The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 158



Terlihat Eggy sedang bersiap-siap dan merapikan jas bajunya. Kemudian dia menyisir rambutnya dan tak lupa memakai pomade di rambutnya, agar terlihat lebih rapi dan awet. Tidak berantakkan. Lalu telepon berdering masuk ke ponsel miliknya. Dia. melihat nama kontak tersebut. Rupanya itu adalah Adelia.


"Ah, ini Adelia lagi. Ada apa lagi, sih dengannya?" gumam Eggy sendirian.


Dengan rasa malas, Eggy pun menjawab telepon tersebut.


"Halo!" sapa Eggy dengan nada yang sangat datar.


"Eggy, kamu ada di mana? Aku sudah. menunggumu di rumah. Kok kamu belum datang juga sih?" tanya Adelia.


"Aku akan pergi bersama adikku. Ada urusan," jawab Eggy.


"Siapa? adikmu yang bernama Fadhla itu, bukan?" tanya Adelia.


"Ya, jelas. Memangnya siapa lagi? Adikku hanya dia," jawab Eggy dengan ketus.


"Ketus amat sih, kamu. Memangnya ada urusan apa sih? Kok sampe mendadak gitu?" tanya Adelia.


"Bukan begitu. Tetapi aku tidak bisa mengantarmu," jawab Eggy.


"Kita pergi bersama, Eggy. Aku ingin pergi denganmu bersama adikmu juga," sahut Adelia.


"Apa? Apa maksud kamu?" tanya Eggy.


"Sudah aku jelaskan bahwa aku akan pergi bersamamu, Eggy. Tanpa kecuali," jawab Adelia.


"Tapi kamu tidak bisa seenaknya seperti itu. Kamu tidak boleh mengaturku," sahut Eggy.


"Tidak ada kata lain. Kamu harus menerima. Itu sudah termasuk risiko kamu."


"Apa maksud kamu? Risiko apa?" tanya Eggy kebingungan.


"Kamu itu calon suamiku, Eggy. Kamu harus ingat! Jadi, atas dasar calon suami, aku harus mengetahui ke mana kamu pergi. Dan sebagai calon istri yang baik, aku harus ikut ke mana kamu peegi juga. Aku tidak ingin jika orang lain mengasingkan hubungan kita. Mereka yang di luaran sana harus tahu tentang kita, Eggy. Agar kamu tidak nyeleweng," jelas Adelia dengan panjang lebar.


"Apa? Nyeleweng? Kamu pikir aku apa? Play boy, begitu? Pria yang tidak pernah setia?" tanya Eggy merasa tersinggung.


"Seerti itulah kiranya.m," jawab Adelia.


"Hei, asal kamu tahu, ya, aku tuh—" kalimat Eggy terpoting oleh perkataan Adeli padanya. Adelia sengaja memotongnya agar pembahasan yang sedang di bahas mereka berdua tidak ber kepanjangan.


"Sudah, sudah. Intinya kamu nurut dikit sama aku. Gak akan rugi kok. Aku cuma minta bahwa aku selalu ikut jika kamu pergi ke luar. Jika peegi ke kantor, gak ikut pun tak masalah. Cuma jika kamu pergi ke luar, selain aku harus tahu ke mana kamu pergi, aku juga mau ikut denganmu. Biar tahu," jelas Adelia.


Eggy mulai greget dengan Adelia yang terus keras kepala itu.


"Astaga. Kamu ini kenapa sih? Kenapa jadi begini?" tanya Eggy bingung.


"Udahlah, kamu tunggu aku. Aku akan datang. Mau tak mau, kamu harus pergi denganku. Titik. Gak ada penolakan," kata Adelia. Lalu dia pun menutup teleponnya begitu saja, tanpa menunggu kalimat dari Eggy lagi.


"Hei, Adelia. Adelia. Hei, hei!" Adelia tak menjawabnya.


Lalu tak lama setelah itu, Adelia pun menutup teleponnya secara sepihak. Di balik itu, Adelia tersenyum dan tertawa kecil.


"Bagaimana pun kamu menolakku, aku akan terus berusaha mendekatimu, Eggy. Tidak peduli seberapa keras kamu menolakku dengan segala alasan," ucap Adelia kepada dirinya sendiri.


