
Keesokan harinya, aku mulai terbangun dari tidurku. Mataku terbuka dan terkejut ketika melihat ada sosok Fadhla di sampingku.
"Ya ampun!" kejutku seraya terbangun dan duduk.
"Selamat pagi!" sapanya.
"Se-selamat pagi juga," sahutku merasa canggung.
"Kemarin kamu sangat ahli ya, dalam memukul seseorang. Sampai pingsan pula. Aku yakin gak akan ada maling yang bisa lolos dari kamu," kata Fadhla padaku. Maksudnya apa coba, dia berkata seperti itu padaku? Mau menyindir, dendam, atau apa?
"Haha. Kamu bisa saja," sahutku terkekeh. "Maaf ya soal kemarin. A-aku ... be-nar-benar tidak sengaja," lanjutku.
"Oke. Tak masalah. Hanya saja, aku masih merasa anu," sahutnya. Jujur saja, aku jadi merasa canggung jika bertemu dengannya. Untuk berbicara pun, kini aku mulai merasa canggung.
Tak lama kemudian Eggy datang menghampiri dan memukul pelan kepala Fadhla.
"Jangan bicara sembarangan!" ucap Eggy.
"Nah, itu."
"Sembarangan apa?" tanya Fadhla berpura-pura.
"Sarapan dulu sana," perintah Eggy mengabaikan pertanyaan dari Fadhla.
"Temenin!" pintanya.
"Jangan manja! Sana pergi!" Eggy benar-benar mengusir Fadhla dari kamar ini.
"Oke deh. Oke. Setelah itu kita bicara, ya."
"Hmm."
Fadhla pun pergi keluar dari kamar untuk segera sarapan pagi. Lalu Eggy duduk di ranjang dan kami saling berhadapan satu sama lain.
"Jangan sedih. Jangan terlalu dipikirkan apa yang dikatakan oleh Fadhla. Dia sedang bercanda. Mungkin dia masih kesal karena kepalanya masih sakit," jelas Eggy.
"Ini salahku, Kak. Aku benar-benar bodoh karena melakukan hal itu."
"Bukan salahmu. Ini salahku. Aku yang menyuruhmu. Jadi yasudahlah, jangan dibahas lagi masalah itu. Kamu hanya perlu fokus pada dirimu sendiri dan perasaanmu saat ini," kata Eggy. Aku hanya mampu terdiam untuk hal itu.
"Proses ini tidak akan terasa, Kak."
"Tidak terasa dalam hal?"
"Waktu."
"Yang penting masih bisa dirasakan."
"Kan sudah bilang tidak akan terasa. Masa masih bisa dirasakan. Aneh!"
"Cepetan ke toilet dulu. Cuci mukanya, banyak iler sama belek tuh. Jorok!" sindir Eggy.
Sontak aku langsung membersihkan mataku.
"Iya, iya. Gak ada belek juga. Pembohong."
Eggy hanya terkekeh mendengarku berkata seperti itu.
*****
Aku sudah berkumpul di ruang tengah bersama Eggy dan Fadhla. Kami bertiga saling berhadapan satu sama lain. Sejenak kami hanya diam-diam saja, tanpa berbicara. Entah apa yang akan Fadhla bicarakan, dia terlihat bingung. Lalu aku pun mulai membuka percakapan di antara kami.
"Jadi, a-pa yang akan kamu sampaikan, Fadhla?" tanyaku langsung pada intinya.
"Ini masalah kalian," jawabnya singkat.
"Kenapa?" tanya Eggy.
"Apa kalian akan bercerai? Lalu mengapa kalian malah berlibur tanpa memberitahu siapa-siapa?" tanya Fadhla.
Yup. Dugaanku memang benar. Sudah aku bilang bahwa ini adalah masalah perceraian antara aku dan Eggy.
"Jika untuk sementara tidak akan cerai, bagaimana?" tanyaku.
"Kamu harus tetap bercerai," jawab Fadhla.
Aku menatap ke arah Eggy.
"Aku sudah ada rencana sih," sahut Eggy.
"Rencana apa?"
"Aku pernah membahas ini dengan Bulan."
"Apa? Palsu? Maksudnya?" kejut Fadhla.
"Jadi, aku dan Bulan akan tetap bertahan dengan pernikahan ini. Lalu kita akan memberitahu keluarga kita dan partner kita bahwa kita sudah bercerai. Dalam artian, kita harus drama di depan mereka," jelas Eggy.
"Gila! Ini gila, Eggy. Kalau ketahuan gimana?" tanya Fadhla cemas.
"Kita gak akan ketahuan."
"Kamu harus menikah dengan anak pengusaha itu," kata Fadhla.
Seketika mendengar kalimat itu, hatiku hancur.
"Tidak apa-apa. Biar Kak Eggy menikahinya."
