The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 143



Eggy tersenyum kepada Bulan. Kemudian dia hendak menawarkan sesuatu kepada dirinya. Pada waktu kemarin, memang dirinya sempat menaruh rasa cemburu pada Bulan dan juga atasannya Yang bernama Angga. Namun dirinya pun tidak boleh egois seperti itu padanya. Bagaimana pun juga Bulan adalah istrinya, dan seorang istri masih mempunyai hak bebas atas keinginannya selama dia tidak melakukan hal berlebihan.


"Ayo aku antar ke tempatmu bekerja, Bulan. Agar aku tahu di mana tempatmu bekerja, nanti sewaktu-waktu, aku akan menjemputmu pulang. Agar kamu tidak perlu di antar oleh laki-laki lain," kata Eggy.


Bulan tersenyum. Dia tahu bahwa Eggy masih cemburu soal kejadian kemarin malam.


"Iya, Kak. Maafkan aku. Jangan cemburu begitu, ya."


"Aku t-tidak cemburu." Eggy mengalihkan pandangannya, dia merasa canggung menjawab hal itu. Eggy seakan merasa jaim dengan kata cemburu.


"Sudah ah. Sebaiknya kamu mandi dan siap-siap, sana. Sebelum siang," perintah Eggy kepada Bulan dengan mebgalihkan pembicaraan.


"Iya, iya. Baik. Tunggu ya, Kak."


"Iya. Aku tunggu."


Bulan pun meminum susu yang sudah dibuatkan oleh Eggy. Kemudian dia langsung kembali ke kamarnya dan pergi bergegas mandi.


Setelah selesai, Bulan pun memakai seragam kerjanya dan kembali menghampiri Eggy.


"Halo, Kak. Aku sudah siap. Ayo berangkat!" ajak Bulan kepada Eggy.


"Baiklah. Ayo!" sahut Eggy bersemangat.


Bulan dan Eggy masuk ke dalam mobil. Kemudian Eggy langsung menyalakan mobilnya dan menjalankan mobil tersebut menuju ke tempat kerja Bulan. Tak lama kemudian, tak terasa akhirnya mereka berdua sampai di restoran tempat Bulan bekerja.


"Sudah, Kak. Di sini saja. Ini sudah sampai dk tempat kerjaku kok, Kak," kata Bulan.


"Jadi, di sini temoat kerjamu, Bulan?" tanya Eggy sambil melihat ke arah sekeliling restoran itu.


"Iya, Kak."


"Rasanya aku mengenal restoran ini," kata Eggy.


"Benarkah? Mengenal dengan pemilik restoran ini?" tanya Bulan.


"Kurang lebih, ya," jawab Eggy.


"Mau coba masuk dulu ke dalam?" tawar Bulan kepada Eggy.


"Tidak usah. Nanti aku malah mengganggumy untuk bekerja, Bulan. Tak baik jika seperti itu. Sebaiknya aku segera pergi."


"Baiklah, Kak. Sampai jumpa nanti."


"Sampai jumpa lagi,  Sayang."


Ketika Bulan hendak turun dari mobil Eggy, dia pun mengingat akan sesuatu.


"Oh, iya, Kak."


"Ada apa, Bulan?" tanya Eggy.


"Kalau bisa sih, Kakak tidak perlu datang ke rumah lagi, Kak. Tiga hari ini. kakak menginap di rumahku. Nanti keluarga kakak malah curiga padaku. Lalu timbul banyak masalah. Aku tidak ingin seperti itu, Kak. Tidak baik juga dengan keadaan kita yang saat ini berpura-pura menjadi mantan suami istri," jelas Bulan.


Mendengar hal itu, Eggy mulai berpikir. Memang tidak ada salahnya dengan apa yang dikatakan oleh Bulan.


"Kamu benar juga, Bulan. Memang seharusnya aku tidak boleh sering datang ke rumahmu."


"Kakak pasti memahami apa yang aku maksud," kata Bulan.


"Ya. Aku paham. Baiklah. Untuk saat ini, aku tidak akan ke rumahmu dulu. Aku akan cari aman untuk masalah hal ini. Kamu jangan khawatir," ujar Eggy tersenyum.


Jawaban yang dilontarkan oleh Eggy, membuat Bulan merasa sangat senang dan terasa lega.


"Baiklah, Kak. Terima kasih sudah mengerti keadaanku. Kalau begitu, aku akan pergi bekerja dulu. Sampai jumpa lagi,  Kak."


"Ya. Sampai jumpa lagi, Bulan."0


Bulan menutup pintu mobilnya dan melambaikan tangan kepada Eggy. Lalu Eggy pun membalas lambaian tangannya, dan bergegas pergi menuju tempat tujuannya.


Bulan masuk ke dalam restoran itu dan segera menuju dapur. Dia tahu bahwa dorinya sangatlah telat untuk masuk kerja. Sayang sekali Bulan harus bangun siang pada hari ini, karen dirinya lupa memasang alarm pada ponselnya. Sungguh sebuah keteledoran yang di miliki oleh Bulan. Dia langsung mengambil celemek yang menggantung di dapur dan langsung dia pakaikan ke tubuhnya.


"Hei, Bulan! Ada apa denganmu? Kukira kamu mengambil cuti, rupanya masuk kerja juga," kata Melda kepada Bulan.


