"Ayo aku antar ke tempatmu bekerja, Bulan. Agar aku tahu di mana tempatmu bekerja, nanti sewaktu-waktu, aku akan menjemputmu pulang. Agar kamu tidak perlu di antar oleh laki-laki lain," kata Eggy.
Bulan tersenyum. Dia tahu bahwa Eggy masih cemburu soal kejadian kemarin malam.
"Iya, Kak. Maafkan aku. Jangan cemburu begitu, ya."
"Aku t-tidak cemburu." Eggy mengalihkan pandangannya, dia merasa canggung menjawab hal itu. Eggy seakan merasa jaim dengan kata cemburu.
"Sudah ah. Sebaiknya kamu mandi dan siap-siap, sana. Sebelum siang," perintah Eggy kepada Bulan dengan mebgalihkan pembicaraan.
"Iya, iya. Baik. Tunggu ya, Kak."
"Iya. Aku tunggu."
Bulan pun meminum susu yang sudah dibuatkan oleh Eggy. Kemudian dia langsung kembali ke kamarnya dan pergi mandi.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback). Silakan di cek.
Jika ingin mengenalku lebih de
kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*