
Langkah demi langkah telah aku lewati. Aku sudah cukup berjalan jauh dengan membawa banyak barang di tangan kanan dan tangan kiriku. Akupun mulai pegal dan capek terus berjalan mengikutinya.
"Di mana rumahnya?" tanyaku lemas.
"Sebentar lagi!" jawab Eggy. Ia tersenyum sendiri ketika kubertanya seperti itu padanya.
"Apakah mobilmu tidak bisa masuk ke kompleks ini ya?" tanyaku lagi.
"Sebenarnya bisa," jawab Eggy. "Hanya saja aku ingin sedikit berolah raga," lanjut Eggy terkekeh.
"Apa?" tanyaku mulai marah dan aku pun menjatuhkan semua barang yang kupegang sedari tadi. "Olah raga katamu? Apa kau tidak menyadari aku memakai sepatu hak tinggi? Memakai dress mini dengan membawa banyak barang-barangmu?" tambahku semakin marah.
Eggy berbalik ke arahku.
"Kau sengaja ingin menyiksaku kan? Ingin membuatku terluka secara fisik?" tanyaku sambil mata berkaca-kaca.
Eggy berjalan mendekatiku.
"Jangan dekati aku! Dari awal aku memang bodoh. Kau selalu berhasil membuatku merasa bodoh di hadapanmu. Apa itu belum cukup bagimu? Hah?" air mataku pecah dan tak bisa ku tahan tangisan ini. Aku benar-benar merasa kecewa dan merasa dipermainkan olehnya.
Eggy menghampiriku lebih dekat lagi, ia tak menghiraukan perkataanku. Lalu ia pun menjatuhkan barang-barang yang ada di kedua tangannya.
Kemudian tangannya menggapai pipiku yang sudah kubahasi dengan tangisanku, ia pun lekas menghapusnya dengan jemarinya.
"Maafkan aku!" ungkapnya dengan lembut.
Lalu tiba-tiba ia pun mencium bibirku tanpa ijin, tanpa bertanya, dan tanpa aba-aba apa pun sebelumnya. Disitu aku benar-benar terkejut. Aku berciuman di depan umum yang ada banyak orang di sana. Entah mereka memperhatikanku atau tidak, aku pun sudah tidak memerdulikan hal itu lagi.
"Perasaanku ...."
Dengan ikhlas aku menikmati ciumannya. Hangat, lembut, penuh perasaan dan menurutku ciuman itu bukan semacam ciuman nafsu. Melainkan sebuah ciuman yang menenangkan hati dan penuh dengan perasaan sayang. Rasanya sungguh aneh! Perasaan ini bercampur aduk dalam seketika.
30 detik setelah berciuman, ciuman itu pun berakhir. Eggy mulai berlutut dihadapanku. Aku pun tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Apakah ia akan melamarku saat ini? Di sini? Di depan umum?
"Kenapa? Ada apa?"
"Apakah kakimu lecet?" tanya Eggy sambil memeriksa tumitku. Membuat yang kupikirkan tentangnya buyar.
Tentunya ia masih mengingat akan perjanjian itu, dan yang dilakukannya untuk berlutut adalah hanya memeriksa kakiku saja. Apa itu hal membuatnya benar-benar menyesal? Atau hanya berpura-pura?
"Sedikit," jawabku singkat.
Tanpa berkata apa pun, Eggy membalikkan badannya dan mulai membungkuk.
"Naiklah ke punggungku!" katanya.
"Apa?" tanyaku refleks.
"Naiklah! Cepat!" jawabnya tegas.
"Aku akan dibopong olehnya," pikirku.
"Ah, iya," jawabku sambil perlahan-lahan mulai naik punggungnya. Aku ragu untuk menaikinya, tetapi kupikir ini adalah sebuah pembalasan yang setimpal.
"Bawakan saja barang-barangnya. Aku akan menggendongmu sampai rumah nenek!" sahutnya.
"Baiklah."
Aku hanya menurut dengan apa yang telah di katakannya. Kujelaskan bahwa punggungnya sangat lebar, lengannya pun berotot, sepertinya ia akan memegangku dengan kuat. Sampai aku pun tidak merasa takut akan jatuh, aku bahkan bisa memeluknya sangat erat dari arah belakang.
"Terima kasih!" ucapku.
"Hmm ...." Eggy hanya berdehem saja menjawabku. Sekilas aku sangat merasa kesal dengan jawabannya. Yang aku harapkan ia menjawab dengan beberapa kata. Namun nyatanya tidak.
Perasaanku kini mulai melemah ketika ia memperlihatkan sikap yang lembut terhadapku. Walau pun kata-katanya sering membuatku kesal, namun jika dibandingkan dengan sikapnya yang seperti itu, tak masalah bagiku. Karena itu termasuk sebuah keseimbangan antara sikap dan sifatnya.
"Apa aku berat?" tanyaku dengan mempertanyakan hal konyol padanya.
"Kamu pasti tahu jawabannya," sahutnya. Membuatku berpikir keras dengan apa yang dimaksudkannya padaku.
"Maafkan aku, Kak."
"Jangan panggil itu lagi!" ketus Eggy.
Gila! Aku hampir saja lupa bahwa ia memang tidak menyukai panggilan itu. Aku pun diam kembali dan tak bertanya apa pun lagi, bukan karena merasa sebal atas jawaban berikutnya yang akan di lontarkan padaku. Tetapi aku takut diturunkan dari gendongannya.
Sepanjang perjalanan aku digendongnya, entah mengapa disepanjang perjalanan aku tersenyum sendiri dengan kenyataan yang sedang ku alami ini. Kuharap ini akan berlangsung terus sampai ke depannya dan kemungkinan untuk berceraipun akan aku pikirkan kembali. Hal itu membuatku melupakan masalah antara hubunganku dengan Raihan.
"Apa kamu lelah?" tanyaku mulai khawatir.
"Turunlah!" perintahnya yang begitu saja menghiraukan pertanyaanku. Hal itu memang sudah biasa bagiku. Telinganya berubah 180° derajat tak peka ketika sebuah pertanyaan terngiang ditelinganya.
"Baik."
Tak terasa akhirnya aku pun sampai di halaman rumah neneknya. Aku tidak tahu bahwa saat ia menawarkan sebuah bantuan untuk menggendongku, jarak dari sana kesini cukup dekat. Hanya beberapa meter saja. Kupikir jaraknya masih jauh dan ternyata ada di depan mataku. Tertipu!
"Di sini?" tanyaku heran yang sudah turun dari punggungnya.
"Yup!" jawabnya singkat sambil mengambil barang-barang yang ada di tanganku. Lalu ia pun masuk ke dalam.
"Benar-benar di sini?" tanyaku sekali lagi untuk memastikannya.
"Bawel!" sahutnya.
"Jika sedekat ini, aku tak perlu menangis di hadapannya dan berciuman di depan umum. Lalu aku juga tak perlu digendongnya," pikirku merasa bodoh sendiri.
"Kenapa kamu diam? Ayo masuk!" kata Eggy.
Aku kembali memasang raut wajah yang masam dihadapannya dan dengan terpaksa, lagi-lagi aku harus menuruti apa yang diperintahkannya. Dia memang pandai untuk menipu seorang wanita. Romantis yang menyebalkan!
"Dasar bodoh!" gumamku kesal.