Bulan menengok. "Maaf, maaf. Aku bangun sangat siang dan lupa tidak memasang alarm," jawab Bulan seraya mengaduk sebuah masakan di dalam panci itu dengan sebuah centong.


"Set dulu alarmnya, Bulan. Setting supaya alarm di hp kamu setiap hari. Jadi kamu tinggal menunggu alarm kamu nyala tiap hari pada jam sebelum kamu bekerja," jelas Melda kepada Bulan.


"Iya, iya. Aku kan udah bilang bahwa aku lupa," sahut Bulan.


"Yaudah, bantu kasihin ini makanan gih!" kata Melda kepada Bulan.


"Meja nomor berapa ini?" tanya Bulan.


"Ada di sana struknya. Kamu lihat saja," jelas Melda.


"Ah, begitu, ya. Baiklah. Akan aku antarkan," kata Bulan.


Bulan pun membawa nampan yang berisikan makanan pesanan pelanggan tersebut. Kemudian dia antarakan ke meja yang memesannya.


"Silakan menikmati," ucap Bulan dengan ramah.


"Terima kasih," sahutnya.


"Kembali kasih," balas Bulan tersenyum. Lalu dia kembali lagi menuju dapur.


"Sudah kamu antarkan?" tanya Melda.


"Iya, sudah," jawab Bulan. "Oh, iya. Apa Pak Angga menanyakanku, karena aku datang telat hari ini?" tanya Bulan kepada Melda.


"Memangnya dia ke mana?" tanya Bulan penasaran.


"Gak tahu pasti. Katanya ada urusan mendadak gitu. Tadi dia menelepon ke telepon kasir, dan memberitahu kasir," sahut Melda.


"Ah, begitu, ya. Syukurlah." Bulan mengusap dadanya merasa sangat lega.


"Memangnya kenapa, Bulan?" tanya Melda mulai menaruh rasa curiga.


"Bukan apa-apa. Hanya bertanya. Memangnya kenapa?" Bulan malah berbalik tanya ke pada Melda.


"Ditanya malah balik tanya," cetus Melda.


"Ya kan aku hanya bertanya." Bulan memasang wajah sedih.


"Jangan pasang wajah begitu. Geli lihatnya," kata Melda menaikkan nada suaranya.


"Iya, iya." Bulan terkekeh karena dia berhasil menggoda Melda.


"Oh, iya, Bulan," panggil Melda.


"Hm, apa?" tanya Bulan.


"Ada hubungan apa kamu dengan Pak Angga?" tanya Melda penasaran.


"Maksudnya?" Bulan tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Melda.


"Kamu sangat dekat dengan Pak Angga. Apakah kalian berdua ...." Melda sengaja menggantungkan kalimatnya sendiri.


"Apa?"


"Kalian ada hubungan?" tanya Melda berbisik.


Bulan terkejut mendengar kalimat itu dari Melda. Pasalnya dia tidak mengerti, mengapa Melda bisa-bisanya berbicara seperti itu tentang atasannya, Pak Angga. Melda telah salah paham dengan Bulan terkait ke dekatan dirinya dengan Pak Angga. Hal ini sangatlah tidak benar.


"Maksudmu apa sih? Gak jelas. Ya gak mungkin lah aku ada hubungan dengan Pak Angga. Kamu jangan mengada-ada, Melda," bantah Bulan.


"Serius? Masa sih?"


"Ya serius dong! Memangnya kamu mengharapkan aku menjawab apa?" tanya Bulan mulai kesal.


"Gak. menjawab apa-apa sih. Hanya aneh saja gitu lho. Kamu dan Pak Angga kelihatannya sangat deket banget. Terus kek akrab banget gitu lho. Apa kamu sama Pak Angga emang temenan atau kenal lama gitu?" tanya Melda mulai penasaran.


"Kepo banget, ya, kamu. Ngapain nanya-nanya itu?" Bulan enggan menjawab.


"Jawab dong! Apa kamu sengaja gak jawab, Karena alasannya memang kamu ada apa-apa sama Pak Angga," kata Melda.


Sikap Melda mulai menyebalkan rupanya. Membuat Bulan merasa sangat tidak nyaman. Namun apa boleh buat, baik buruknya Melda adalah teman dekat di restoran. Bulan berusaha untuk tidak menganggapnya serius. Maka dari itu, Bulan pun memaklumi diri Melda.


"Sudahlah. Gak perlu di jawab. Yang harus kamu tahu, bahwa aku tuh gak ada apa-apa sama Pak Angga. Ngerti? Apa jangan-jangan kamu suka sama Pak Angga?" tanya Bulan yang mulai berbalik mencurigai Melda.


Mendengar kalimat itu, membuat Melda terkejut. Ekspresi wajahnya mulai terlihat aneh, dan kedua pipinya mulai memerah.


"Ih, apaan sih? Engga deh. Aku gak suka," bantah Melda.


"Serius, gak suka?"


"Iya. Serius. Udah, ah. Sana pergi kerja lagi! Aku mau fokus kerja lagi," kata Melda sambil pergi menghindar dari Bulan. Bulan hanya tersenyum melihat Melda ketahuan suka kepada Pak Angga. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tak. menyangka bahwa Melda mungkin merasa cemburu dengan kedekatan Bulan dan Pak Angga.


 


 


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


 


 


Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi Joylada dengan akun Lani Nurohmah (comeback). Silakan di cek.


 


 


Jika ingin mengenalku lebih de


kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


 


 


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


 


 


Terima kasih, semuanya. :*