Eggy merasa kesal dengan tingkah Adelia. Karena Eggy tak ingin Adelia ikut, maka dari itu Eggy langsung pergi meninggalkan Adelia, tanpa menunggunya. Namun saat dirinya hendak keluar dari rumah, Eggy terkejut karena tiba-tiba Adelia sudah berada di depan rumahnya. Sedang berdiri sambil bersandar ke mobil miliknya dengan pakaian yang sudah super kece.


"Halo, Eggy. Apakah kamu terkejut?" tanya Adelia.


"Se-sejak kapan k-kamu ada di sini?" tanya Eggy terbata-bata.


"Sejak aku meneleponmu, Eggy," jawab Adelia.


Dia pun berjalan perlahan mengahampiri Eggy. Lalu dia berdiri di hadapan Eggy.


"Ada apa, Eggy? Mengapa? Sepertinya kamu sangat terkejut ketika melihatku," kata Adelia padanya.


"Aku terkejut karena kamu tiba-tiba ada di sini," sahut Eggy sambil mencoba bersikap lebih tenang dan cool, seperti biasanya.


"Kenapa terkejut? Apakah kamu mengira aku tidak akan kemari, atau menunggu jemputanmu?" tanya Adelia.


"Kupikir, iya," jawab Eggy.


"Tidak, Eggy. Aku tidak akan melakukan hal itu. Yang harus kamu tahu, bahwa aku akan mengerti dengan setiap penolakanmu. Aku tipikal wanita yang sulit di tolak, Eggy. Jadi, sebisa mungkin aku tidak akan tertipu dengan semua alasanmu," jelas Adelia.


"Baiklah. Terserah kamu. Aku tidak peduli," ucap Eggy datar. Dia pun langsung berjalan pergi menuju mobilnya. Dia mematikan alarm mobil, lalu mulai membuka pintu mobilnya.


"Eggy, hei! Kamu ke mana?" tanya Adelia berteriak. Namun Eggy tidak kunjung menjawab. Akhirnya, dia pun langsung berlari menyusul Eggy dan berhasil masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu jahat, ya! Meninggalkan seorang wanita sendirian di sini. Ada apa denganmu?" tanya Adelia. Eggy tidak ingin menjawab peetanyaan itu. Entah mengapa hari ini dia lebih sensitif dari sebelumnya, bahkan dirinya mudah marah-marah juga. Jika ksrena masalah perusahaan yang tak kunjung selesai, atau bahkan masalah pribadi yang bisa mengganggunya, seharusnya Eggy sebisa mungkin menyembunyikan semua hal itu dari orang lain.


Eggy masih terdiam di dalam mobil. Dia tidak menyalakan mobilnya, bahkan kuncinya pun belum dinyalakan. Masih dalam mode off.


"Aku sedang tidak ingin bersamamu," jawab Eggy secara terang-terangan kepada Adelia.


"Lalu?" tanya Adelia.


"Hanya itu," jawab Eggy seraya menatap ke wajah Adelia.


Adelia sejenak terdiam. Dia mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Lalu dia mengendus kesal terhadap sikap Eggy. Walaupun Eggy tidak berbicara dengan nada ketus, tetapi bagi dirinya hal itu terbilang sangat kasar. Eggy terlalu frontal dengan apa yang di ucapkannya kali ini, membuat Adelia merasa sangat sakit hati dengan semua ucapannya itu. Tanpa banyak bicara, Adelis mengambil tasnya dan mulai keluar dari mobil Eggy. Raut wajahnya terlihat sangat kesal. Kemudian dia kembali ke mobil miliknya dan masuk ke dalam mobil. Setelah itu, dia menyalakan mobil tersebut dan langsung pergi meninggalkan Eggy di sana. Adelia menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Eggy memang sangat merasa bersalah atas tindakannya itu. Dia menyesal, tetapi apalah daya. Eggy memang tidak menyukai Adelia. Dia tidak ingin terlalu dekat dengannya, begiu pun Eggy yang tidak ingin terlalu dekat dengan Adelia. Dia merasa takut akan ada rasa nyaman terhadap semua itu. Karena jika sudah nyaman akan sangat susah.


Eggy berpikir sejenak. Kemudian dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Bulan menemuinya. Segera dia menyalakan mesin mobil dan menjalannya dengan kecepatan tinggi pula.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi ******* dengan akun (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 900ribu joy. Silakan di cek.


Ada cerita kisah nyata tentang masa mudaku di aplikasi Kwikku berjudul Labil (plin-plan). Novel itu kisah nyata tentang masa mudaku di sekolah.


Jika ingin mengenalku lebih de


kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*