
Ini adalah suatu keputusan yang berat dan membingungkan. Mungkin keputusan yang mereka ambil ini bisa dibilang jahat terhadap Bulan. Tapi yang bisa Bulan lakukan adalah hanya diam saja. Sementara Eggy, mungkin dia akan menjalani kehidupan yang normal bersama Adelia. Perasaan Bulan semakin takut. Biarlah Bulan berkorban akan perasaannya. Dia tidak berkorban sendirian.
"Selepas ini kita akan ke mana?" tanya Fadhla.
"Aku mau pulang saja. Mau istirahat," jawab Bulan.
"Kamu yakin?"
"Ya."
"Baiklah."
Fadhla pun memutar balik arah jalannya. Tak lama kemudian, telepon Fadhla berdering. Lalu dia menyuruh Bulan untuk mengangkat telepon tersebut.
"Tolong angkatkan, ya!"
"Baiklah."
Bulan mengambil telepon Fadhla. Namun sebelum dia mengangkat telepon, dia sempat melihat nama kontak yang meneleponnya. Di sana tertera nama Mami. Bulan pun mengurungkan niatnya untuk menjawab telepon itu. Dia pun memberikan telepon tersebut kepada Fadhla. Dalam batinnya dia mengetahui akan sesuatu, dia merasa bahwa
"Ini mamimu."
"Astaga!"
Fadhla pun terkejut mendengar yang menelepon itu adalah maminya.
"Jangan diangkat. Biarin aja," jawab Fadhla sambil fokus ke jalan.
Bulan pun menyimpan telepon Fadhla di sampingnya. Telepon itu pun bedakhir, tetapi tak lama kemudian telepon Fadhla berbunyi lagi. Rupanya maminya masih menelepon.
"Mamimu telepon lagi. Sebaiknya kamu angkat saja," ucap Bulan.
"Baiklah."
"Kamu menepi saja dulu," ucap Bulan.
"Oke."
Fadhla pun menepikan mobilnya. Kemudian dia langsung menjawab telepon dari maminya.
"Halo, Mi."
"Kamu di mana? Pulang sekarang juga!" ucap Maminya dengan nada tinggi.
"Mau pulang ini juga, Mi," sahutnya.
"Mami tunggu!"
"Taoi aku akan pulang ke rumah Bulan. Bukan ke rumah Mami," jelas Fadhla.
"Apa? Jangan ke sana. Kamu harus kembali ke sini! Kamu ngapain nikah sama dia? Ceraikan! Kamu hanya nikah agama. Gampang untuk ceraikan dia. Bilang saja talak ke dia," kata Maminya bersi kukuh.
"Baiklah. Silakan. Aku tunggu."
Fadhla tersenyum. Bulan pun membalasnya. Kini Bulan sudah tahu dan benar-benar yakin akan pemikirannya bahwa memang benar mungkin Maminya akan memarahi dia karena sudah menikahinya. Bulan hanya dapat melihat perbincangan mereka lewat kaca jendela mobil, tanpa tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Tidak, Mi. Apa sih maksud mami tuh?"
"Kamu yang kenapa? Kenapa menikahi dia, hah? Dia menikahi kakakmu itu hanya karena harta. Rupanya dia sekarang sudah berhasil merenggut rumah mewah yang sudah menjadi rumahnya itu. Itu rumah yang diberikan oleh neneknya kepada Eggy. Namun dia berikan kepada wanita ******* itu," kata Maminya.
"cukup, mi! Cukup! Jangan sebut Bulan seperti itu. Dia istriku. Istri sahku. Aku gak peduli dia mau mantan istri dari Eggy atau mau menguras hartaku, aku gak peduli, Mi. Yang aku pedulikan adalah ada benih yang ada di perut Bulan," jelas Fadhla.
"Apa? Benih? Apa maksudmu?" maminya terkejut mendengar pengakuan darinya.
"Bulan hamil."
"Dasar *******! Hamil oleh siapa, hah?"
"Jika dia menikah denganku, otomatis dia anak siapa, Mi? Mami tahu sendiri aku sering pergi ke rumah Bulan."
"Siallan. Wanita murahan. Pintar sekali dia membodohi dan memperdaya kamu. Keluarga Andalas semakin kacau. Jangan-jangan perusahaan kita kacxau karena adanya dia," katanya.
"Apa sih mami tuh? Jangan salahkan Bulan. Sekarang dia mengandung anakku, sekaligus cucumu. Jika mami menghina dia, berarti mami menghinaku dan menghina cucu mami sendiri," kata Fadhla dengan tegas.
"Fadhla! Kamu berani menantang mami?" Maminya mulai emosi dan meluapkan amarahnya.
"Terserah apa kata mami. Yang penting Bulan sudah menjadi istriku dan dia adalah ibu dari anakku. Aku akan segera mengesahkan pernikahan ini secara hulum negara," kata Fadhla.
"Jika kamu melakukannya, kamu bukanlah anak mami lagi, Fadhla. Kamu akan mami asingkan," ancamnya.
"Baiklah, Mi. Aku menerimanya."
"Fadhla! Kamu benar-benar, ya!"
"Aku akan ke rumah Bulan. Dia sudah lelah. Aku akan menemaninya mulai hari ini, esok, lusa dan seterusnya," kata Fadhla. Kemudian dia pun menutup teleponnya secara sepihak. Hal itu membuat maminya semakin marah dan murka kepada Fadhla. Fadhla memang tidak main-main dengan ucapannya itu.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*