The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 83



Aku mengecilkan suara volume di TV. Kemudian kembali mendengarkan suara itu dengan saksama, barang kali suara itu menjadi dekat. Kan seram juga kayaknya.


Setelah itu, suasana menjadi semakin horor saat mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu, membuat bulu kudukku mulai berdiri. Jantungku kembali berdebar. Kini aku benar-benar merasa sangat takut dengan keadaan ini. Apa jangan-jangan apa yang dikatakan oleh Eggy benar?


Tok... tok... tok...


"Bener. Ini bener-bener gak beres. Aku harus memanggil Kak Eggy nih. Gak bisa aku sendirian di tengah villa seperti ini," gumamku.


Aku pun lekas memanggilnya.


"Kak ...," panggilku secara perlahan, seraya berjalan ke arah kamar. Namun tidak ada jawaban dari Eggy. Ke mana sih dia? Lagi genting gini malah gak ada respon. Apa dia sudah tidur? Aku pun kembali memanggil dirinya.


"Kak ... Kak Eggy ... Kakak."


Tetap tidak ada jawaban darinya.


Ketukan suara pintu itu terjadi kembali. Sontak aku langsung berlari ke arah kamar karena saking takutnya. Setelah sampai di pintu kamar, dan hendak membuka pintunya, aku sangat terkejut ketika melihat ada bayangan seseorang di hadapanku. Spontan akh berteriak.


"Aaaaaaa ...."


Dia pun memegangi mulutku, menyuruhku untuk diam.


"Sshht! Kamu apa-apaan sih? Teriak sembarangan. Nanti orang-orang pikir kamu diperkosa lagi sama aku," sahutnya.


Sial. Rupanya dia Eggy. Aku malah parnoan gak jelas dan nyangka bahwa dirinya psikopat atau orang kriminal yang dibahasnya tadi.


"K-kakak, apa tidak dengar?" tanyaku dengan masih tubuh yang bergetar.


"Dengar apa?" tanya Eggy, malah balik kebingungan.


"Ada suara ketukan pintu," sahutku.


"Siapa? Kenapa gak kamu lihat sih? Kan bisa aja dia memang tamu kita," ujar Eggy.


"Bukan, Kak. Kayaknya dia bukan manusia."


"Lalu apa?" tanya Eggy.


"Dia ... dia ... apa mungkin semacam makhluk halus? Bisa jadi dia psikopat, 'kan? Atau orang yang sangat kriminal. Bagaiamana kalau aku diperkosa? Terus dibunuh di villa ini?" cemasku. Aku malah berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya.


"Apa sih yang kamu bilang? Jangan sembarangan ngomong deh. Kamu ingat, 'kan, kalau kita di sini hanya tamu. Kamu harus jaga cara bicaramu," ujarnya menceramahiku.


"Tapi kan aku takut."


"Ya lagian kamu nonton film begituan. Nyatanya malah takut sendiri, 'kan? Karma kamu tuh!" tukas Eggy.


Aku memanyunkan bibirku. "Jahat!"


"Bukan jahat, tetapi itu memang faktanya."


"Terus gimana itu?" tanyaku.


"Memangnya suara ketukan pintu kek gimana sih, hah? Kamu jangan parnoan gini deh," ucapnya.


"Bukan parnoan. Aku gak begitu parnoan, Kak. Hanya saja ini terjadi. Ada seseorang di luar villa, Kak. Sepertinya dia berniat jahat."


"Orang jahil kali."


"Mana ada orang yang jahil malam-malam begini, apalagi posisi villa ini sangat jauh dari pemukiman warga. Lalu di luar vila sangat gelap. Jad km mana mungkin ada yang sengaja jahil, Kak," jelasku.


Tak lama kemudian, suara ketukan pintu itu terdengar kembali.


Tok... Tok... Tok...


"Tuh kan, Kak. Ada lagi."


"Kamu harus tenang, Bulan. Tenang ya. Sabar, aku yang akan melihatnya dari balik jendela," ucap Eggy.


"Hati-hati, Kak," ucapku.


"Kamu juga ikut," sahut Eggy datar.