"Apa? Kalian berdua gila ya?" kejut Fadhla melototkan kedua matanya.
"Bagaimana lagi?" tanyaku kebingungan.
"Kamu mau Eggy poligami? Hanya demi menyelamatkan perusahaan?" tanya Fadhla padaku. Terdengar seperti pertanyaan sepele, tetapi jawaban yang akan aku berikan, terasa sangat berat.
Tidak apa-apa. Toh, aku masih belum merasakan hal spesial kepada Kakak. Masih merasa tertarik saja," jawabku.
Eggy langsung menatapku dan terlihat dari raut wajahnya, dia sangat kecewa mendengar jawaban dariku.
"Ya Tuhan! Kalian ini kenapa?" tanya Fadhla kebingungan.
"Ini rahasia kita bertiga," kata Eggy.
"Jadi, kamu akan menikahinya sebagai istri kedua?" tanya Fadhla.
"Yup," jawab Eggy dengan singkat.
"Lalu kamu rela dipoligami, Bulan?" tanya Fadhla.
Sejenak aku terdiam. Aku tidak tahu akan rela atau tidaknya. Namun untuk saat ini, aku tidak begitu keberatan dengan hal ini.
"Tidak masalah. Lakukan saja," sahutku.
"Kamu harus menikah juga dengan Fadhla," kata Eggy.
"Apa?" tanyaku terkejut.
"Shit!" sambung Fadhla.
"Mungkin Mami tidak akan menyetujui ini. Aku tahu sifatnya bagaimana. Namun, kurasa itu lebih baik."
"Citraku akan semakin hancur, Kak. Nanti aku disangka wanita tidak benar. Selain skandal kemarin, lalu sekarang bercerai dan menikah dengan adik ipar, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang?" jelasku.
"Jangan pedulikan apa kata orang-orang."
"Tunggu, Eggy. Ini ... ini bener-bener ide yang sangat gila. Ka-lian ... kalian ini gimana sih? Aku bener-bener gak paham, sumpah!" Fadhla menggelengkan kepalanya.
"Jika harus diceritakan, masalah ini sangat panjang dan rumit. Kamu tidak akan pernah mengerti," jelas Eggy.
"Lalu liburan ini untuk apa? Agar semua orang tahu bahwa rumah tangga kalian sedang harmonis, di tengah-tengah gosip skandal dan masalah perusahaan? Begitu?" tanya Fadhla.
"Apa sih? Kenapa skandal selalu dibawa-bawa?" tanya Eggy.
"Karena berita itu masih hangat terdengar," jawab Fadhla.
"Ya jalanin aja sih. Gak usah ribet," sahutnya.
"Kalian berdua ini kenapa sih? Pagi-pagi malah ribut gak jelas. Kita kan mau cari solusi."
"Solusinya ya itu. Kamu rela aku menikah dengan wanita si anak bos itu, atau kamu bercerai denganku," kata Eggy.
"Bagaimana ya? Mungkin jika Kakak menikah dengan orang lain, aku akan menyadari sesuatu. Jika sampai Kakak menikah dengan wanita itu, aku masih biasa-biasa saja, mungkin aku akan minta cerai dengan serius. Bukan bohongan," ucapku pada Eggy.
"See? Kamu lihat apa hmyang dikatakan oleh Bulan? Mending cerai sekalian aja," sahut Fadhla.
"Lalu jika aku dan Bulan sudah bercerai resmi, kamu akan segera menikahinya?"
"Tentu saja," jawab Fadhla. "Jika dia mau," tambah Fadhla memalingkan pandangannya.
"Apa kamu mau menikah dengan Fadhla?" tanya Eggy padaku.
"Apa sih? Sudah aku bilang, aku bukan barang yang mudah dipindah-pindahkan begitu saja kepada seseorang. Aku tidak ingin seenaknya menikah. Ini pun aku terpaksa."
Eggy menghela napasnya. "Oke. Aku akan tanya serius padamu. Kamu ingin benar-benar bercerai dan bebas dariku, lalu aku akan menikahi wanita itu. Atau kamu ingin berpura2 bercerai, rela dipoligami sementara dan aku akan kembali padamu."
Mendengar pilihan itu, aku langsung terdiam. Seperti yang aku katakan, pertanyaan ini terdengar mudah untuk dijawab. Namun nyatanya sangat sulit dan berat. Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, terkadang aku merasa rela dan ikhlas jika dia menikah lagi. Itu bukan urusanku, dan seharusnya aku bersyukur jika dia menikah dengan orang lain. Itu tandanya, dia bisa cepat berpaling dariku. Namun di sisi lain, aku merasa berat juga jika melepaskannya. Seperti ada sesuatu yang menjanggal dalam benakku, tetapi tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.