The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Cuplikan (3)



*Flashback.


Seminggu yang lalu ....


Hari ini adalah hari kedua, di mana Ghinta mencoba untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler basket di sekolahnya. Seperti hari biasanya, kegiatan sekolah diadakan saat jam pulang sekolah, sekitar jam 2 siang untuk hari-hari biasa dan jam 8 pagi khusus untuk hari minggu saja.


Terdengar suara gerbang sekolah terbuka, semua anak-anak basket yang ada di lapangan menengok ke arah asal suara gerbang itu. Terlihat seseorang yang baru saja masuk melewati gerbang dengan memakai seragam olahraga dari sekolah lain.


Mereka pikir bahwa orang itu nyasar datang ke sekolahnya, tetapi tidak. Ia datang dengan senyuman manisnya, seraya melambaikan tangan kanannya, walaupun terlihat agak malu-malu. Lalu dibarengi dengan hempasan angin yang membuat rambut panjangnya berkibar di sepanjang ia berjalan.


"Waaah ... ada sekolah lain nyasar ke sini!" sindir Iqbal.


Gadis itu tersenyum malu dan mulai menyimpan tasnya di pinggir lapangan. Lalu ia masuk ke dalam lapangan bersama dengan yang lain.


"Nggak nyasar sih. Baju olahraga gue belum kering, jadi ini punya kakak gue," jelas Ghinta.


Iqbal tersenyum ke arah Ghinta, dan Ghinta membalas senyumannya.


"Gak sekalian kakaknya dibawa ke sini?" ujar Iqbal kembali. Ghinta hanya menatap Iqbal sambil tersenyum cengengesan padanya.


Semua anggota sedang berbaris saling berhadapan satu sama lain, agar latihan ini langsung kepada teknik dasarnya. Iqbal selagi wakil ketua basket, mulai mengajarkan kepada semua anggotanya tentang teknik-teknik dasar permainan bola basket.


Seperti operan setinggi dada, operan ini dilakukan dengan memegang bola didepan dada, kemudian bola dilempar lurus kedepan. Lalu operan pantul, untuk melakukan operan pantul, bola berawal pada posisi sejajar dengan dada, lalu dioper dengan cara memantulkan bola kearah lantai lapangan. Semua anggota melakukan latihan itu untuk sementara, karena ini adalah awal dari pengenalan, juga pelajaran bagi pemula.


Setiap Iqbal mengoper bola kepada Ghinta, seringkali ia tersenyum dan mencuri-curi pandang kepadanya. Sekilas Ghinta merasa tidak nyaman dengan keadaan itu, karena ia memang sering salah tingkah ketika dirinya merasa kegeeran atau bahkan terlalu percaya diri untuk menilai perasaan seseorang.


"Walaupun dia lucu, gue suka sama senyumnya, tapi kalau dia terus natap gue, gue bisa apa?" ucap Ghinta dalam batin.


Bahkan saat latihan itu berlangsung, seorang kakak kelas yang memperhatikan mereka dan ia merasa panas melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Lalu tiba-tiba ia melempar bola ke sembarang arah dan pergi meninggalkan latihannya.


"Woy!  Kenapa?" teriak Iqbal kepada orang itu. Namun kakak senior itu tak menjawab dan hanya pergi begitu saja.


Sontak anggota yang ada di sana, terhenti sejenak. Ghinta bertanya-tanya, ada apa dengan dia? Pikirnya. Namun tak lama kemudian, latihanpun kembali berjalan.


"Lanjutkan saja latihan kita!" perintahnya.


Mereka kembali latihan seperti sebelumnya. Iqbal pun mencoba mengajak ngobrol dengan Ghinta, menanyakan tempat tinggal dan kelasnya. Sebagai adik kelas yang baik, Ghinta memberitahukan semua informasi tentang dirinya kepada Iqbal. Tak terasa, setelah beberapa jam latihan, mereka mulai beristirahat.


Ghinta terduduk di lantai lapangan dengan keringat yang mengucur di seluruh wajahnya. Ia terengah-engah merasakan capek dengan latihan tersebut. Ternyata ekskul basket ini bener-bener bikin capek. Mending pergi menjelajah ke gunung, daripada harus beginian. Pikirnya dalam batin. Tak lama kemudian, tiba-tiba ada seorang gadis yang duduk di sampingnya. Ia memperhatikan gadis itu dengan seksama, rasanya wajah gadis itu benar-benar menarik di mata Ghinta.


"Hai! Wajah kamu lucu, kayak boneka," kata Ghinta kepada salah satu gadis di sana.


"Ah, masa?" tanyanya malu-malu.


"Beneran lo! Boneka barbie gitu."


Gadis itu tersenyum dan menunduk malu karena Ghinta memujinya terlalu berlebihan. Padahal tipe wajanya kotak, mempunyai mata yang bersar, senyum simpul, pandangan kosong, juga penampilan yang biasa-biasa, tidak terlihat seperti apa yang disebutkan oleh Ghinta. Tetapi pandangan Ghinta sedikit berbeda.


"Gue Ghinta. Lo siapa?"


"Dila."


