The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Bab 14



Malam pun sudah tiba.


Terlihat Eggy yang sedang berolahraga otot dengan barbel di dekat jendela. Aku hanya duduk di ranjang sambil menonton tv. Namun aku tidak berfokus kepada acara yang ada di televisi.


Entah mengapa aku terus senyam-senyum sendiri di kamar. Entah karena rasa bahagia bisa bertemu dan merasakan lagi pelukan hangat dari Raihan setelah sekian lamanya. Atau bahkan aku mulai kembali mencintainya karena dia menungguku dengan sabar. Itu membuatku terharu dan semakin percaya akan cintanya.


"Raihan. Aku masih mencintaimu," gumamku pelan sambil tersenyum bahagia.


"Kenapa senyam-senyum sendiri?" tanya Eggy padaku. Spontan khayalanku kabur seketika. Untung saja Eggy tidak mendengar kata apa pun yang baru saja aku ucapkan.


"Ah, tidak. Hanya saja hari ini aku merasa senang," jawabku.


"Jangan sampai aku memanggil Dokter pribadiku," sahut Eggy yang membuatku tak mengerti dengan maksudnya.


"Maksudmu?" tanyaku kebingungan.


"Tidak bermaksud apa-apa," jawabnya singkat dengan nada yang datar.


"Gak jelas!" umpatku.


Aku terdiam dan berpikir tentang kalimat yang ia sebutkan tadi.


"Kenapa dia ingin memanggil Dokter pribadinya? Apa yang terjadi padaku? Atau dia ingin memanggil Dokter pribadinya karena dia kini kelelahan dengan pekerjaannya dan ingin meminta resep obat kuat dari Dokter pribadinya?" pikirku dalam bathin sambil memperhatikannya yang masih berolahraga barbel.


"Hah? Apa mungkin dia ingin memperkosaku? Karena lelah, jadi dia memang ingin minta resep Dokter agar staminanya bertambah kuat. Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku harus melindungi badanku dari kejahatan tangan nakalnya!" lanjutku dalam batin sambil menutupi badanku dengan kedua tanganku.


"Kau kenapa?" tanya Eggy terheran-heran.


"Jangan berpikiran mesum ya! Aku tahu kau kini sedang kelelahan. Kau berniat memanggil Dokter pribadimu untuk meminta resep obat kuat kan? Ngaku aja!" ujarku ketus sambil menatap sinis padanya.


"Kau bicara apa?" tanya Eggy kebingungan dengan ucapanku.


"Karena kemarin kau tidak berhasil mendapatkanku, sekarang kau ingin melakukannya lagi kan?"


Eggy menatapku dengan tajam dan iapun berhenti berolahraga otot. Ia lekas menyimpan barbel yang ia pegang dan menghapus semua keringat yang ada di wajahnya dengan handuk kecil. Lalu iapun berjalan menghampiriku sambil tersenyum jahat dan mendekatiku.


"Jangan dekat-dekat. Jaga jaraklah!" kataku.


"Kenapa? Kau takut?" tanya Eggy terkekeh.


"Aku tidak takut. Hanya saja keringatmu sangat bau!" jawabku meledeknya.


"Itu namanya keringat perjuangan," sahut Eggy yang semakin mendekatiku.


"Menyingkirlah!" sentakku padanya.


"Aku tahu kalau kamu juga menginginkan hal yang sama. Benarkan?" kata Eggy sambil menaikan daguku ke arahnya.


"Kau sangat berharap. Tapi aku tidak."


"Maaf. Aku juga tidak mengharapkan apapun darimu," sahutnya sambil berjalan pergi menjauhiku.


"Lalu kenapa kau terus mendekatiku?" tanyaku padanya.


"Kau terlalu bodoh!" jawabnya.


"Kau yang bodoh. Dengan mudah aku tahu maksud yang kau pikirkan. Dasar cabul!" kataku mengumpat.


"Maksudku tadi, kau memang sakit karena senyam senyum sendiri seperti itu. Seperti orang gila kan? Jadi ku pikir kau butuh seorang Dokter untuk mengobati senyam senyummu itu," kata Eggy mencemoohku.


Aku malu ketika menyadari apa yang di maksud olehnya.


