The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Suara Hati Fadhla



"Sejujurnya aku tidak ingin menceraikan kamu, dan aku tidak akan menceraikan kamu, Bulan," kata Fadhla kepada Bulan. Kalimat itu membuat Bulan sangat terkejut dan sontak dia pun beranjak dari posisi baringnya dan seketika duduk di hadapan Fadhla dengan mimik wajah yang terkejut.


"Apa? Apa yang kamu katakan, Fadhla?" tanya Bulan terheran-heran.


"Aku serius, Bulan. Aku tidak akan menceraikan kamu sampai kapan pun," sahut Fadhla.


Bulan menganga mendengar kalimat itu dari Fadhla. Dia tidak menyangka bahwa pernikahan yang di lakukannya dengan Fadhla akan membuat hubungan dia selalu terikat dengan Fadhla. Ini benar-benar di luar pikirannya.


"Ini gila, Fadhla. Kamu benar-benar gila. Kamu tidak bisa melakukan ini ke padaku, Fadhla. Kamu tidak bisa," ucap Bulan tidak menerimanya.


"Please, Bulan. Beri aku kesempatan untuk menjadi suamimu yang sebenarnya," kata Fadhla memohon.


"Aku tidak bisa. Aku jelas-jelas tidak akan menerima itu, Fadhla. Kamu ... kamu ...." Bulan sengaja menggantung kalimatnya kepada Fadhla. Dia benar-benar sangat tidak menyangka kepada adik suaminya itu. Fadhla pun tidak dapat memungkiri bahwa diri nya akan berbuat seperti itu. Itu membuat diri Bulan sangat tidak nyaman dan merasa tidak percaya lagi kepada Fadhla. Namun di balik kalimat yang di lontarkan oleh Fadhla, dia memang benar-benar menyukai Bulan. Semenjak dirinya kali pertama bertemu dengan Bulan di pinggir jalan itu, saat Bulan ling-lung tidak tahu arah ke mana tujuan dia, lalu di sana ada Fadhla yang menghampiri dia dan mengajaknya ngobrol, dari sana Fadhla mulai merasa tertarik kepada Bulan. Namun sayang sekali, pada kenyataannya Bulan sudah menjadi ke punyaan orang lain, yang tak lain adalah ke punyaan kakaknya sendiri, yaitu Eggy.


"Oke, oke. Maafkan aku, Bulan. Aku memang salah. Namun aku bahagia sudah mendapatkanmu," kata Fadhla secara terang-terangan.


"Apa? Kamu mendapatkanku dengan cara yang licik, Fadhla. Kamu memperdaya aku dan juga kakakmu, kak Eggy. Kamu berkhianat juga, Fadhla. Kamu mengkhianati diriku dan mengkhianati kak Eggy pula. Apa kamu tidak mengingat ke sana?" kata Bulan mulai marah ke pada Fadhla.


Ini adalah suatu kesalahan. Kesalahan yang di lakukan Fadhla kepada Bulan, karena telah berbicara sangat jujur akan perasaannya, membuat dirinya harus menerima akibat dari kalimat itu. Namun Fadhla tidak ingin membohongi perasaannya sendiri. Dia memang menyukai Bulan dan tidak ingin memendam perasaan itu terlalu lama sebelum semuanya terlambat.


"Aku tahu, Bulan. Aku tahu. Aku yang salah," ucap Fadhla.


"Lalu apa?"


"Apa bagaimana?"


"Bagaimana ini, Fadhla? Bagaimana?" tanya Bulan menaikkan nada suaranya.


"Kamu sendiri yang bilang, bahwa kamu sudah menjadi istriku yang sah. Kita berdua menikah dengan cara yang benar dan sungguh. Aku suamimu dan kamu pun pernah bilang bahwa aku bisa bersikap selayaknya suamimu. Benar, bukan?" tanya Fadhla menghingatkan Bulan.


"Tidak, Bulan. Sungguh! Aku hanya tidak ingin kamu merasa sakit hati dan kecewa karena Eggy yang menikah dengan orang lain," jelas Fadhla.


"Jadi kamu mencoba membalas semua perbuatan Eggy terhadapku dan membalas karena dia menikah dengan yang lain dan kamu pun menikahiku untuk. memperlihatkan balasannya? Begitu?" tanya Bulan.


"Kamu salah paham, Bulan."


"Salah paham bagaimana, hah? Ini sudah jelas, Fadhla. Sangat jelas."


Bulan terlihat sangat emosi dengan Fadhla. Dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih, dan dia tidak bisa mengontrol emosi dirinya yang kini sudah muali meluap. Bulan merasa bingung dan dilema akan kondisi kehidupannya saat ini. Dia merasa bahwa kehidupan dia selalu di permainkan oleh orang-orang di sekitarnya. Bulan sudah tidak tahan dengan kehidupan yang membuatnya menderita. Terlintas pikiran buruk dan niat buruk dalam benaknya. Namun dia tidak ingin melakukannya dan belum siap untuk melakukan semua itu. Kini dirinya benar-benar di rundung kebingungan. Semua masalah datang bertubi-tubi kepada diri dia sendiri. Ini sangatlah tidak adil bagi dirinya.


"Bulan, dengarkan aku dulu," kata Fadhla mencoba menenangkannya.


"Cukup, Fadhla! Keluarlah dari kamarku!" usir Bulan kepadanya. Kemudian Bulan kembali berbaring lagi di kasur dan membelakangi Fadhla. Dia sudah enggan menatap Fadhjla pada saat ini. Rasanya dia sudah muak dengan semua penderitaan dan kebohongan yang datang padanya. Ini membuatnya sangat lelah dan ingin segera tidur untuk selamanya tanpa dia harus bangun lagi. Itulah harapan dia saat ini. Sulit untuk menjernihkan pikiran dia.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti pasti aku masukan kok. Jangan khawatir! :)


Terima kasih, semuanya. :*