"Apa? Enggak ah, nggak. Gak mau," tolakku sambil menggelengkan kepalaku.


"Gak ada penolakan! Ayo sekarang ikut aku!" ajak Eggy sambil menarik tangan kananku untuk mengikutinya.


Dan dengan terpaksa aku pun ikut bersamanya untuk memastikan siapa yang ada di balik pintu itu. Secara perlahan-lahan kami berjalan ke arah pintu. Setelah sampai di pintu vila, aku pun sesekali memberikan isyarat kepada Eggy untuk tidak membuka pintunya. Namun Eggy meyakinkanku untuk tetap tidak khawatir terhadap apa pun. Aku pun jadi merasa yakin terhadapnya, karena Eggy sepertinya tidak akan membiarkanku terluka sedikit pun.


"Jaga-jaga. Kamu tunggu di balik pintu ini. Jika suatu hal aneh membuatmu curiga, kamu pukul kepalanya, ya. Ambil sapu di sana," ucap Eggy padaku.


Menurut apa yang sudah diucapkannya, aku langsung saja membawa sapu untuk berjaga-jaga, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun aku masih ragu untuk melakukan hal ini. Ini adalah pertama kalinya aku berjaga-jaga dengan membawa senjata seadanya. Sapu injuk, batangnya kayu. Apa saat dipukul ke orang itu tidak akan patah ya? Patah kepalanya atau patah batang kayunya? Mungkin menurutku batang kayunya.


"Aku tidak tahu harus memukulnya di bagian apa. Aku belum tutorial soalnya," ucapku.


"Tidak ada waktu untuk tutorial, Bulan," sahutnya.


"Jadi, sebisaku saja?" tanyaku memastikan.


Eggy hanya menganggukkan kepalanya. Terluhat dari raut wajah Eggy dan diriku, kita seperti aktor di dalam film yang pernah aku tonton. Adegannya sama persis dengan film itu. Rasanya dunia film berubah seketika menjadi kenyataan. Namun aku berharap, itu tidak pernah terjadi. Menyeramkan.


"Sekarang, aku akan membuka pintunya. Kamu hati-hati. Jaga-jaga. Jika ada hal. yang mencurigakan, segera kamu pukul kepalanya, oke," ucap Eggy.


"Oke, Kak. Aku siap."


Dalam ketiga, Eggy mulai. membuka pintunya. Nampak dari raut wajah Eggy sangat terkejut ketika melihat seseorang yang sedang berdiri di sana.


Aku melihat Eggy seperti ketakutan dan menunggu pergerakkan dariku. Perlahan-lahan Eggy berjalan mundur. Seakan meyakinkanku bahwa ada hal yang tidak beres.


Eggy sesekali melirik ke arahku. Kemudian aku langsung saja keluar dan mengambil tindakan untuk memukul orang itu dengan sapu dan memukulnya sangat keras, sehingga orang itu jatuh pingsan dalam seketika.


"Ya ampun, Bulan! Kenapa kamu? Ada apa?"


Sangat terkejut. Aku benar-benar terkejut saat menyadari bahwa yang datang itu adalah adik Eggy. Siapa lagi kalau bukan Fadhla. Ini benar-benar bermasalah. Masalah besar.


"A-aku tidak tahu, Kak," panikku. Aku syok menyadari itu.


"Kalau sampai bocor kepalanya, kamu harus tanggung jawab," ancam Eggy.


"Ya tapi kan itu juga disuruh sama Kakak tadi. Suruh pukul yang keras."


"Kan aku bilang kalau ada tanda-tanda curiga."


"Itu juga tanda-tanda curiga, Kakak. Kakak berjalan mundur dan menatapku aneh. Aku pikir dia memang orang jahat, pengganggu, perampok gitu deh," jelasku pada Eggy.


"Ya ampun! Aku akan bawa dia. Kamu kunci lagi pintu vilanya. yang bener kuncinya. Tutup rapat-rapat. Jangan sampai ada cela," kata Eggy.


"Iya, Kak. Iya. Aku paham." Aku menyesal melakukan apa yang diucapkannya. Benar-benar membuatku bermasalah. Keparnoan ini membuatku sial. Ah! Brengsek.