"Kau menganggapku gila?"


"Kalau begitu ceraikan aku sekarang!" kataku dengan lantang.


Ia berhenti melangkah dan berbalik ke arahku.


"Cerai? Kenapa? Apa karena aku menyebutmu bodoh?"


"Salah satunya. Tapi bukan karena itu saja."


"Lalu?"


"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Kau sudah menjadi Direktur perusahaan Ayahmu. Lalu hubungan ini apa lagi?" ujarku padanya.


"Hutang keluargamu bahkan belum lunas!" ucapnya datar.


"Aku bisa melunasinya," kataku dengan tegas.


"Kita tidak bisa bercerai sekarang!" ujarnya sambil pergi meninggalkanku.


"Tapi aku ingin bercerai sekarang!" teriakku padanya. Namun ia tidak mendengarkanku. "Ish ... Menyebalkan. Eggy sialan!" tambahku sambil memukul bantal yang ada di sampingku.


Setelah di luar kamar.


Terlihat Eggy memikirkan sesuatu yang membuatku mau bercerai. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin bercerai dengannya. Terlihat jelas di wajahnya bahwa ia gelisah ketika ku meminta cerai darinya.


"Kenapa dia ingin segera bercerai? Apa memang karena aku menyebutnya bodoh? Kekanakan sekali dia, hanya karena kata bodoh dia ingin berpisah? Ada apa dengannya? Tadi senyam senyum sendirian dan sekarang malah marah-marah. Apa dia memang sudah gila? Shit. Pikiran yang sangat bodoh!" gumam Eggy terheran-heran sambil berbalik.


Lalu kemudian Eggy kembali berjalan memasuki kamar. Aku menatapnya sangat sinis dan penuh dengan kebencian pada dirinya.


"Kenapa kau kembali?" tanyaku ketus.


"I-ini kamarku." jawabnya singkat. "Seharusnya aku bertanya seperti itu padamu. Bukannya kau!" lanjutnya menyindir.


"Aish ... Aku memang tidak tau malu. Kenapa aku bertanya seperti itu padanya? Jelas ini memang rumahnya. Dasar bodoh!" umpatku dalam bathin.


"Aku mengantuk!" ucapnya sambil berbaring seranjang denganku.


"Bisakah kau tidak tidur seranjang denganku?" tanyaku masih ketus.


"Jangan banyak bicara. Tidur saja. Besok kita akan pergi, aku tidak mau kau terlihat buruk di depan para clienku," jawabnya.


"Tapi aku tidak ingin tidur denganmu. Kenapa kau juga mendadak memberitahuku?" tegasku padanya.


Lalu tanpa berkata apa pun lagi, Eggy menarik tanganku sampai aku terjatuh di badannya. Kami berdua saling bertatapan dan jarak antara kepalaku dengan kepalanya hanya beberapa senti meter lagi. Ini sudah terlalu dekat.


"Diamlah!" ujarnya lembut.


Oh, tidak! Jantungku kenapa? Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar dengan kencang ketika ia berkata dengan lembut seperti itu? Kenapa aku sangat gugup di tatap olehnya dengan jarak dekat seperti ini? Sungguh! Aku mulai terpesona lagi oleh tatapannya yang indah, apalagi jika dia terus bersikap lembut padaku. Mungkin aku takkan sebenci ini.


"Kini kutahu kau mulai menyukaiku," kata Eggy.


Mendengar ia berkata seperti itu, spontan aku menjauhinya.


"Kau salah paham. Aku hanya suka melihat matamu," sahutku spontan. Eggy tersenyum sambil menaikan alis sebelah kirinya. "Sok ganteng! Aku tarik kembali kata-kataku. Aku tidak menyukaimu!" lanjutku dengan tegas.


Lalu segera aku berbaring di ranjang yang sama dengannya. Kemudian aku membelakangi dirinya dan bersembunyi dibalik diselimut.


"Mulai salah tingkah ya?" godanya.


"Berisik!"


Eggy tersenyum melihatku bertingkah seperti itu, ia seperti merasa puas sendiri setelah menggodaku. Aku selalu kalah dengan tatapan dan sikap yang sulit ditebaknya itu, membuatku merasakan perasaan yang aneh saat dengannya.