"Oke. Salam kenal ya!" Ghinta tersenyum.


Beberapa saat, Iqbal memang sering mencuri-curi pandang untuk melihat Ghinta. Ghinta mulai risih, karena ia menjadi tidak nyaman dengan Iqbal yang selalu memperhatikannya sedari tadi. Diakui memang Ghinta tidak begitu cantik, namun ia sangat menarik dan mempunyai senyuman yang manis dengan ditambah lesungan pipi di kanannya. Mungkin itu yang membuat banyak pria menyukai dirinya.


Lucunya, disaat Iqbal sedang menjelaskan sesuatu sambil bersenda gurau, tiba-tiba ia bersikap jahil dengan cara melorotkan celana olahraga salah satu juniornya. Sampai membuat anggota juniornya merasa sangat malu dengan hal itu. Iqbal tertawa lepas dan menertawakan yang paling membuat orang merasa terhina itu dengan bangga. Dari sana lah Ghinta mulai merasa kurang menyukai sosok Iqbal.


"Sialan! Nggak sopan. Mentang-mentang lo senior gue, lo seenaknya mempermalukan junior lo!" ujarnya dengan rasa amarah.


"Hey! Santai dong! Namanya juga bercanda," sahut Iqbal.


"Bukan masalah bercanda. Ini namanya bukan bercanda, tetapi sudah termasuk mempermalukan dan merendahkan harga diri seseorang," tukasnya.


"Santai dong! Segitu aja marah."


Jelas pria itu marah besar. Karena harga dirinya mulai turun akibat bercanda yang berlebihan seperti itu. Siapa yang tidak marah, jika seseorang telah dipermalukan dihadapan banyak orang oleh orang lain?


"Lo nggak ngerasain gimana malunya gue, kalau lo yang ada diposisi gue, mungkin lo juga bakal ngelakuin hal sama." Pria itu langsung pergi tanpa pamit apapun kepada senior-senior yang lain.


"Yaaaah ... dia marah! Hahahaha ...." Iqbal malah tertawa dengan kerasnya di hadapan para anggota basket di sana. Sialnya, orang-orang di sana malah ikut menertawakan pria itu. Membuat Ghinta merasa tak ingin latihan basket lagi.


"Kok jahat sih?" gumam Ghinta secara perlahan. Insiden itu pun kembali terlupakan dengan adanya perintah dari sang ketua tim basket untuk melanjutkan latihannya. Dari sanalah, Ghinta pun menjadi enggan mengikuti latihan basket lagi, karena selain jahilnya keterlaluan, juga ia sangat sombong.


*Flashback End....


Keesokan harinya, di sekolah Ghinta nampak biasa-biasa saja. Namun kakak senior yang waktu hari kemarin meninggalkan latihan begitu saja, sering memasang raut wajah yang masam dan juga cemberut. Seakan ia merasa sangat kesal dan benci terhadap Ghinta. Ia tahu, bahwa senior itu mungkin saja cemburu terhadap dirinya, karena mungkin dia kekasih Iqbal.


"Kenapa sih si senior itu? Kok pandangannya kek psyco gitu," kata Ratna kepada Ghinta yang sedang nongkrong di depan kelas.


"Enggak tahu. Mungkin dia kalah menarik sama gue, makanya si Iqbal lebih tertarik sama gue," sahut Ghinta dengan rasa percaya dirinya. Padahal kejadian itu sudah beberapa hari yang lalu, namun tetap saja gosip selalu ada disetiap anggota yang mengikuti ekskul bola basket.


"Wih, gila! Padahal tubuh dia bohay juga lho!"


"Masih bohay badan gue ketimbang dia mah. Lihat dong gue, badan gue ideal. Lha, kalau dia badan pendek, wajah sih emang cantikan dialah. Tapi lebih menarik wajah gue, wajah dia udah kecampur pemutih baju. Kalau gue masih alami, gak pakek apa-apa. Makanya wajah gue tetep terjaga dengan manisnya," jelas Ghinta panjang lebar.


Ratna yang mendengarkan Ghinta seperti itu, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. "Iya. Asal lo bahagia aja dengan semua rasa narsis lo!" sahut Ratna.


"Hahaha ... udah ah! Gue mau balik kelas dulu, gue mau lanjutin cerita gue." Ghinta hanya tertawa dengan pembahasannya yang terakhir itu. Lalu ia pun masuk ke dalam kelas dan mulai menulis kembali.


Ia menyadari, bahwa kakak senior itu adalah mantan kekasih Iqbal. Namun ia tidak ada rasa sedikit pun untuk mendekati diri Iqbal, karena ia tahu bahwa sifat  Iqbal cukup buruk. Padahal di sekolah Iqbal termasuk pria yang terkenal juga dengan kelincahannya saat bermain basket. Walaupun bertubuh pendek, tapi ia tetap jago untuk memasukan bola basket ke dalam ring.


*****


Note: Sekian untuk cuplikannya, jika ingin membacanya lebih lanjut, silakan cek di aplikasi ****** dengan judul Labil (plin-plan), penulis Lani Nurohmah. Terima kasih semuanya. :)


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*