
"Aku sudah putuskan akan pergi ke Indonesia saja. Tinggal di sana. Tak apa."
"Tidak, Bulan. Kamu tidak boleh ke sana, itu luar negeri. Kamu tidak boleh meninggalkan negeri ini. Kamu harus tetap di sini!"
"Astaga. Mengapa semua ini terjadi sekarang?" Eggy mengacak rambutnya merasa sangat frustasi dengan masalah yang dia hadapi saat ini.
Bulan melepas cincin berlian yang dia kenakan dan memberikannya kepada Eggy. Keadaan tiba-tiba berubah. Membiarkan mereka menyaksikan cincin itu berpindah tangan ke tangan Eggy
Fadhla dan Eggy menatap Bulan dengan intens, tetapi dia berjalan ke arah Fadhla dan lalu berdiri di di sampingnya dengan senyum manis di wajahnya, “Tidak peduli siapa yang akan menikahiku sekarang, aku akan menikah dengannya! Sekali pun itu adalah dengan Fadhla, adikmu. Aku akan menikahinya untuk dekat denganmu, Kak."
Saat ini Bulan berdiri di hadapan mereka dengan bibirnya yang terus menerus tersenyum, sungguh menyedihkan.
"Jika aku menikahi Fadhla, bukankah aku akan kembali dihina keluarga Andalas? Baiklah. Ini suatu keputusan untuk kebaikanku," batin Bulan.
Masing-masing dari mereka memiliki pemikiran yang berbeda. Namun, di antara mereka juga ingin melindungi Bulan dari isu apa pun, tetapi keputusan Bulan ditampik oleh Eggy. Suami dia sendiri.
Eggy tahu jelas apa yang dipikirkan oleh Bulan, tetapi dia tidak tahu apakah keputusan yang sudah di buat Eggy untuk tinggal di Indonesia itu adalah solusi yang baik atau buruk? Fadhla pun sebenarnya memikirkan hal yang sama.
Tiba-tiba Eggy berkata, “Kalau begitu, kita bilang ke publik bahwa kita sudah rujuk kembali!”
"Lalu bagaimana dengan Adelia?" tanya Bulan.
"Terserah dia mau melakukan apa," jawab Eggy.
"Bagaimana dengan perusahaanmu? Perusahaanmu tak akan tertolong jika kamu gagal menikahi Adelia. Janganlah egois, Kak," kata Bulan mengingatkan.
"Justru jika aku melepaskanmu, akulah yang egois di sini, Bulan," jelas Eggy.
"Kalau begitu, bagaimana jika berpura-pura saja? Sama seperti yang aku ucapkan sebelumnya. Kita berpura-pura menikah dan kamu berpura-pura menjadi istriku," usul Fadhla kembali.
"Memang tidak ada pilihan lain. Aku memilih untuk menjadi istri palsu Fadhla, dibanding harus jauh darimu lagi. Sudah cukup pernikahan singkat kita seperti kejadian waktu lalu kamu meninggalkanku. Sekarang jangan lagi, Kak," ujar Bulan mulai mengingat akan masa itu.
Sontak Eggy terkejut mendengar pengakuan dari Bulan. Ini mengingatkan Eggy akan masa lalu dan hal baik mengenai menori-memori milik Bulan yang sudah lama telah hilang.
"Apakah kamu meningatnya Bulan?" tanya Eggy memastikan.
"Mengingat apa?" tanya Bulan kebingungan.
"Mengenai pernikahan kita pada masa lalu, di saat aku meninggalkanmu untuk urusan pekerjaan dan kembali setelah beberapa tahun kemudian," jawab Eggy.
"Entah mengapa sepettinya aku mengingat itu, Kak. Cuma memang samar-samar saja," sahut Bulan.
"Aku senang mendengarnya, Bulan. Akhirnya kamu bisa ingat. Aku berharap kamu mengingat semuanya, Bulan."
"Lalu bagaimana jika aku memang mengingatnya?" tanya Bulan.
"Sayang sekali kehidupan kita akan berbeda, Kak."
"Semua ini salahku."
"Jadi kalian mau bagaimana? Jangan bernostalgia dulu. Hal itu bisa nanti kalian bicarakan dengan berdua."
"Untuk malam ini, aku akan menginap dan tidur bersama Bulan," kata Eggy.
"Apa kamu gila? Besok pernikahanmu dan kamu akan di sini?" tanya Fadhla terheran-heran.
"Bukan masalah. Hari ini ulang tahunku. Aku ingin bersama istriku dan ingin di temani olehnya. Hanya dia," jawab Eggy.
"Gila! Ini sumpah, ya. Bener-bener gila, tahu gak? Besok kamu nikah, dan sebelum nikah kamu ... sumpah! Aku takut ada orang yang tahu," kata Fadhla menjelaskan.
"Jangan khawatir. Aku ingin bermalam dengannya. Jangan melarangku!" kata Eggy.
"Jadi solusi ini bagaimana, hah? Percakapan kita jangan muter-muter terus lah. Yang serius kenapa? Jawab aku dengan benar. Solusi ini bagaimana?" tanya Fadhla sekali lagi.
"Oke. Bulan akan berpura-pura menikah besok. Kamu harus berpura-pura menikah ketika aku menikah dengan Adelia. Kita akan melaksanakan pernikahan secara bersamaan pada besok nanti," kata Eggy.
"Apa? besok?" Bulan terkejut.
"Suatu kegilaan datang kembali padamu Eggy. Ada apa denganmu sih?" Fadhla pun mulai ikut frustasi.
"Intinya besok kalian berdua harus sama-sama menikah bersamaku. Kita menikah bersama-sama. Mami pun sepertinya tidak akan berkutik karena dia sangat menjaga etika dan sikap dia di depan semua orang. Ini momen yang sangat bagus dan sangat pas untuk merencanakan ini," jelas Eggy.
"Oke deh. Aku setuju dengan hal ini."
"Aku juga ikut bagaimana keputusan suamiku saja. Ridhoku ada padanya," pasrah Bulan dengan kehidupannya. Dia benar-benar menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Eggy.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*